Dinkes NTB ingatkan masyarakat waspadai DB
Selasa, 5 November 2024 17:48 WIB
Kepala Dinas Kesehatan Nusa Tenggara Barat Lalu Hamzi Fikri memaparkan upaya pencegahan demam berdarah dengue di Mataram, Nusa Tenggara Barat, Selasa (5/11/2024). (ANTARA/Sugiharto Purnama)
Mataram (ANTARA) - Kepala Dinas Kesehatan Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Hamzi Fikri mengingatkan masyarakat agar mewaspadai penyakit demam berdarah dengue (DBD) karena saat ini sudah masuk musim hujan.
"Ketika hujan sebentar saja dan air tergenang, potensi tumbuhnya jentik nyamuk menjadi tinggi," ujarnya di Mataram, Selasa.
Ia menjelaskan demam berdarah dengue merupakan penyakit yang diakibatkan infeksi virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti.
"Gejala demam berdarah dengue dapat berupa demam, nyeri belakang mata, nyeri sendi, mual, muntah, dan kulit muncul bintik-bintik merah," ujarnya.
Fikri menyampaikan bahwa masyarakat perlu mewaspadai demam berdarah karena beberapa wilayah telah melaporkan peningkatan kasus tersebut.
"Ada beberapa lokasi kemarin melaporkan kasus demam berdarah dengue sudah mulai ada peningkatan, bahkan ada yang sampai dirujuk,” ucapnya.
Baca juga: Dinkes perkuat investigasi kontak untuk menekan kasus tuberkulosis di NTB
Fikri menekankan pentingnya menjaga sanitasi lingkungan untuk mencegah penyakit berbasis lingkungan, seperti demam berdarah dengue. Sanitasi yang buruk dapat berkontribusi hingga 42 persen terhadap masalah kesehatan.
Selain demam berdarah dengue, menurut dia, penyakit lain seperti diare, infeksi saluran pernapasan atas, dan penyakit kulit juga bisa meningkat akibat sanitasi yang kurang baik.
Baca juga: Jakarta ingatkan peran orang tua dibutuhkan
Ia menyebutkan tidak semua masyarakat sadar terhadap pentingnya kesehatan lingkungan, terutama masyarakat yang posisinya harus terus diingatkan akan hal itu. Oleh karena itu, puskesmas sebagai garda terdepan harus terus mengedukasi masyarakat.
"Kesehatan merupakan kebutuhan mendasar dan kebutuhan dasar itu menjadi prioritas pemerintah," kata Fikri.
"Ketika hujan sebentar saja dan air tergenang, potensi tumbuhnya jentik nyamuk menjadi tinggi," ujarnya di Mataram, Selasa.
Ia menjelaskan demam berdarah dengue merupakan penyakit yang diakibatkan infeksi virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti.
"Gejala demam berdarah dengue dapat berupa demam, nyeri belakang mata, nyeri sendi, mual, muntah, dan kulit muncul bintik-bintik merah," ujarnya.
Fikri menyampaikan bahwa masyarakat perlu mewaspadai demam berdarah karena beberapa wilayah telah melaporkan peningkatan kasus tersebut.
"Ada beberapa lokasi kemarin melaporkan kasus demam berdarah dengue sudah mulai ada peningkatan, bahkan ada yang sampai dirujuk,” ucapnya.
Baca juga: Dinkes perkuat investigasi kontak untuk menekan kasus tuberkulosis di NTB
Fikri menekankan pentingnya menjaga sanitasi lingkungan untuk mencegah penyakit berbasis lingkungan, seperti demam berdarah dengue. Sanitasi yang buruk dapat berkontribusi hingga 42 persen terhadap masalah kesehatan.
Selain demam berdarah dengue, menurut dia, penyakit lain seperti diare, infeksi saluran pernapasan atas, dan penyakit kulit juga bisa meningkat akibat sanitasi yang kurang baik.
Baca juga: Jakarta ingatkan peran orang tua dibutuhkan
Ia menyebutkan tidak semua masyarakat sadar terhadap pentingnya kesehatan lingkungan, terutama masyarakat yang posisinya harus terus diingatkan akan hal itu. Oleh karena itu, puskesmas sebagai garda terdepan harus terus mengedukasi masyarakat.
"Kesehatan merupakan kebutuhan mendasar dan kebutuhan dasar itu menjadi prioritas pemerintah," kata Fikri.
Pewarta : Sugiharto Purnama dan Nurmita
Editor : I Komang Suparta
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Terpopuler - Seleksi calon sekda NTB, harga emas turun, Edy Murbowo jabat Kapolda NTB, tanah berdarah hingga kampung nelayan
21 December 2025 6:48 WIB
Pemda Dompu keluarkan peringatan kewaspadaan dini terhadap DBD dan penyakit berbasis lingkungan
31 October 2025 21:27 WIB
Terpopuler - Kota Mataram
Lihat Juga
Tak sekadar renovasi, Pasar Cakranegara Mataram disiapkan jadi kawasan budaya
27 January 2026 17:26 WIB