Mataram (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mewaspadai potensi lonjakan harga kangkung lantaran tingginya kebutuhan masyarakat terhadap komoditas sayuran tersebut sebagai menu berbuka puasa.
Juru Bicara Pemprov NTB Ahsanul Khalik mengatakan kangkung menjadi salah satu komoditas pangan rakyat yang perlu mendapat perhatian khusus selama Ramadhan.
"Masyarakat dari kalangan bawah hingga kalangan atas mengonsumsi kangkung, terkhusus di Lombok. Berbuka puasa terasa kurang jika tidak ada pecel atau plecing," ujarnya di Mataram, Rabu.
Pecel dan plecing merupakan makanan tradisional setempat yang menggunakan bahan utama berupa kangkung.
Ahsanul menyampaikan konsumsi kangkung yang tinggi selama Ramadhan berpotensi memicu kenaikan harga jika tidak diantisipasi dengan baik.
Baca juga: Plecing Sayur Kangkung Khas Lombok
Menurut dia, luas lahan persawahan kangkung di Pulau Lombok saat ini semakin berkurang membuat angka produksi kangkung menurun.
"Kalau dulu bukan hanya Lombok Timur dan Lombok Tengah, Kota Mataram juga banyak kangkung. Sekarang yang menanam makin sedikit, sedangkan kebutuhan tinggi," kata Ahsanul.
Lebih lanjut ia menyampaikan bahwa Pemprov NTB mengatur distribusi dan kebutuhan komoditas secara proporsional, termasuk memperhatikan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Selama Ramadhan, MBG tidak memberikan makanan basah kepada para penerima manfaat. Kebijakan itu membuat permintaan konsumen terhadap kangkung diproyeksikan tidak terlalu besar.
"Kita harus atur kebutuhan masyarakat dengan baik, sehingga bisa terlayani. Kangkung bisa memicu inflasi jika tidak diatur secara baik," pungkas Ahsanul.
Baca juga: Lapas Lombok Barat panen 3,8 ton padi dan 300 kg sayur kangkung
Berdasarkan data perkembangan harga rata-rata barang kebutuhan pokok yang dirangkum Dinas Perindustrian dan Perdagangan NTB, harga kangkung perlahan mengalami kenaikan akibat permintaan yang meningkat.
Harga kangkung Rp8.200 per kilogram pada 13 Februari 2026, dan naik sebesar 1,22 persen atau Rp100 menjadi Rp8.300 per kilogram pada 18 Februari 2026.
Selain kangkung, Pemprov NTB menaruh perhatian serius terhadap komoditas cabai rawit merah yang saat ini harganya terus melambung akibat pengaruh cuaca, distribusi terhambat, dan lonjakan permintaan konsumen.
Harga cabai rawit di Kota Mataram telah mencapai Rp120 ribu per kilogram. Nilai tersebut mendekati harga daging sapi yang hanya berkisar Rp140 ribu per kilogram.
Baca juga: Jelang Lebaran, Harga Kangkung di Mataram Melonjak 100 Persen
Pewarta : Sugiharto Purnama
Editor:
Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026