Lombok Barat, NTB, (ANTARA) - Ribuan warga dari berbagai pelosok di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), menggelar perang topat (saling lempar dengan ketupat) di komplek Pura Lingsar, Kecamatan Lingsar, Selasa petang.
Perang topat tersebut merupakan salah satu rangkaian upacara keagamaan yang mencerminkan kerukunan umat beragama di Lombok. Pura Lingsar tempat berlangsungnya perang topat adalah pura terbesar yang dibangun oleh Raja Anak Agung Ngurah dari Kerajaan Karangasem pada 1759 atau ketika memerintah bagian barat Pulau Lombok.
Prosesi perang topat dimulai dengan mengelilingkan sarana persembahyangan seperti layaknya ''murwadaksina'' dan prosesi ini didominasi masyarakat Sasak, namun beberapa tokoh Hindu yang ada di Lombok juga tampak dalam prosesi itu.
Dengan menggunakan pakaian khas Sasak (lambung) bagi masyarakat Sasak dan pakaian persembahyangan umat Hindu untuk warga Hindu, mereka tampak berbaur dengan damai. Sikap toleran dan kesetaraan antarsuku begitu tampak dalam upacara tersebut.
Prosesi kemudian dilanjutkan dengan perang topat, bertepatan dengan gugur bunga waru, yakni sekitar pukul 17.30 Wita atau menjelang tenggelamnya sinar matahari di ufuk barat.
Perang topat merupakan rangkaian dari pelaksanaan upacara pujawali. Upacara ini dihajatkan sebagai ungkapan suksma (terima kasih) umat manusia kepada Sang Pencipta yang telah memberikan keselamatan, sekaligus mohon berkah.
Topat yang dipergunakan sebagai sarana perang-perangan disimbolkan sebagai berkah, karena itu topat yang digunakan untuk saling lempar diambil oleh warga khususnya yang berprofesi sebagai petani untuk ditaburkan di sawah dengan maksud agar lahan pertanian mereka subur, sehingga menghasilkan panen yang melimpah.
Upacara perang topat di Pura Lingsar, tersebut dihadiri oleh Bupati Lombok Barat H. Zaini Arony, Wakil Bupati Lombok Barat H. Mahrip, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata NTB, Lalu Gita Aryadi dan sejumlah pejabat di lingkup Pemerintah Kabupaten Lombok Barat serta para pelaku parisiwata di NTB.
Pada acara tersebut Bupati Lombok Barat H. Zaini Arony melempar ketupat pertama sebagai isyarat dimulainya acara saling lempar yang merupakan acara puncak perang topat.
Selain diikuti oleh warga Pulau Lombok, ritual budaya tersebut juga diikuti oleh para wisatawan mancanegara yang ikut berbaur bersama warga, bahkan mereka telibat langsung saling lempar dengan ketupat.
Mereka tampak antusias dengan tradisi budaya warga Lombok yang mencerminkan kerukunan meski berbeda suku dan etnis.(*)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026