Distan Mataram ingatkan peternak unggas waspada kemarau basah
Jumat, 10 Juni 2022 19:21 WIB
Ilustrasi: peliharaan unggas milik warga di Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat. (Foto: ANTARA/Nirkomala)
Mataram (ANTARA) - Dinas Pertanian (Distan) Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, mengingatkan para peternak unggas agar waspada terhadap perubahan cuaca kemarau basah, karena berpotensi melahirkan penyakit kepada unggas seperti ayam, bebek, dan burung.
"Sampai hari ini, kami memang belum dapat laporan ada kasus penyakit unggas sebagai dampak perubahan cuaca kemarau basah. Tapi berbagai potensi harus kita antisipasi sedini mungkin," kata Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian (Distan) Kota Mataram Drh Dijan Riyatmoko di Mataram, Jumat.
Menurut dia, antisipasi dari dampak perubahan cuaca kemarau basah ini penting, mengingat Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) sudah menyerang ternak sapi dan kambing di Kota Mataram.
Siklus perubahan cuaca panas menjadi dingin biasanya berdampak pada potensi penyakit unggas, meski dalam beberapa tahun terakhir telah dilakukan upaya antisipasi oleh peternak ayam ras dan ayam petelur komersil.
Beberapa upaya yang sudah dilakukan peternak antara lain pengendalian melalui vaksinasi, rutin dalam membersihkan kandang, dan penyemprotan. Di sisi lain, Distan juga telah menunjuk satu orang petugas khusus yang menangani kelompok unggas untuk melihat kondisi dan perkembangan produksi telur.
Baca juga: Kebutuhan hewan kurban di Kota Mataram akan dipenuhi dari peternak lokal
Petugas tersebut akan melakukan pemantauan terhadap kondisi unggas para peternak, sekaligus melakukan binaan dua kali seminggu untuk meningkatkan produksi. "Pembinaan juga dilakukan untuk mencari solusi terhadap kendala yang dihadapi peternak. Melalui upaya itu, harapan kita bisa meminimalisir serangan penyakit pada unggas," katanya.
Namun, lanjut Dijan, pihaknya lebih khawatir terhadap peternak ayam kampung yang relatif sulit untuk melakukan pemeliharaan atau pemberian vaksin karena ayam kampung dilepas begitu saja. "Di Mataram peternak ayam kampung, sangat sedikit. Itu bisa kita lihat dari populasi ayam kampung di Mataram tidak sampai 1.000 ekor," ujarnya.
"Sampai hari ini, kami memang belum dapat laporan ada kasus penyakit unggas sebagai dampak perubahan cuaca kemarau basah. Tapi berbagai potensi harus kita antisipasi sedini mungkin," kata Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian (Distan) Kota Mataram Drh Dijan Riyatmoko di Mataram, Jumat.
Menurut dia, antisipasi dari dampak perubahan cuaca kemarau basah ini penting, mengingat Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) sudah menyerang ternak sapi dan kambing di Kota Mataram.
Siklus perubahan cuaca panas menjadi dingin biasanya berdampak pada potensi penyakit unggas, meski dalam beberapa tahun terakhir telah dilakukan upaya antisipasi oleh peternak ayam ras dan ayam petelur komersil.
Beberapa upaya yang sudah dilakukan peternak antara lain pengendalian melalui vaksinasi, rutin dalam membersihkan kandang, dan penyemprotan. Di sisi lain, Distan juga telah menunjuk satu orang petugas khusus yang menangani kelompok unggas untuk melihat kondisi dan perkembangan produksi telur.
Baca juga: Kebutuhan hewan kurban di Kota Mataram akan dipenuhi dari peternak lokal
Petugas tersebut akan melakukan pemantauan terhadap kondisi unggas para peternak, sekaligus melakukan binaan dua kali seminggu untuk meningkatkan produksi. "Pembinaan juga dilakukan untuk mencari solusi terhadap kendala yang dihadapi peternak. Melalui upaya itu, harapan kita bisa meminimalisir serangan penyakit pada unggas," katanya.
Namun, lanjut Dijan, pihaknya lebih khawatir terhadap peternak ayam kampung yang relatif sulit untuk melakukan pemeliharaan atau pemberian vaksin karena ayam kampung dilepas begitu saja. "Di Mataram peternak ayam kampung, sangat sedikit. Itu bisa kita lihat dari populasi ayam kampung di Mataram tidak sampai 1.000 ekor," ujarnya.
Pewarta : Nirkomala
Editor : I Komang Suparta
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Terpopuler - Kesra
Lihat Juga
Pengelolaan sampah Nasional naik ke 24,95 persen, Target 100 persen masih jauh
11 February 2026 17:18 WIB
Sebanyak 1,67 juta orang diprediksi padati Ketapang--Gilimanuk pada Lebaran
11 February 2026 6:40 WIB