Mataram, 25/11 (ANTARA) - Kondisi cuaca masih mendukung pelayaran kapal penyeberangan ferry dari Lembar, Pulau Lombok ke Padangbai, Pulau Bali atau sebaliknya.

  "Sementara cuaca baik dan masih mendukung pelayaran Lembar-Padangbai atau sebaliknya," kata Kepala PT Indonesia Ferry Cabang Lembar, Kaimuddin Maliling, ketika dihubungi dari Mataram, Rabu.

  Ia mengatakan, sejauh ini Badan Klimatologi, Meteorologi dan Geofisika (BKMG) Selaparang Mataram belum menginformasikan adanya perubahan cuaca yang diindikasikan membahayakan pelayaran.

  Dengan demikian, pusat tekanan rendah yang terpantau foto satelit BMG di belahan bumi selatan berpeluang memicu pembentukan awan dan menyebabkan hujan dengan intensitas ringan hingga sedang, namun tidak memicu gelombang tinggi.

  Perkiraan tinggi gelombang masih dalam batasan normal yakni berkisar antara 0,5 hingga 2,5 meter, yang tidak berbahaya bagi aktivitas pelayaran Fery dan kapal-kapal Pelni.

  "Kalau pun ada peringatan BKMG, kami segera berkoordinasi dengan pihak Administrator Pelabuhan (Adpel) dan Sah Bandar untuk memutuskan penghentian pelayaran atau pelayaran masih berlanjut," ujarnya.

  Maliling mengatakan, kini aktivitas kapal penyeberangan dari dan ke pelabuhan Lembar berjalan seperti biasa, meskipun terkadang hujan dan tinggi gelombang laut menunjukkan peningkatan.

  Manajemen PT Indonesia Ferry (Persero) Cabang Lembar, menyiapkan 18 unit armada untuk melayani pengguna jasa transportasi laut itu.

  Aktivitas penyeberangan Lembar-Padangbai yang biasanya dimulai pukul 06.00 Wita hingga tengah malam.

  Pada awal pekan lalu BMKG Stasiun Selaparang, Mataram, mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi munculnya angin kencang dan petir pada masa peralihan musim kemarau ke musim hujan saat ini.

  Kepala Seksi Observasi dan Informasi BMKG Stasiun Selaparang, Catur Winarti, di Mataram, menjelaskan, pada musim peralihan seperti saat ini cuaca bisa berubah secara cepat akibat munculnya awan cumulonimbus (CB) dampak pemanasan yang cukup tinggi.

  Awan CB tersebut, lanjutnya, dapat menimbulkan hujan yang disertai petir dan angin kencang.

  Catur memprakirakan, wilayah NTB secara umum akan memasuki musim penghujan pada dasarian kedua November, namun untuk daerah-daerah tertentu bisa lebih cepat atau mundur.(*)

Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026