Lombok Timur (ANTARA) - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menyatakan kasus perundungan terhadap para pelajar harus dihilangkan di dunia pendidikan.
“Kasus perundungan adalah tanggungjawab bersama yang harus terus kita hilangkan di dunia pendidikan,” kata Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Timur M Nurul Wathoni di Lombok Timur, Rabu.
Hal itu sampaikan saat menanggapi adanya dugaan kasus perundungan yang terjadi disalah satu sekolah dasar di Kecamatan Pringgabaya.
Ia mengatakan, kasus perundungan ini merupakan kasus yang harus menjadi atensi serius pihak sekolah, sehingga semua elemen mulai dari guru, pengawas, komite, wali murid dan pihak lain bisa memiliki komitmen bersama agar kasus perundungan tidak terjadi atau tidak menimpa para pelajar di Lombok Timur.
Baca juga: Siswa SD di Lombok Timur jadi korban perundungan hingga kaki patah tulang
Penegasan ini juga, Lanjut Kepala Dinas, sudah disampaikan sebelum ada dugaan kasus terjadi, dimana pihaknya sendiri pada pertengahan Januari 2026 sudah ada edaran yang diberikan terkait dengan penegasan program termasuk meminta sekolah menjadikan sekolahnya yang nyaman dan aman.
“Termasuk di dalamnya bagaimana warga sekolah termasuk memaksimalkan tugas piket guru baik saat pagi maupun saat kegiatan ekstrakurikuler agar lingkungan sekolah bisa tetap dalam pengawasan guru,” katanya.
“Ini salah satunya, untuk mencegah adanya kasus perundungan, karena kasus seperti ini adalah tanggungjawab bersama yang harus terus kita hilangkan,” katanya.
Adapun terkait dengan kasus yang terjadi di Kecamatan Pringgebaya ini, berdasarkan keterangan dari pihak sekolah, sebelum kejadian, pada hari Rabu (28/01), sekolah sedang ada kegiatan gotong royong membersihkan kelasnya, karena ada bau tikus yang mati bersama wali kelas.
Baca juga: Polisi sosialisasikan stop bullying di sekolah Lombok Tengah
Setelah selesai, wali kelas kemudian membelikan es ke semua siswa. Sampai pulang sekolah tidak ada satupun laporan adanya pemukulan yang dilakukan oleh siswa.
Kemudian pada hari Sabtu (31/01), guru mendapatkan informasi kalau ada siswa yang sakit dengan mengaku di tendang oleh temanya.
Saat siswa dirawat di klinik, siswa yang sakit ini disebut sering menyebut temannya atas nama MK, saat itu juga gurunya berangkat jenguk dan bawa anak dan orang tua MK ke klinik dan MK mengaku tidak pernah memukul.
Setelah itu guru ini kemudian ke dokter psikologi yang menanganinya dan konsultasi dan sedang dilakukan secreening.
Hasil secreening awal bahwa kejadiannya setelah pulang atau di luar sekolah, namun ada juga saksi teman di kelasnya melihat bahwa korban ini naik bangku dan jatuh, namun untuk kejadian sebenarnya belum di ketahui dan masih nunggu hasil secreening.
Baca juga: PKK ajak pelajar di Lombok Utara cegah perundungan
Baca juga: SMPN 3 Jonggat edukasi bahaya perundungan
Pewarta : Akhyar Rosidi
Editor:
Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026