Mataram, 30/4 (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat mengupayakan "itsbat" nikah atau pengesahan perkawinan yang biasanya berlangsung di perkampungan dan ditindaklanjuti dengan pesta rakyat dijadikan paket wisata religi.

   "Dinas terkait diharapkan terus berkoordinasi dengan para pihak agar pelaksanaan itsbat nikah di kampung-kampung yang disertai 'begawe beleq' atau pesta besar, dapat dijadikan kegiatan wisata religi jika nanti sudah masuk agenda rutin," kata Wakil Gubernur NTB H. Badrul Munir, saat itsbat nikah 100 pasangan, di Mataram, Jumat.

   Pelaksanaan itsbat nikah 100 pasangan suami-istri yang belum memiliki surat nikah (buku nikah) meskipun sudah punya anak, difasilitasi oleh tiga organisasi wanita di Provinsi NTB.

   Ketiga organisasi wanita itu yakni Tim Penggerak PKK, Badan Koordinasi Organisasi Wanita (BKOW) dan Dharma Wanita Persatuan (DPW) Provinsi NTB.    
Tim Penggerak PKK NTB diketuai oleh Hj. Rabiatul Adawiyah, SE, istri Gubernur NTB KH.M. Zainul Majdi, sementara BKOW NTB dipimpin Hj. Martha Elok Eveni, S.Pd (istri Wakil Gubernur NTB H. Badrul Munir) dan DWP NTB dengan koordinator Siti Nurjanah Abdul Malik, SPd (istri Sekda NTB).

   Itsbat nikah itu merupakan salah satu kegiatan dalam memperingati Hari Kartini 21 April 2010.    
Munir mengatakan itsbat nikah  perlu dijadikan agenda rutin dan selalu diubah kemasannya agar  semakin menarik dan semarak.

   "Dengan mendudukkan pasangan pengantin sepuh di singgasana pelaminan, dan lokasinya di kampung-kampung, suasana akan lain dan dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi dunia pariwisata," ujarnya.

   Inovasi seperti itu, kata Munir, hendaknya digagas sebagai suatu upaya nyata menumbuhkembangkan wisata religi yang pada saatnya akan berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

   Menurut dia NTB terus berupaya mengembangkan wisata religi untuk mendatangkan wisatawan sebanyak-banyaknya demi kesuksesan "Visit Lombok Sumbawa" (VLS) 2012 dengan target satu juta wisatawan.

   "Sebagai contoh, atraksi budaya masyarakat yang bermukim di Puyung, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, secara terjadwal akan membuat betah wisatawan yang berkunjung ke Pulau Lombok," katanya.

   Atraksi budaya di perkampungan Puyung itu digelar secara rutin setiap Senin, Rabu dan Sabtu, yang diprakarsai oleh masyarakat setempat dengan tujuan memasyarakatkan kebudayaan sekaligus menarik minat wisatawan.

   Atraksi budaya itu berupa presean (adu pedang kayu), mibing (tarian khas Sasak yang pagelarannya secara spontan), gandrung (tarian Sasak yang para penarinya menggunakan pakaian adat) dan parade gendang beleq (gendang besar).(*)

Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026