Antibodi vaksin COVID-19 Pfizer mungkin bisa berkurang setelah tujuh bulan
Selasa, 5 Oktober 2021 10:32 WIB
Ilustrasi - Tangan dengan sarung tangan medis memegang jarum suntik medis dan botol di depan logo Pfizer. ANTARA/Pavlo Gonchar / SOPA Images/Sipa via Reuters Connect/pri. (Pavlo Gonchar / SOPA Images/Sipa/SOPA Images)
Jakarta (ANTARA) - Tingkat antibodi yang didapat dari vaksin COVID-19 Pfizer-BioNTech kemungkinan berkurang setelah 7 bulan, demikian temuan sebuah studi yang diterbitkan di bioRxiv.
Dalam studi yang belum secara resmi diterbitkan dalam jurnal medis, peneliti menganalisis sampel darah dari 46 orang dewasa muda atau setengah baya yang sehat setelah mereka menerima dua dosis, dan 6 bulan setelah dosis kedua.
"Studi kami menunjukkan vaksin Pfizer-BioNTech menginduksi antibodi penetralisir tingkat tinggi, tetapi kemudian turun hampir 10 kali lipat dalam 7 bulan," kata para peneliti kepada Reuters.
Pada sekitar setengah dari orang dewasa yang diteliti, antibodi penetralisir tidak terdeteksi pada 6 bulan setelah dosis kedua, terutama terhadap varian virus corona seperti Delta, Beta, dan Mu.
Antibodi penetralisir hanya bagian dari pertahanan kekebalan tubuh terhadap virus tetapi sangat penting melindungi tubuh terhadap infeksi virus corona.
"Temuan ini menunjukkan pemberian dosis booster sekitar 6 sampai 7 bulan setelah imunisasi awal kemungkinan akan meningkatkan perlindungan," kata para peneliti.
Sementara itu, pihak BioNTech seperti dikutip dari Financial Times dan WebMD mengatakan, formula vaksin baru kemungkinan akan dibutuhkan pada pertengahan 2022 untuk melindungi dari mutasi virus di masa depan.
"Tahun ini, (vaksin yang berbeda) sama sekali tidak dibutuhkan, tetapi pada pertengahan tahun depan, situasinya bisa berbeda," kata
salah satu pendiri dan CEO BioNTech, Ugur Sahin, MD.
Dia menuturkan, virus corona akan tetap ada dan terus beradaptasi. Menurut dia, ini evolusi berkelanjutan yang baru saja dimulai.
Dalam studi yang belum secara resmi diterbitkan dalam jurnal medis, peneliti menganalisis sampel darah dari 46 orang dewasa muda atau setengah baya yang sehat setelah mereka menerima dua dosis, dan 6 bulan setelah dosis kedua.
"Studi kami menunjukkan vaksin Pfizer-BioNTech menginduksi antibodi penetralisir tingkat tinggi, tetapi kemudian turun hampir 10 kali lipat dalam 7 bulan," kata para peneliti kepada Reuters.
Pada sekitar setengah dari orang dewasa yang diteliti, antibodi penetralisir tidak terdeteksi pada 6 bulan setelah dosis kedua, terutama terhadap varian virus corona seperti Delta, Beta, dan Mu.
Antibodi penetralisir hanya bagian dari pertahanan kekebalan tubuh terhadap virus tetapi sangat penting melindungi tubuh terhadap infeksi virus corona.
"Temuan ini menunjukkan pemberian dosis booster sekitar 6 sampai 7 bulan setelah imunisasi awal kemungkinan akan meningkatkan perlindungan," kata para peneliti.
Sementara itu, pihak BioNTech seperti dikutip dari Financial Times dan WebMD mengatakan, formula vaksin baru kemungkinan akan dibutuhkan pada pertengahan 2022 untuk melindungi dari mutasi virus di masa depan.
"Tahun ini, (vaksin yang berbeda) sama sekali tidak dibutuhkan, tetapi pada pertengahan tahun depan, situasinya bisa berbeda," kata
salah satu pendiri dan CEO BioNTech, Ugur Sahin, MD.
Dia menuturkan, virus corona akan tetap ada dan terus beradaptasi. Menurut dia, ini evolusi berkelanjutan yang baru saja dimulai.
Pewarta : Lia Wanadriani Santosa
Editor : Riza Fahriza
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Indonesia memperkuat riset upayakan vaksin novel TBC tersedia pada 2028-2029
18 December 2025 15:17 WIB
Kemenkes uji coba vaksin HPV anak laki-laki di provinsi dengan cakupan baik
06 December 2025 4:36 WIB
Kota Bima jadi tuan rumah Sosialisasi Imunisasi Heksavalen tingkat Provinsi NTB
28 November 2025 6:25 WIB
Kemenkes menargetkan 90 persen anak laki-laki dan perempuan vaksin HPV di 2030
18 November 2025 4:15 WIB
Terpopuler - Kesehatan
Lihat Juga
Menkes teken aturan baru, Layanan kesehatan wajib jalan saat krisis dan wabah
04 February 2026 15:20 WIB