Mataram (ANTARA) - Sastra seringkali dianggap sebagai hiasan bibir dalam peradaban, sebuah narasi sekunder yang hanya dinikmati oleh segelintir kaum intelektual di menara gading. Namun, secara epistemologis, sastra adalah cermin cemerlang yang memantulkan kompleksitas kemanusiaan kita. Ia bukan sekadar deretan kata yang berima, melainkan sebuah instrumen kognitif yang memungkinkan manusia memahami empati, moralitas, dan eksistensi dalam ruang waktu yang tidak terbatas.
Mengapa sastra itu perlu? Jawabannya terletak pada kemampuan sastra dalam menyediakan "laboratorium kemanusiaan". Melalui fiksi, pembaca dihadapkan pada dilema etis dan emosional yang mungkin tidak akan pernah mereka temui dalam kehidupan nyata. Sastra mengasah kepekaan afektif kita, memungkinkan kita untuk merasakan penderitaan orang asing di seberang samudra atau memahami motif di balik pengkhianatan orang terdekat yang paling pahit sekalipun.
Secara sosiologis, sastra berfungsi sebagai penjaga memori kolektif sebuah bangsa. Tanpa sastra, sejarah hanyalah deretan angka dan data statistik yang kering dan dingin. Sastra memberikan "daging" pada tulang belulang sejarah, menghidupkan kembali suasana batin sebuah zaman, dan memastikan bahwa suara-suara yang terbungkam oleh kekuasaan tetap mendapatkan ruang untuk bergema di telinga generasi mendatang.
Namun, menengok kondisi kesusastraan Indonesia saat ini, kita dihadapkan pada realitas yang cukup mengkhawatirkan. Ada pergeseran paradigma yang fundamental dalam cara kita memproduksi dan mengonsumsi karya. Sastra yang dulunya menjadi panglima dalam diskursus pemikiran nasional, kini tampak terengah-engah di pinggiran arus informasi yang serba cepat dan dangkal.
Gairah menulis sastra di Indonesia tengah mengalami degradasi kuantitas dan kualitas yang cukup signifikan. Fenomena ini bukan disebabkan oleh kurangnya talenta, melainkan karena perubahan orientasi kepenulisan yang kini lebih banyak mengejar algoritma daripada kedalaman makna. Banyak penulis muda terjebak dalam tuntutan "konten" yang harus viral, sehingga nilai estetika dan filosofis dalam karya seringkali dikorbankan demi jumlah likes dan shares.
Algoritma platform digital telah mengubah lanskap literasi kita menjadi sebuah arena pacuan yang melelahkan. Karya sastra yang membutuhkan perenungan mendalam dan waktu baca yang lama cenderung dikalahkan oleh tulisan-tulisan instan yang memancing emosi sesaat atau clickbait. Akibatnya, terjadi standardisasi selera di mana karya yang dianggap "bagus" adalah karya yang populer secara statistik, bukan karena kualitas literer yang dimilikinya.
Kondisi ini diperparah dengan hilangnya ruang-ruang apresiasi di media mainstream. Sejarah mencatat bahwa surat kabar nasional dulunya adalah kurator utama sastra Indonesia. Halaman budaya dan kolom cerpen minggu bukan sekadar pelengkap, melainkan panggung prestisius bagi para sastrawan untuk menguji kualitas pemikiran mereka di hadapan publik yang kritis.
Kini, fakta di lapangan menunjukkan bahwa banyak media arus utama telah menghapus rubrik sastra mereka. Alasan yang dikemukakan seringkali bersifat pragmatis-ekonomis, sastra tidak lagi mendatangkan "traffic" yang menguntungkan secara iklan. Ketika orientasi media berubah total menjadi pengejaran pageviews, sastra yang bersifat kontemplatif dianggap sebagai beban yang tidak produktif secara finansial.
Tumbangnya ruang-ruang kurasi formal di media cetak menciptakan kekosongan besar dalam ekosistem sastra kita. Memang benar bahwa platform digital menawarkan demokratisasi dalam berkarya, namun tanpa kurasi yang ketat, kualitas karya cenderung mengalami pendangkalan. Kita terjebak dalam lautan teks yang melimpah, namun sangat sedikit yang benar-benar memberikan pencerahan bagi jiwa dan nalar.
Para penulis kita sekarang berdiri di persimpangan jalan yang sulit. Di satu sisi, ada idealisme untuk menciptakan karya monumental yang abadi, namun di sisi lain, ada kebutuhan mendesak untuk tetap relevan dalam ekosistem digital yang kejam. Tekanan untuk terus berproduksi dengan cepat demi memenuhi algoritma seringkali mematikan proses inkubasi ide yang diperlukan untuk menghasilkan karya sastra yang bernas.
Sastra telah terpinggirkan ke sudut-sudut sunyi dunia digital, kalah bersaing dengan konten visual yang lebih distraktif. Padahal, kekuatan sastra justru terletak pada "kelambatan" dan "kedalaman" yang ia tawarkan. Di tengah dunia yang bergerak terlalu cepat, sastra seharusnya menjadi rem darurat yang memaksa manusia untuk berhenti sejenak dan berpikir tentang hakikat keberadaan mereka.
Degradasi ini juga berdampak pada daya kritis masyarakat. Sastra melatih pembaca untuk tidak menerima makna secara harfiah, namun untuk mencari makna di balik teks. Ketika sastra ditinggalkan, masyarakat cenderung menjadi lebih mudah terprovokasi oleh narasi-narasi tunggal dan hoaks, karena kemampuan untuk melakukan pembacaan yang mendalam dan kritis telah tumpul akibat konsumsi konten instan.
Kita perlu menyadari bahwa sastra bukanlah komoditas yang bisa diukur dengan metrik digital semata. Nilai sebuah puisi tidak terletak pada berapa banyak ia dibagikan di media sosial, melainkan pada bagaimana ia mampu mengubah cara pandang seseorang terhadap dunia. Jika kita terus membiarkan algoritma mendikte apa yang layak dibaca dan ditulis, maka kita sedang menuju ke arah kebangkrutan spiritual dan intelektual.
Revitalisasi sastra Indonesia memerlukan upaya kolektif yang luar biasa. Media-media perlu kembali memberikan ruang untuk para penulis sastra, pemerintah perlu memberikan dukungan pada ekosistem literasi yang sehat, dan para penulis harus berani melawan arus algoritma demi menjaga integritas karya mereka. Sastra harus kembali diletakkan di pusat kebudayaan, bukan sekadar pelengkap di pinggiran media.
Di tengah gempuran teknologi dan kecerdasan buatan yang mampu merangkai kata dengan kecepatan cahaya, kita kembali pada satu pertanyaan mendasar yang perlu menjadi renungan bersama, masihkah kita memercayai bahwa kata-kata yang lahir dari pergulatan batin manusia memiliki kekuatan untuk mengubah dunia, ataukah kita sudah menyerahkan kemudi peradaban kita sepenuhnya kepada algoritma yang tidak memiliki jiwa?
* Aktifis dakwah, pegiat seni sastra dan teater.
Silahkan gabung ke saluran WhatsApp Antara NTB https://whatsapp.com/channel/0029VacPaptKrWR5kjjDmn1D