Ini penyebab petir sering menyambar di Sumbawa

id badai petir,sambaran petir,kabupaten sumbawa,nusa tenggara barat,bahaya petir,stasiun geofisika mataram

Ini penyebab petir sering menyambar di Sumbawa

Kepala Stasiun Geofisika Mataram Sumawan memaparkan data sambaran petir yang tercatat melalui sistem komputer di Mataram, Nusa Tenggara Barat, Senin (19/1/2026). ANTARA/Sugiharto Purnama

Mataram (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan kondisi atmosfer yang bersifat dinamis mulai dari perlambatan angin hingga topografi menjadi faktor penyebab petir sering menyambar di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Kepala Stasiun Geofisika Mataram Sumawan mengatakan embusan angin yang mengalami perlambatan menyebabkan awan terakumulasi menjadi kumulonimbus.

"Faktor penyebab petir adalah kumulonimbus. Awan ini sangat dipengaruhi oleh angin," ujarnya di Mataram, Senin.

Pada 2022 hingga 2025, BMKG mencatat Kabupaten Sumbawa selalu menduduki peringkat pertama di Nusa Tenggara Barat sebagai daerah yang paling sering tersambar petir. Jenis petir yang dominan adalah petir dari awan ke tanah atau cloud to ground (CG).

Data BMKG menyebut total sambaran petir di seluruh wilayah NTB terjadi 1,01 juta kali pada 2022. Jumlah sambaran petir yang terjadi di Kabupaten Sumbawa saat itu 373.559 kali.

Baca juga: Angin kencang disertai hujan dan petir rusak puluhan rumah di Sumbawa Barat

Pada 2023, total sambaran petir di NTB tercatat 1,08 juta kali dengan Sumbawa menjadi daerah penyumbang sambaran petir terbanyak mencapai 517.442 kali.

Total jumlah sambaran petir meningkat signifikan menjadi 2,63 juta kali pada 2024. Daerah penyumbang sambaran petir paling tinggi masih Kabupaten Sumbawa dengan angka sambaran petir mencapai 1,64 juta kali.

Pada 2025, BMKG mencatat total sambaran petir di NTB 1,15 juta kali dan Kabupaten Sumbawa menyumbang 705.145 kali sambaran petir.

"Berdasarkan pendataan yang kami lakukan di tahun 2025, wilayah Kabupaten Sumbawa dengan aktivitas petir tertinggi adalah Utan, Labuan Badas, dan Moyo Hilir," kata Sumawan.

Baca juga: Lebih dari 1 juta sambaran petir di NTB selama 2025

Ia menjelaskan NTB dipengaruhi oleh dinamika cuaca di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang sering mengalami aktivitas siklonik akibat pengaruh dinamika cuaca dari Australia.

Aktivitas siklon tropis yang sering terjadi di NTT, aliran angin cenderung melambat di wilayah NTB. Kondisi perlambatan angin tersebut menyebabkan awan-awan konvektif terakumulasi lebih lama di satu wilayah, sehingga meningkatkan potensi pembentukan awan kumulonimbus yang memicu sambaran petir.

"Sambaran petir paling banyak terjadi pada periode Januari, Februari, dan Maret," ucap dia.

Baca juga: Isyarat alam dari bumi dan langit

Selain faktor dinamika atmosfer, BMKG menganalisa faktor topografi juga turut memengaruhi tingginya intensitas sambaran petir di Kabupaten Sumbawa.

Wilayah perbukitan dan pegunungan memiliki perbedaan ketinggian yang memicu perbedaan suhu, sehingga mendukung proses termodinamika yang menyebabkan awan lebih mudah terbentuk dan terakumulasi.

BMKG mengimbau masyarakat untuk selalu meningkatkan kewaspadaan terhadap cuaca ekstrem yang umum terjadi saat pancaroba atau peralihan musim. Cuaca ekstrem tidak hanya membawa hujan lebat dan angin kencang, tetapi juga dapat disertai sambaran petir.

Baca juga: Peringatan BMKG, Kota Mataram diperkirakan hujan disertai petir
Baca juga: Peringatan BMKG, hujan dan angin kencang disertai petir di NTB

Pewarta :
Editor: Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.