Mataram (ANTARA) - Warga binaan Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, dalam kegiatan panen hasil pertanian di atas lahan kelola mandiri seluas 25 are (2.500 m2) mendapatkan sedikitnya 1 ton cabai merah.
"Pencapaian ini merupakan akumulasi dua kali panen, yakni 572 kilogram pada panen pertama dan 435 kilogram pada panen kedua yang berlangsung Selasa (21/10)," kata Kepala Lapas Kelas II A Lombok Barat, M. Fadli di Kuripan, Kabupaten Lombok Barat, NTB, Rabu.
Ia menyebutkan keberhasilan ini menjadi bukti nyata bahwa pembinaan berbasis kemandirian dapat memberikan manfaat ganda, baik ekonomi maupun sosial serta dalam upaya mendukung Program Ketahanan Pangan Nasional dan implementasi 13 Program Akselerasi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto, dalam hal memberdayakan Warga Binaan untuk ketahanan pangan.
"Capaian ini tidak hanya tentang hasil panen, tapi tentang perubahan pola pikir warga binaan. Mereka belajar disiplin, tanggung jawab dan kerja sama. Kami optimistis panen akan terus berlanjut karena lahan yang ada masih sangat produktif," ujarnya.
Baca juga: Lapas Lombok Barat panen 572 kilogram cabai merah hasil bertani warga binaan
Ia menegaskan bahwa Lapas Lombok Barat akan terus memperluas lahan dan memperkuat pembinaan pertanian agar hasilnya semakin berkelanjutan.
"Kami ingin menjadikan program ini sebagai contoh nyata bahwa dari dalam Lapas pun, warga binaan bisa berkontribusi untuk ketahanan pangan nasional," ucap dia.
Keberhasilan panen hingga mencapai 1 ton ini menjadi bukti nyata bahwa program pemasyarakatan produktif bukan sekadar pembinaan, tetapi juga langkah konkret dalam mencetak warga binaan yang mandiri, produktif dan berdampak bagi masyarakat luas.
Hasil panen warga binaan ini kemudian dijual dengan harga Rp30.000 per kilogram kepada perusahaan yang berlokasi di Desa Sengom Kecamatan Tanjung Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.
Direktur Utama CV Putra Mandiri, Nonok Hartono mengapresiasi kualitas cabai hasil panen Lapas Lombok Barat.
"Kualitas cabainya sangat konsisten dan memenuhi standar industri. Kami akan menyalurkannya ke beberapa pabrik besar. Ini menunjukkan bahwa hasil pembinaan di Lapas mampu bersaing di pasar nasional," kata Nonok.
Baca juga: Lapas Lombok Barat gelar panen raya hasil tanam warga binaan
