Brahim Diaz meminta maaf gagal penalti dalam final Piala Afrika

id Brahim Diaz, Maroko, final Piala Afrika 2025,Real Madrid

Brahim Diaz meminta maaf gagal penalti dalam final Piala Afrika

Penyerang Timnas Maroko Brahim Diaz merayakan keberhasilannya mencetak gol ke gawang Timnas Kamerun pada pertandingan perempat final Piala Afrika 2025 di Stadion Prince Moulay Abdallah, Rabat, Jumat (9/1/2026) waktu setempat. (x.com/@CAF_Online)

Jakarta (ANTARA) - Brahim Diaz meminta maaf kepada rekan dan rakyat Maroko setelah gagal menendang penalti dalam laga final Piala Afrika 2025 antara Maroko dan Senegal. Tendangan penalti gagalnya menjadi momen krusial dalam pertandingan itu dan berujung pada kekalahan Maroko pada partai puncak. Dalam akun Instagram-nya pada Senin (20/1), Diaz mengaku sangat terpukul dan bertanggung jawab penuh atas kegagalan tersebut.

“Saya memimpikan gelar ini berkat semua cinta yang kalian berikan kepada saya, setiap pesan, setiap dukungan yang membuat saya merasa tidak sendirian. Saya berjuang dengan segala yang saya miliki, dengan sepenuh hati. Kemarin saya gagal dan saya bertanggung jawab sepenuhnya. Saya meminta maaf dari lubuk hati yang paling dalam,” tulis Diaz pada Senin.

"Luka ini tidak mudah sembuh, tetapi saya akan berusaha bangkit."

Penyerang Real Madrid itu tampil impresif sepanjang turnamen. Diaz menjadi top skor Piala Afrika 2025 dengan lima gol dan menjadi sosok penting di balik keberhasilan Maroko melaju hingga final.

Baca juga: Senegal juara Piala Afrika 2025 setelah tekuk Maroko skor 1-0

Diaz bisa saja menjadi pahlawan Maroko setelah timnya mendapatkan penalti kontroversial akibat pelanggaran El Hadji Malick Diouf terhadap dirinya.

Keputusan tersebut memicu protes keras dari kubu Senegal hingga pelatih Pape Thiaw meminta para pemainnya walk out dari lapangan.

Baca juga: Atasi Kamerun skor 2-0, Maroko melangkah ke semifinal

Setelah lama tertunda, pertandingan dilanjutkan. Penalti baru dieksekusi pada menit ke-24 masa injury. Namun, Diaz gagal memanfaatkannya setelah tendangan panenkanya dengan mudah dimentahkan kiper Senegal, Edouard Mendy.

Kegagalan itu fatal akibatnya. Senegal kemudian memastikan kemenangan lewat gol Pape Gueye pada babak tambahan waktu untuk menjuarai Piala Afrika yang kedua kalinya. Diaz tidak kuasa menahan air mata saat menerima trofi Sepatu Emas sebagai pencetak gol terbanyak turnamen.

“Saya akan terus melangkah maju hingga suatu hari nanti saya bisa membalas semua cinta ini dan menjadi kebanggaan bagi rakyat Maroko,” tutup Diaz.


Pewarta :
Editor: I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.