Mataram (ANTARA) - Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat memanen 3,8 ton padi dan 300 kilogram sayur kangkung hasil pelaksanaan program pemberdayaan warga binaan.
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan NTB, Anak Agung Gde Krisna melalui siaran pers yang diterima di Mataram, Kamis, menyampaikan bahwa panen ini menjadi bukti konkret keberhasilan pembinaan kemandirian warga binaan melalui sektor ketahanan pangan.
"Jadi, pemasyarakatan tidak semata berorientasi pada pengamanan, tetapi juga pada pembinaan yang produktif dan berkelanjutan," katanya.
Sebanyak 3,8 ton padi dipanen pihak lapas dari hasil tanam di atas lahan seluas 1,5 hektare dan sayur kangkung sebanyak 300 kilogram dari luas lahan tanam 15 are.
Lahan yang dimanfaatkan untuk penanaman bahan kebutuhan pangan ini berasal dari kawasan kelola Lapas Kelas II A Lombok Barat yang berada di wilayah Kuripan, Kabupaten Lombok Barat.
Hasil tanam ini dilaksanakan melalui kegiatan Panen Raya Serentak Program Pemasyarakatan pada hari ini yang dipimpin langsung oleh Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan RI, Agus Andrianto secara virtual terpusat di Lapas Kelas I Cirebon.
Baca juga: Lapas Lombok Barat manfaatkan sampah organik jadi kompos dan pupuk cair
Untuk pelaksanaan di Lapas Kelas II A Lombok Barat, kegiatan panen dipimpin Kepala Kanwil Ditjenpas NTB, Anak Agung Gde Krisna didampingi Kepala Lapas Kelas II A Lombok Barat M. Fadli dan seluruh kepala UPT pemasyarakatan Se-Pulau Lombok dan unsur forkopimda.
Melalui kegiatan panen raya ini, Anak Agung Gde Krisna melihatnya sebagai suatu keberhasilan lapas dalam pemberdayaan warga binaan secara optimal.
"Artinya, mereka bisa dibina, dilatih, dan diberi kepercayaan untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat, baik bagi dirinya sendiri maupun masyarakat," ucapnya.
Kepala Lapas Kelas II A Lombok Barat, M. Fadli, menambahkan, kegiatan panen ini melibatkan 17 warga binaan yang mengikuti program asimilasi ketahanan pangan. Keterlibatan langsung warga binaan menjadi bagian penting dalam proses pembinaan kemandirian.
"Melalui program ini, warga binaan tidak hanya bekerja, tetapi juga belajar bertanggung jawab serta memiliki keterampilan yang dapat dimanfaatkan setelah mereka kembali ke masyarakat," ucap Fadli.
Baca juga: Sedikitnya 12 warga binaan Lapas Lombok Barat terima remisi Natal 2025
Tindak lanjut hasil panen, lapas secara langsung memasarkan kepada penyedia bahan makanan (BAMA) serta menjualnya kepada masyarakat sekitar lapas.
Sebagian keuntungan dari hasil jual, disalurkan untuk membantu masyarakat terdampak bencana, sementara sisanya dialokasikan sebagai premi kerja warga binaan dalam bentuk tabungan.
"Jadi, ini bukan semata soal panen, tetapi tentang proses pembinaan. Kami ingin warga binaan merasakan bahwa hasil kerja mereka bernilai dan membawa manfaat," katanya.
Melalui kegiatan ini, Lapas Kelas II A Lombok Barat menegaskan komitmennya dalam mendukung program ketahanan pangan nasional sekaligus memperkuat peran pemasyarakatan sebagai institusi pembinaan yang humanis dan produktif.
Baca juga: Warga binaan Lapas Lombok Barat panen cabai merah seberat 1 ton
Baca juga: Lapas Lombok Barat gelar skrining TBC bagi seluruh warga binaan
Pewarta : Dhimas Budi Pratama
Editor:
Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026