Jakarta (ANTARA) - Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif mendukung pembinaan talenta pengisi suara dan penguatan ekosistem industri sulih suara.

Deputi Bidang Kreativitas Media Kementerian Ekonomi Kreatif Cecep Rukendi menyampaikan bahwa kementerian mengadakan lokakarya dan menjalankan program seperti kompetisi pengisi suara Wonder Voice of Indonesia untuk mendukung penguatan ekosistem industri sulih suara.

Sebagaimana dikutip dalam siaran pers kementerian pada Kamis, Cecep mengemukakan bahwa pertumbuhan ekonomi kreatif menghadirkan lebih banyak peluang bagi industri sulih suara.

Menurut Statistik Ekonomi Kreatif yang dirilis Badan Pusat Statistik pada akhir 2025, kontribusi sektor ekonomi kreatif terhadap Produk Domestik Bruto mencapai Rp1.611,2 triliun dan nilai investasi di sektor tersebut mencapai Rp183,01 triliun pada 2025.

"Pertumbuhan tersebut turut membuka peluang besar bagi industri voice over dan sulih suara yang kini semakin dibutuhkan di tengah pesatnya perkembangan konten digital," kata Cecep.

Kementerian Ekonomi Kreatif bersama Solidaritas Perempuan untuk Indonesia Kabinet Merah Putih (Seruni KMP) telah mengadakan Workshop Pembinaan Talenta Ekonomi Kreatif: Voice Over (Sulih Suara) di Pontianak, Kalimantan Barat.

Lokakarya yang digelar di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Barat itu dilaksanakan dengan dukungan PT PLN (Persero), Dekranasda Kota Pontianak, serta sejumlah kementerian dan lembaga terkait.

Para peserta lokakarya itu mendapat pelatihan teknis vokal serta pemahaman mengenai Hak Kekayaan Intelektual (HKI), pembangunan citra diri, dan strategi membangun jejaring.

Baca juga: Menteri Ekraf melantik penilai KI bantu pemilik HKI dapat KUR

"Kami ingin talenta-talenta muda tidak hanya jago menjual suara, tetapi juga memahami aspek bisnis, HKI, dan cara membangun personal branding di platform global," ujar Cecep.

Para peserta lokakarya juga mendapatkan wawasan mengenai perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan dampaknya terhadap industri sulih suara.

Talenta pengisi suara profesional Bimo Kusumo selaku narasumber dalam lokakarya menyampaikan pentingnya emosi manusia dalam sulih suara.

Baca juga: Pemerintah menyalurkan KUR pada 1.000 UMKM Ekraf di Bali

"Betul bahwa AI bisa meniru nada, tapi AI tidak akan pernah bisa menggantikan empati dan storytelling yang menyentuh hati," katanya.

"Dalam industri voice over, kita tidak hanya mengeluarkan suara, tapi sedang membangun koneksi emosional dengan pendengar, dan orisinalitas manusia itulah yang akan terus dicari," kata anggota tim mentor di Voice Institute Indonesia itu.

 

 



Pewarta :
Editor: I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026