Mataram (ANTARA) - Ekonomi kreatif semakin dipandang sebagai salah satu mesin pertumbuhan baru bagi daerah. Dalam beberapa tahun terakhir, sektor ini tidak lagi dilihat sekadar sebagai pelengkap pariwisata, tetapi sebagai sumber nilai tambah yang mampu menciptakan lapangan kerja, memperkuat identitas budaya, sekaligus mendorong inovasi ekonomi.
Pemerintah bahkan menempatkan koridor Bali, Nusa Tenggara, termasuk Nusa Tenggara Barat (NTB), sebagai kawasan superhub pariwisata dan ekonomi kreatif bertaraf internasional dalam visi pembangunan jangka panjang menuju 2045.
Posisi strategis tersebut menempatkan NTB pada momentum penting untuk menjadikan kreativitas masyarakat sebagai fondasi baru pertumbuhan ekonomi daerah.
NTB memiliki modal sosial dan budaya yang kuat untuk mengembangkan ekonomi kreatif. Berbagai kegiatan ekonomi berbasis budaya telah lama hidup di tengah masyarakat, mulai dari tenun tradisional Lombok dan Sumbawa, kerajinan kriya, kuliner lokal, hingga seni pertunjukan yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Tenun, misalnya, bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga sumber penghidupan bagi ribuan keluarga. Di Kabupaten Sumbawa Barat, pemerintah daerah bahkan menyelenggarakan pelatihan pengembangan motif tenun selama 20 hari guna meningkatkan kualitas produk dan memperkuat daya saing pasar.
Upaya semacam ini menunjukkan bahwa inovasi desain dapat memperpanjang umur ekonomi sebuah tradisi.
Ekonomi kreatif juga berkembang melalui berbagai festival dan pameran produk lokal. Kegiatan seperti Karya Kreatif NTB maupun Lombok Sumbawa Tenun Festival tidak hanya menampilkan produk kerajinan, tetapi juga menghadirkan bazar kriya, pertunjukan seni, hingga pasar kuliner.
Festival semacam ini memperlihatkan bahwa ekonomi kreatif memiliki efek berantai yang luas, dari produksi hingga konsumsi.
Fenomena lain yang menarik adalah munculnya inisiatif ekonomi kreatif berbasis desa. Pembentukan museum desa di beberapa wilayah Lombok memperlihatkan bagaimana pelestarian sejarah dapat dipadukan dengan aktivitas ekonomi baru.
Museum tidak lagi sekadar ruang penyimpanan artefak, melainkan juga ruang berkumpul komunitas yang mengolah cerita budaya menjadi pengalaman wisata bernilai ekonomi.
Namun, potensi besar tersebut tidak lepas dari berbagai tantangan. Akses pembiayaan masih menjadi persoalan utama bagi banyak pelaku ekonomi kreatif.
Sebagian besar usaha kreatif berkembang dalam skala kecil dengan model bisnis yang berbasis ide, desain, dan kekayaan intelektual, sesuatu yang sering kali sulit dijadikan jaminan dalam sistem kredit perbankan konvensional.
Dalam konteks ini, kebijakan pemerintah yang menjadikan NTB sebagai percontohan implementasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi pelaku ekonomi kreatif menjadi langkah strategis.
Skema ini membuka kemungkinan bagi pelaku usaha untuk memperoleh pembiayaan dengan mempertimbangkan potensi kekayaan intelektual sebagai bagian dari penilaian usaha.
Meski demikian, pembiayaan saja tidak cukup. Pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia juga masih menghadapi persoalan kapasitas sumber daya manusia dan keterbatasan infrastruktur digital.
Banyak pelaku kreatif memiliki kemampuan produksi yang baik, tetapi belum sepenuhnya menguasai manajemen usaha, pengembangan merek, maupun pemasaran digital.
Di era ekonomi digital, kualitas produk saja tidak lagi memadai. Produk harus disertai narasi, identitas visual yang kuat, serta strategi pemasaran yang mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
Tanpa dukungan ekosistem digital yang memadai, potensi kreativitas lokal akan sulit berkembang melampaui pasar regional.
Karena itu, pengembangan ekonomi kreatif memerlukan pendekatan kebijakan yang lebih terpadu. Ekosistem kreatif setidaknya bertumpu pada empat pilar utama, yakni talenta, pembiayaan, pasar, dan ruang kreatif.
Pengembangan talenta harus dimulai dari pendidikan dan pelatihan yang relevan dengan kebutuhan industri kreatif, termasuk desain, multimedia, produksi konten, dan teknologi digital.
Di sisi lain, skema pembiayaan seperti KUR perlu disertai sistem kurasi yang memastikan dukungan modal diberikan kepada usaha yang memiliki prospek berkembang.
Produk kreatif juga membutuhkan panggung. Festival, pameran, dan platform digital perlu dimanfaatkan sebagai etalase bagi karya-karya lokal agar mampu menjangkau pasar nasional hingga global.
Selain itu, kota dan desa juga perlu menyediakan ruang kreatif bagi komunitas untuk berkolaborasi dan bereksperimen.
Dalam konteks NTB, kawasan Mandalika memiliki peluang besar menjadi pusat ekosistem ekonomi kreatif berbasis pariwisata dan teknologi. Pengembangan kawasan ini semestinya tidak hanya berfokus pada investasi hotel atau event olahraga, tetapi juga pada tumbuhnya komunitas kreator dan industri kreatif digital.
Masa depan ekonomi NTB tidak hanya ditentukan oleh sumber daya alam atau proyek infrastruktur besar. Masa depan itu juga ditentukan oleh kemampuan daerah memelihara kreativitas warganya.
Tantangannya kini adalah memastikan potensi tersebut tidak berhenti sebagai bakat, melainkan berkembang menjadi kekuatan ekonomi yang berkelanjutan bagi daerah.
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Menata ulang strategi pengentasan kemiskinan di NTB
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Bypass Lembar-Kayangan: Dari logistik ke pertahanan
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Menjaga NTB dengan akar pohon
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Inovasi NTB menunggu perlindungan nyata