Teheran (ANTARA) - Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengatakan sikap pedagang yang mengeluhkan gejolak rial adalah sah, tetapi memperingatkan adanya "tangan musuh" di balik fluktuasi nilai tukar mata uang Iran itu.
Dalam pidatonya di Teheran pada Sabtu (3/1), Khamenei menyebut pedagang dan pemilik toko sebagai salah satu "kelompok paling loyal terhadap sistem Islam" di Iran. Aksi protes baru-baru ini sebagian besar dipimpin para pedagang, kata dia, seraya menambahkan bahwa kekhawatiran mereka terhadap fluktuasi nilai rial beralasan.
"Ketika seorang pedagang pasar melihat kondisi keuangan negara, menurunnya nilai mata uang nasional, dan ketidakstabilan harga valuta asing dan domestik yang membuat iklim usaha tidak stabil, ia berkata 'saya tidak bisa berbisnis.' Ia berkata jujur," kata Khamenei.
Ia menekankan bahwa para pejabat tengah "berupaya memperbaiki masalah itu," tetapi ia juga menegaskan ada "tangan musuh" di balik situasi saat ini.
Khamenei menilai lonjakan dan kenaikan harga valas yang tak terkendali sebagai sesuatu yang "tidak wajar."
"Ini adalah ulah musuh. Tentu saja hal ini harus dihentikan. Dengan berbagai langkah, baik presiden, pimpinan cabang-cabang kekuasaan lainnya, maupun para pejabat lain, sedang berupaya memperbaiki keadaan. Karena itu, protes para pedagang tentang masalah ini adalah sah," katanya.
Baca juga: Iran memutuskan hadir di acara drawing Piala Dunia 2026
Namun, Khamenei memperingatkan bahwa "sekelompok agen bayaran musuh yang terprovokasi" berdiri di belakang para pedagang dan meneriakkan slogan-slogan yang menentang pemerintah. Ia menegaskan bahwa protes tersebut bisa dibenarkan, tetapi kerusuhan tidak. Para pejabat harus berdialog dengan pengunjuk rasa, bukan dengan perusuh, katanya.
Pemimpin Iran tersebut mengatakan pihak-pihak yang ingin menciptakan keresahan telah "mengeksploitasi protes para pedagang dan menciptakan kerusuhan." Ia menyebut tindakan itu "tidak bisa diterima."
"Kita harus mengenali tindakan musuh. Musuh tidak tinggal diam dan memanfaatkan setiap kesempatan. Di sini, mereka melihat peluang dan ingin mengambil keuntungan," katanya.
Baca juga: Indonesia menegaskan komitmen perkuat kemitraan positif Indonesia--Iran
Iran diguncang gelombang protes dalam beberapa pekan terakhir di tengah memburuknya kondisi ekonomi dan anjloknya nilai tukar rial, yang telah menembus 1.350.000 per dolar AS.
Sejumlah insiden kekerasan dilaporkan telah menewaskan pengunjuk rasa dan polisi di berbagai kota. Pemerintah Iran telah menggelar beberapa pembicaraan dengan perwakilan pedagang untuk meredakan situasi yang memburuk, terutama di ibu kota Teheran.
Pada Jumat, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa Amerika Serikat akan "datang menyelamatkan" pengunjuk rasa jika Iran menggunakan kekuatan mematikan terhadap mereka. Pernyataan itu memicu reaksi keras dari para petinggi Iran.
Sumber: Anadolu