Mataram (ANTARA) - Para petani minta kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), memperbaiki jalan di wilayah pedesaan yang sudah rusak berat yang telah mengakibatkan anjloknya harga hasil produksi pertanian.

  "Kondisi infrastruktur jalan di desa kami cukup parah. Ini menyebabkan harga hasil pertanian seperti nanas sangat rendah," kata Rumisah, seorang petani di Desa Langko, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat, Minggu.

  Dia mengatakan Desa Langko yang terletak sekitar 15 kilometer dari Kota Mataram terkenal sebagai daerah dengan potensi buah-buahan khususnya buah nanas. Namun, karena infrastruktur jalan menuju beberapa lokasi perkebunan kurang memadai, harga hasil pertanian menjadi sangat rendah terutama ketika musim panen.

  "Para pedagang pengumpul tidak berani membeli buah nanas dengan harga yang kami harapkan. Alasan mereka biaya transportasi cukup tinggi karena kondisi jalan yang jelek," ujarnya.

  Kondisi jalan yang kurang memadai itu juga diakui oleh Kepala Desa Langko, H. Arjuna. Menurut dia, warganya yang mayoritas petani sudah cukup lama mengeluhkan kondisi tersebut, dan sudah sering mengusulkan agar Pemkab Lombok Barat melakukan pengerasan tanah melalui proposal, namun hingga saat ini belum ada realisasinya.

  Akibat jeleknya kondisi jalan yang ada di wilayahnya, kata Arjuna, sejumlah warga sempat melakukan protes meskipun pihaknya menyatakan sudah berupaya semaksimal mungkin dengan melakukan pendekatan ke Pemerintah Daerah.

  "Kita sudah terlalu sering mengirim proposal kepada Bapak Bupati, namun kayaknya proposal kita terhambat di jalan," katanya.

  Guna menyiasati kondisi jalan yang masih jelek itu, pihaknya bersama warga dari enam dusun yang ada di Desa Langko, melakukan kegiatan bersih lingkungan sekaligus melakukan perbaikan jalan dengan peralatan dan bahan seadanya setiap hari Jumat.

  Beberapa jalan utama yang diperbaiki oleh warga untuk menunjang kegiatan perekonomian, yakni jalan menuju Dusun Muhajirin, Dusun Longserang Barat dan Dusun Longserang Timur. Ketiga jalan utama tersebut dalam kondisi rusak berat.

  "Pada musim hujan jalan tersebut berlumpur dan pada musim kemarau sangat berdebu sehingga sangat mengganggu perekonomian masyarakat," ujarnya.

  Menurut dia, para pembeli hasil produksi pertanian yang berasal dari luar termasuk dari Kota Mataram sangat kesulitan sampai ke perkebunan petani akibat kondisi jalan yang rusak, sehingga mereka juga memperhitungkan ongkos yang dikeluarkan.

  "Waktu petani panen nanas, Anda bisa buktikan kalau nanas itu hanya bisa laku paling tinggi Rp500 per buah," katanya.

  Untuk itu, pihaknya berharap kepada Pemerintah Daerah agar memperhatikan nasib para petani dengan memperbaiki infrastruktur jalan agar potensi yang dimiliki di wilayah pedesaan bisa menggerakkan perekonomian daerah.(*)



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026