Mataram (ANTARA) - Menjelang senja, Lombok bukan sekadar pulau dengan pantai eksotik atau riuh pariwisata. Ia berubah menjadi kanvas hidup bagi mereka yang mencari momen sempurna sebelum berbuka puasa.
Di Lombok, ngabuburit bukan hanya soal menunggu waktu berbuka, melainkan menikmati setiap detik langit yang bergradasi warna, sambil meresapi budaya lokal dan keindahan alam yang khas.
1. Bukit Merese, Sore di Atas Kabut
Jika ingin mencari tempat ngabuburit yang terasa hampir magis, Bukit Merese di selatan Lombok adalah jawabannya. Bukit kecil ini menawarkan panorama spektakuler, menghadap Tanjung Aan dan Samudra Hindia. Di sini, langit sore terlihat penuh warna--oranye, merah, ungu--seolah lukisan yang berubah tiap menit.
Banyak pengunjung memilih membawa tikar dan camilan ringan, duduk menunggu detikdetik terakhir sebelum adzan Maghrib berkumandang di cakrawala. Bukit ini mudah dijangkau dari Kuta Lombok, dan terkenal di kalangan traveler sebagai “spot wajib” untuk menutup hari.
2. Malimbu Hill, Gili di Ufuk Barat
Untuk yang ingin suasana lebih sunyi namun tetap dramatis, Malimbu Hill di sebelah barat daya menawarkan pengalaman sunset yang berbeda. Dari titik ini, panorama matahari terbenam menampilkan tiga pulau Gili--Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air--seolah tergantung di ujung cakrawala laut.
Lokasinya jadi favorit para fotografer, pasangan muda, maupun keluarga yang ingin momen tenang sambil menunggu adzan Maghrib. Banyak yang juga singgah di kafe kecil di sekitar titik pandang untuk menyeruput es kelapa atau kopi dingin sambil menikmati semburat matahari.
Baca juga: Ini dia tempat ngabuburit paling ramai dan hits di NTB!
3. Senggigi Beach, Sore Santai di Pasir Emas
Pantai Senggigi di barat Lombok adalah tempat yang tak pernah salah untuk ngabuburit santai. Garis pantainya yang panjang dan datar membuatnya ideal untuk berjalan kaki sore sambil melihat perahu nelayan yang kembali ke dermaga.
Warungwarung lokal dan restoran pinggir pantai juga ramai dikunjungi dari kudapan ringan hingga makanan berat bisa dinikmati sembari menunggu waktu berbuka. Senja di sini terasa lebih rileks, cocok bagi keluarga atau wisatawan yang ingin suasana ramah tanpa harus jauh dari fasilitas.
4. Tanjung Aan, Sunset dan Ombak Lembut
Di bagian selatan pulau, Tanjung Aan Beach menawarkan pengalaman berbeda: pasirnya putih dan halus seperti tepung, sementara ombaknya tenang, membuat tempat ini ideal bagi mereka yang ingin duduk bersila di pasir sambil menunggu langit sore berubah warna.
Banyak pengunjung yang memilih duduk di atas batu karang besar di tepi pantai sambil bercengkrama, seolah memeluk setiap detik waktu sebelum berbuka.
Baca juga: Menjaga waktu di batas maghrib
5. Pasar Takjil & Alunalun, Ngabuburit Urban yang Ramai
Bagi yang mencari suasana lebih “hidup” dan bercampur dengan warga lokal, sejumlah titik ngabuburit tradisional bisa jadi pilihan. Jalan Majapahit di Mataram ramai oleh pedagang takjil mulai sore hari, menjajakan aneka kolak, kurma, es buah, dan jajanan khas Nusantara.
Atau AlunAlun Tastura di Lombok Tengah, yang selain jadi pusat warga bersantai sore, juga tempat berkumpul keluarga sembari menunggu waktu buka. Suasana ini membuat ngabuburit bukan sekadar menunggu waktu, tetapi ikut merasakan denyut masyarakat lokal.
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Menata ruang ngabuburit sebagai wajah sosial NTB
Tips Sore di Lombok
1. Datang lebih awal: Banyak spot sunset Lombok jadi rame menjelang sore, jadi datang 30–45 menit sebelum sunset memberi kamu sudut terbaik dan suasana yang lebih tenang.
2. Bawa camilan ringan: Meski banyak warung, membawa kudapan sendiri membuat pengalaman ngabuburit lebih personal dan fleksibel.
3. Hormati adat setempat: Lombok mayoritas muslim — berpakaian sopan dan menghormati kebiasaan lokal selalu diterima dengan baik.
Ngabuburit di Lombok bukan sekadar menunggu waktu berbuka. Ia adalah pengalaman estetika, budaya, dan emosi yang teranyam oleh alam dan keramahan lokal. Dari Bukit Merese yang tinggi hingga pasar takjil yang ramai, setiap tempat menawarkan cerita sore yang berbeda tapi tak kalah memukau.
Baca juga: "Ngabuburide" di aspal Mandalika
Pewarta : ANTARA NTB
Editor:
Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026