Ketika padi berlimpah, ketahanan diuji

id padi,produksi padi,ntb,ketahanan,swasembada Oleh Abdul Hakim

Ketika padi berlimpah, ketahanan diuji

Arsip - Pekerja menjemur gabah di Kecamatan Pujut, Praya, Lombok Tengah, NTB, Rabu (26/11/2025). Menurut data Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB, hingga bulan November 2025 produksi padi mencapai 1.695.451 ton gabah kering giling (GKG) atau meningkat 16,65 persen dibandingkan tahun 2024 dan sekaligus mempertegas peran NTB sebagai salah satu penyokong utama ketahanan pangan nasional. ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/tom.

Mataram (ANTARA) - Produksi padi di Nusa Tenggara Barat (NTB) kembali menanjak tajam. Angka-angka resmi menunjukkan lonjakan yang tidak kecil, bahkan menempatkan NTB sebagai salah satu daerah penopang utama agenda swasembada pangan nasional 2026.

Setelah sempat turun pada 2024, produksi padi NTB pada 2025 melonjak hingga sekitar 1,7 juta ton gabah kering giling, meningkat lebih dari 16 persen dibanding tahun sebelumnya. Luas panen bertambah puluhan ribu hektare, produktivitas ikut naik, dan stok benih tersedia dalam kondisi surplus.

Kenaikan ini bukan sekadar statistik tahunan. Ia menandai pergeseran fase penting dalam perjalanan pertanian NTB. Dari daerah yang kerap dihantui fluktuasi iklim, keterbatasan air, dan alih fungsi lahan, NTB kini tampil lebih percaya diri sebagai wilayah dengan basis produksi pangan yang menguat.

Namun di balik kabar baik itu, pertanyaan mendasar perlu diajukan: Apakah lonjakan produksi ini sudah cukup kokoh untuk menopang swasembada yang berkelanjutan, atau masih rapuh karena bergantung pada momentum dan intervensi jangka pendek?

Penting untuk digarisbawahi bahwa swasembada pangan bukan sekadar target angka. Ia menyangkut keberlanjutan lahan, kesejahteraan petani, stabilitas harga, serta kemampuan daerah menjaga keseimbangan antara produksi, lingkungan, dan kebutuhan ekonomi lainnya.


Kerja kolektif

Kenaikan produksi padi NTB pada 2025 tidak terjadi secara tiba-tiba. Data menunjukkan peningkatan luas panen dari sekitar 281 ribu hektare menjadi lebih dari 322 ribu hektare.

Produktivitas juga naik meski tidak spektakuler, dari kisaran 51 kuintal per hektare menjadi lebih dari 52 kuintal per hektare. Artinya, lonjakan produksi lebih banyak ditopang oleh perluasan area tanam yang berhasil dioptimalkan, bukan semata lonjakan hasil per hektare.

Program optimalisasi lahan menjadi faktor kunci. Lahan-lahan nonrawa yang selama ini hanya mengandalkan hujan mulai disentuh dengan pendekatan baru, mulai dari pompanisasi, sumur resapan, hingga perbaikan jaringan irigasi sederhana.

Hasilnya, indeks pertanaman perlahan meningkat. Petani yang sebelumnya hanya bisa menanam sekali setahun mulai mencoba dua kali, bahkan di beberapa lokasi bersiap menuju tiga kali tanam.

Ketersediaan benih juga memainkan peran penting. Dengan stok benih padi mencapai hampir dua kali lipat dari kebutuhan daerah, NTB tidak hanya aman untuk kebutuhan internal, tetapi juga berkontribusi bagi provinsi lain. Ini menandakan sistem perbenihan mulai terkelola lebih rapi dan tidak lagi menjadi titik lemah seperti tahun-tahun sebelumnya.

Namun keberhasilan ini sejatinya adalah hasil kerja kolektif yang rapuh bila tidak dijaga. Lonjakan produksi masih sangat bergantung pada program pemerintah, subsidi pupuk, harga pembelian gabah yang relatif menguntungkan, serta dukungan lintas sektor. Jika salah satu penopang ini goyah, capaian produksi bisa kembali stagnan atau bahkan menurun.


Tantangan struktural

Di balik grafik yang menanjak, NTB masih menyimpan persoalan struktural yang tidak kecil. Salah satunya adalah ketergantungan pada pola pertanian tadah hujan.

Sebagian besar sawah di NTB belum memiliki jaminan air sepanjang tahun. Program optimalisasi lahan memang membantu, tetapi cakupannya masih terbatas dibanding luas baku sawah yang ada.

Persoalan lain adalah kompetisi penggunaan lahan. Diversifikasi komoditas seperti tembakau, bawang, dan cabai merupakan pilihan rasional bagi petani, terutama saat musim kemarau. Komoditas tersebut memberikan nilai ekonomi lebih cepat dan relatif stabil.

Namun konsekuensinya, luas tanam padi berkurang dan indeks pertanaman tertahan. Data menunjukkan puluhan ribu hektare lahan baku sawah digunakan untuk komoditas nonpadi, menyebabkan potensi produksi padi yang hilang tidak kecil.

Di sisi hilir, lonjakan produksi juga membawa tantangan pasar. Produksi yang meningkat tanpa pengelolaan serapan yang baik berisiko menekan harga di tingkat petani.

Di sinilah peran penyerapan gabah dan beras menjadi krusial. Jika tidak diimbangi dengan manajemen stok dan distribusi yang efisien, surplus bisa berubah menjadi beban ekonomi bagi petani.

Aspek lingkungan juga tak boleh diabaikan. Intensifikasi dan peningkatan indeks tanam berpotensi meningkatkan tekanan pada tanah dan air. Tanpa pengelolaan berkelanjutan, produktivitas jangka panjang justru bisa tergerus.

Swasembada yang mengejar angka tetapi mengabaikan daya dukung lingkungan akan sulit bertahan.


Menjaga swasembada

Lonjakan produksi padi NTB seharusnya dibaca sebagai momentum, bukan garis akhir. Tantangan ke depan adalah mengubah capaian tahunan menjadi sistem yang tahan guncangan. Kebijakan pertanian perlu bergerak dari pendekatan proyek menuju penguatan ekosistem.

Pertama, perlindungan lahan pertanian harus menjadi agenda utama. Tanpa kepastian ruang, upaya peningkatan produksi akan selalu berhadapan dengan ancaman alih fungsi lahan.

Kedua, pengelolaan air perlu ditingkatkan dari sekadar pompanisasi darurat menuju sistem irigasi yang lebih terencana dan adaptif terhadap perubahan iklim.

Ketiga, kesejahteraan petani harus ditempatkan sebagai indikator utama keberhasilan. Produksi tinggi tanpa margin keuntungan yang layak akan melemahkan motivasi petani. Skema harga, serapan, dan akses pasar perlu terus diperkuat agar surplus benar-benar menjadi berkah.

Terakhir, swasembada pangan perlu dipahami sebagai bagian dari ketahanan nasional. Ketika NTB mampu menjaga produksi padi secara berkelanjutan, daerah ini tidak hanya mengamankan kebutuhan lokal, tetapi juga ikut menopang stabilitas pangan Indonesia. Di sinilah nilai kebangsaan itu bekerja, melalui sawah, benih, dan kerja keras petani.

Produksi padi NTB yang melonjak adalah kabar baik. Namun ujian sesungguhnya adalah menjaga agar lonjakan itu tidak sekadar sesaat, melainkan menjadi fondasi kuat menuju kemandirian pangan yang adil, berkelanjutan, dan berpihak pada masa depan negeri.

Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Surplus padi NTB dan tantangan menjaganya



COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.