Moskow (ANTARA) - Pemerintah Rusia menyatakan sangat khawatir atas laporan yang menyebut Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, telah dipindahkan secara paksa dari Venezuela.
Rusia mendesak otoritas Amerika Serikat (AS) untuk segera memberikan klarifikasi terkait laporan tersebut, demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Rusia, Sabtu (3/1).
“Kami sangat prihatin dengan laporan bahwa Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya dipaksa keluar dari negara itu selama aksi agresif Amerika Serikat hari ini. Kami menyerukan klarifikasi segera atas situasi ini,” ujar kementerian tersebut.
Kemenlu Rusia menambahkan bahwa apabila Maduro dan istrinya benar-benar dipindahkan keluar dari Venezuela, tindakan itu merupakan pelanggaran yang tidak dapat diterima terhadap kedaulatan negara tersebut.
“Tindakan semacam itu, jika benar terjadi, merupakan pelanggaran yang tidak dapat diterima terhadap kedaulatan negara merdeka, yang penghormatannya merupakan prinsip fundamental hukum internasional,” lanjut pernyataan tersebut.
Baca juga: Trump berang kediaman Putin diserang di tengah perundingan perdamaian
Sebagaimana diwartakan pada Sabtu, sejumlah ledakan dilaporkan terdengar di Caracas, ibu kota Venezuela.
Baca juga: Zelenskyy meminta Trump jamin keamanan Ukraina hingga 50 tahun
Warga setempat menyatakan mendengar suara ledakan di berbagai distrik kota, termasuk di Bandara Internasional Simon Bolivar di Maiquetia serta Pelabuhan La Guaira.
Presiden AS Donald Trump kemudian menyatakan bahwa Amerika Serikat telah berhasil melancarkan serangan skala besar terhadap Venezuela. Ia juga mengeklaim bahwa Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya telah ditangkap dan dikeluarkan dari negara tersebut.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti
Pewarta : Primayanti
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026