Mataram, 14/11 (ANTARA) - Wali Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) H. Moh. Ruslan membantah ada "sweeping" warga Bima atau Sumbawa yang dilakukan orang Lombok.

  "Tidak benar ada 'sweeping'. Isu ini membuat warga dari Pulau Sumbawa khususnya Bima menjadi khawatir," katanya di Mataram, Sabtu.

   Ia mengatakan akibat isu yang berlebihan itu, hampir semua warga yang berasal dari Pulau Sumbawa terutama Bima tidak berani ke luar rumah termasuk sekolah atau kuliah.

"Begitu juga dengan kendaraan bernomor polisi Pulau Sumbawa tidak berani digunakan masyarakat," katanya.

   Isu ini merebak terkait peristiwa salah seorang  pemuda asal Sekarbela Mataram terkena putung rokok yang dibuang oleh anak mahasiswa yang kos di BTN Kekalik Mataram.

   Peristiwa itu terjadi pada Rabu malam (11/11), dan saat itu pemuda Sekarbela langsung mengumpulkan teman-temannya menyerang ke rumah kos mahasiswa tersebut sehingga mengakibatkan tempat kos rusak berat.

   Namun isu yang berkembang, menurut Ruslan, orang Sekarbela meninggal satu, padahal orang meninggal itu tidak ada kaitannya sama sekali dengan peristiwa penyerangan rumah kos tersebut.

   Isu ini tidak hanya berkembang di Lombok, tetapi sampai ke Pulau Sumbawa sehingga orang Lombok yang ada di Pulau Sumbawa juga merasa khawatir terjadi hal-hal yang tidak dinginkan.

   Tuan guru haji Mujiburahman salah seorang tokoh agama di Sekarbela telah mengumpulkan seluruh pemuda dan meminta untuk tidak melakukan tindakan anarkis. "Suasana sekarang sudah tenang," katanya.

   Kasus perusakan rumah kos tersebut sudah ditangani pihak berwajib, bahkan di rumah kos tersebut sudah  dipasang garis polisi.

   Ia mengatakan Pemkot Mataram saat ini sedang mengecek rumah kos tersebut apakah ada izin atau tidak, jika tidak ada izin akan  ditutup. (*)
 



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026