Mataram (ANTARA) - Dinas Kesehatan Nusa Tenggara Barat mencatat jumlah penderita penyakit demam berdarah atau "dengue hemorrhagic fever" (DHF) sejak Januari hingga 20 Februari 2010 mencapai 571 orang tanpa ada korban meninggal dunia.
  "Itu hasil pantauan yang dilakukan di sepuluh kabupaten/kota di NTB sampai dengan Sabtu (20/2)," kata Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Lingkungan Dinas Kesehatan NTB, dr Ida Bagus Jelantik, di Mataram, Senin.
  Ia mengatakan wilayah yang paling tinggi penderita DBD adalah  Kota Mataram sebanyak 368 kasus, diikuti  Lombok Barat 52 kasus, Lombok Timur 46 kasus, Sumbawa Barat 31 kasus.
  Selanjutnya Lombok Tengah 24 kasus, Kota Bima 13 kasus, Kabupaten Sumbawa 11 kasus, Dompu  11 kasus, Lombok Utara sembilan kasus dan Bima enam kasus.
  "Insiden tertinggi terjadi pada Januari, kemudian Februari agak menurun, bahkan wilayah Sumbawa, Dompu, Bima dan Kota Bima hingga 20 Februari tidak ada warganya yang terkena penyakit itu," ujarnya.
  Namun ia memperkirakan jumlah penderita demam berdarah bisa meningkat  dari tahun sebelumnya yang mencapai 625 orang  dengan jumlah korban meninggal dunia empat orang.
  Hal itu didasari kondisi iklim yang tidak menentu seperti hujan yang turun secara tidak teratur. Kondisi tersebut dimanfaatkan oleh nyamuk demam berdarah untuk bersarang di tempat-tempat penampungan air yang tidak tertutup dan kaleng-kaleng bekas atau barang lainnya yang bisa menampung air hujan.
  "Kalau hujannya terus menerus nyamuk akan sulit berkembang biak. Tetapi kalau sehari hujan kemudian panas berhari-hari nyamuk senang bertelur pada kaleng bekas atau ban bekas yang berisi air hujan," ujarnya.
  Menurut dia demam berdarah adalah penyakit yang disebabkan oleh virus "dengue" yang ditularkan melalui gigitan nyamuk "aedes aegypti" dan "aedes albopictus".
  Kedua jenis nyamuk ini terdapat hampir di seluruh pelosok Indonesia kecuali di tempat-tempat ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan air laut.
  Penyebab utama mewabahnya penyakit demam berdarah terutama pada saat musim hujan yang ditambah tingkat kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan masih rendah.
  Ia mengatakan  pihaknya akan berupaya terus menerus menyosialisasikan kepada masyarakat tentang penyakit demam berdarah, bahayanya serta bagaimana cara mencegahanya.
  "Penyakit demam berdarah sampai saat ini belum ditemukan obatnya, karena itu yang bisa dilakukan saat ini hanya mencegah dengan cara menjaga kebersihan lingkungan sekitar," ujarnya.
  Ia mengatakan pencegahan penyakit demam berdarah sangat tergantung pada pengendalian vektornya, yaitu nyamuk "aedes aegypti".
  Pengendalian nyamuk tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode yang tepat yaitu metode lingkungan untuk mengendalikan nyamuk tersebut dengan memberantas sarang nyamuk, pengelolaan sampah padat, modifikasi tempat berkembangbiaknya  nyamuk hasil kegiatan manusia, serta perbaikan desain rumah.
  "Selanjutnya metode biologis dengan menggunakan ikan pemakan jentik (ikan adu/ikan cupang), dan bakteri (Bt.H-14)," katanya.
  Metode lainnya secara kimiawi. Cara pengendalian ini antara lain dengan pengasapan yang berguna untuk mengurangi kemungkinan penularan sampai batas waktu tertentu
  "Metode kimia lainnya adalah memberikan bubuk 'abate' pada tempat penampungan air seperti gentong, vas bunga, dan kolam," katanya.
  Namun cara yang paling efektif dalam mencegah penyakit demam berdarah adalah dengan mengkombinasikan cara-cara di atas yang disebut dengan 3M plus, yaitu menutup penampungan air, menguras air di penampungan secara rutin, dan menimbun kaleng atau barang yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.
  "Dengan metode 3M tersebut saya yakin daerah ini akan bebas dari jentik nyamuk yang bisa berkembang menjadi nyamuk demam berdarah," katanya.(*)

Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026