Penularan TBC ke anak bisa dicegah dengan membatasi kontak

id TBC,tuberkulosis,cegah tbc,cegah tbc anak

Penularan TBC ke anak bisa dicegah dengan membatasi kontak

Arsip foto - Petugas Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) menyuntikkan vaksin campak rubella pada anak bawah lima tahun (balita) saat berlangsung bulan imunisasi anak di Posyandu Kuta Alam, Banda Aceh, Aceh, Selasa (5/8/2025). Kegiatan bulan imunisasi pada Agustus 2025 disertai pemberian vitamin A pada anak itu memberikan vaksin Bacillus Calmette-Guerin (BCG) dan vaksin Pneumococcal Conjugate Vaccine (PCV) bertujuan untuk mencegah penyakit tuberkulosis (TB) dan pencegahan infeksi bakteri dan virus yang dapat menganggu pertumbuhan anak. (ANTARA FOTO/Ampelsa/bar)

Jakarta (ANTARA) - Dokter spesialis anak subspesialis respirologi Dr. dr. Nastiti Kaswandani Sp.A, Subsp.Resp, menyampaikan pencegahan yang bisa dilakukan dalam penularan tuberkulosis (TBC) terutama pada anak.

"Kalau misalnya anak itu anak sehat, kemudian ada orang dewasa sekitar yang sakit TBC, maka mencegah penularan itu dengan menghindari kontak yang erat,” kata Nastiti kepada ANTARA di Jakarta, Senin.

Dokter dari RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo itu menegaskan penularan TBC bisa terjadi pada masa infeksius, yaitu ketika pasien belum berobat sampai dua minggu masa pengobatan. TBC disebabkan oleh infeksi kuman Mycobacterium tuberculosis.

Selain membatasi kontak dekat, pencegahan penularan TBC kepada anak juga bisa dilakukan dengan menggunakan masker agar kuman tidak menyebar melalui droplet saat berbicara, batuk, maupun bersin.

Pencegahan juga bisa dilakukan memenuhi gizi, memberikan vaksin TBC antara lain dengan vaksin BCG tidak lama setelah anak lahir.

Baca juga: Jangan abaikan keluhan batuk berkepanjangan

"Kemudian kalau dia memang anak balita, kemudian ada pasien TBC yang infeksius, maka anak tersebut direkomendasikan untuk mendapat terapi pencegahan," tutur Nastiti.

Dokter yang tergabung Anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) itu mengatakan langkah pencegahan tersebut juga sudah menjadi program nasional, program internasional, bahwa untuk mencegah penularan atau mencegah tertularnya TBC, maka anak yang ada kontak dengan pasien TBC dewasa yang menular, harus mendapatkan terapi atau minum obat pencegahan.

Baca juga: Lapas Lombok Barat gelar skrining TBC bagi seluruh warga binaan

Nastiti menekankan pentingnya peran keluarga maupun orang tua dalam mendukung pengobatan pasien TBC. Menurut dia, pengobatan TBC membutuhkan waktu yang lama bahkan bisa minimal enam bulan. Lamanya masa pengobatan atau terapi kerap menimbulkan tantangan, seperti rasa bosan dan ketidakteraturan dalam mengonsumsi obat sehingga membutuhkan peran orang tua dan keluarga terdekat dalam hal dukungan.

"Apalagi kalau TBC-nya TBC yang berat, maka peran keluarga sangat penting. Membantu untuk selalu mengingatkan jangan lupa minum obatnya, membantu untuk meningkatkan imunitas tubuh yang lain, menyediakan makanan yang bergizi dan tentu suportif dalam hal psikologis sangat penting,” kata dia.


Pewarta :
Editor: I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.