Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pariwisata menjelaskan sejumlah upaya yang telah dilakukan dalam menjaga kelestarian komodo secara berkelanjutan.

"Kementerian Pariwisata senantiasa mendorong kolaborasi lintas sektor dengan Kementerian Kehutanan khususnya Balai Taman Nasional Komodo sebagai otoritas pengelola kawasan, pemerintah daerah, serta pelaku usaha pariwisata untuk memastikan bahwa seluruh aktivitas wisata berjalan dalam koridor berkelanjutan," kata Kementerian melalui jawaban tertulis kepada ANTARA diterima di Jakarta, Senin.

Dalam perspektif strategis, kementerian menilai bahwa komodo diposisikan bukan hanya sebagai daya tarik wisata, tetapi sebagai core ecological asset yang keberlangsungannya harus dijaga, sehingga setiap kebijakan pengembangan destinasi selalu menempatkan perlindungan habitat sebagai prioritas utama.

Upaya menjaga kelestarian komodo dilakukan melalui pendekatan pariwisata berbasis konservasi yang mengedepankan keseimbangan antara perlindungan ekosistem dan pemanfaatan ekonomi secara berkelanjutan.

Edukasi dan peningkatan kesadaran wisatawan menjadi bagian penting, terutama dalam mendorong perilaku yang bertanggung jawab terhadap satwa liar dan lingkungan. Selain itu, penguatan peran masyarakat lokal juga menjadi kunci baik sebagai pelaku utama pariwisata maupun sebagai penjaga ekosistem.

Berbagai praktik baik yang telah dilakukan, seperti pembatasan aktivitas tertentu seperti penyelaman dan upaya menjaga kebersihan kawasan, merupakan kontribusi nyata yang perlu terus diperkuat dan diintegrasikan dalam kebijakan pengelolaan destinasi.

Dalam jangka panjang, optimalisasi pemanfaatan PNBP menjadi aspek krusial, terutama untuk mendukung untuk mendukung konservasi, peningkatan layanan termasuk sarana dan prasarana, dan keberlanjutan destinasi secara keseluruhan.

Baca juga: Komodo National

Hal lain yang disampaikan Kementerian Pariwisata yakni Berdasarkan data BPS dalam Manggarai Barat Dalam Angka Tahun 2026, jumlah kunjungan wisatawan ke Taman Nasional Komodo pada tahun 2025 tercatat sebanyak 432.217 kunjungan dalam satu tahun. Jika dirata-ratakan, jumlah tersebut setara dengan sekitar kurang lebih 1.180-1.200 wisatawan per hari.

Pola kunjungan menunjukkan fluktuasi musiman yang cukup signifikan, di mana pada periode puncak seperti Juli-Agustus, jumlah kunjungan bulanan dapat mencapai lebih dari 60.000 wisatawan, atau setara dengan lebih dari 2.000 wisatawan per hari.

Baca juga: Basarnas komitmen pelayanan terbaik operasi pencarian

"Kondisi ini menunjukkan adanya tekanan kunjungan pada waktu dan lokasi tertentu, namun belum mencerminkan overtourism secara menyeluruh sepanjang tahun," katanya.

Meski demikian, tantangan utama terletak pada konsentrasi kunjungan yang tinggi pada periode puncak dan di titik-titik tertentu. Oleh karena itu, pengelolaan perlu diarahkan pada distribusi kunjungan yang lebih merata agar aktivitas pariwisata tetap berjalan optimal sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Sejalan dengan arah Integrated Tourism Master Plan Labuan Bajo–Flores, pengelolaan destinasi difokuskan pada pendekatan berbasis daya dukung melalui pengendalian kunjungan yang lebih komprehensif.

Hal ini mencakup penerapan sistem manajemen kunjungan (visitor management system), pengaturan waktu kunjungan, serta pengembangan kawasan penyangga dan destinasi alternatif. Pendekatan ini diharapkan mampu mengurangi tekanan pada kawasan inti, tanpa menghambat pertumbuhan pariwisata, sekaligus mendorong pariwisata yang lebih berkualitas dan berkelanjutan.

 

 

 


 



Pewarta :
Editor: I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026