Mataram (ANTARA) - Mari kita mulai dengan sebuah kebenaran universal dalam teori ekonomi. Jika kita menggunakan sebuah perumpamaan, bank sentral dalam ekonomi modern adalah rumah ibadah, dan mesin cetak uang adalah altarnya yang paling sakral. Secara teori, mencetak uang berlebih adalah upaya menciptakan berkah dari ketiadaan (creatio ex nihilo). Namun, dalam sosiologi kekuasaan, ketika sebuah negara memutuskan untuk menyalakan mesin cetaknya tanpa henti demi melunasi utang, ia sebenarnya sedang melakukan ritual pemanggilan arwah yang paling ditakuti dalam sejarah ekonomi, hiperinflasi. Ini adalah momen sakral sekaligus konyol, di mana selembar kertas yang kemarin bisa membeli seekor sapi, hari berikutnya hanya cukup untuk menjadi tisu toilet yang kasar, syukur-syukur masih bisa untuk membeli garam. 

Secara mekanis, dampak ekonomi dari syahwat mencetak uang ini sangat mudah ditebak, mirip seperti plot film horor ala Indonesia. Ketika jumlah uang beredar meledak tanpa dibarengi peningkatan produksi barang atau jasa, nilai intrinsik dari mata uang tersebut runtuh seketika. Hukum penawaran dan permintaan bekerja layaknya karma instan. Terjadilah apa yang dalam sosiologi ekonomi disebut sebagai kepunahan kelas menengah, tabungan seumur hidup yang dikumpulkan dengan cucuran keringat mendadak menguap menjadi angka-angka tak bermakna. Uang akan kehilangan fungsinya sebagai penyimpan nilai dan alat tukar yang sah, berubah menjadi seonggok berhala kertas yang tak lagi memiliki jamaah yang percaya pada kesaktiannya.

Jika kita melihat catatan sejarah, umat manusia berulang kali tergelincir ke dalam dosa ekonomi yang sama. Mari menengok Zimbabwe pada akhir dekade 2000-an sebagai contoh nyata dari "ajaran sesat" ini. Di bawah khotbah politik Robert Mugabe, bank sentral negara tersebut mencetak uang dengan kecepatan yang melampaui akal sehat demi membiayai pengeluaran pemerintah. Hasilnya? Sebuah komedi getir di mana setiap warga negara mendadak menjadi triliuner, namun mereka harus membawa satu gerobak penuh uang kertas bermata uang lokal hanya untuk menebus sebungkus nasi balap. Inflasi bulanan mencapai miliaran persen, membuktikan bahwa ketika negara bermain menjadi Tuhan dengan menciptakan nilai palsu, pasar akan mengirimkan azab berupa kehancuran total.

Situasi tersebut seperti sebuah perumpamaan tentang seorang pelayan restoran yang panik karena supnya terlalu asin. Bukannya membuang atau memasak ulang supnya, ia malah terus-menerus menambahkan air tawar ke dalam panci hingga meluber. Supnya memang bertambah banyak secara volume, tetapi rasanya hambar dan tak ada lagi pelanggan yang sudi memakannya. Begitulah gambaran negara yang menyiram ekonominya dengan likuiditas tanpa henti, volume uangnya melimpah ruah, namun daya belinya lenyap, menyisakan masyarakat yang kelaparan di atas tumpukan kertas tak berharga.

Kini, rumor mulai berhembus dari belahan bumi barat, tepatnya dari kiblat kapitalisme global, Amerika Serikat. Di jagat maya, mulai terdengar bisikan bahwa sang negara adidaya mungkin akan menempuh jalan ini secara ekstrem—mencetak dolar secara ugal-ugalan demi menjinakkan bom waktu utang nasional mereka yang telah menembus angka puluhan triliun USD. Tentu saja, Trump dan para arsitek kebijakan di Federal Reserve akan membungkus ritual ini dengan eufemisme akademis yang terdengar agung seperti Quantitative Easing tingkat lanjut atau modern monetary theory. Namun, bagi pengamat asing yang netral dari kejauhan, ritual ini akan terlihat seperti seorang dukun yang mencoba menyembuhkan kanker dengan rapalan mantra penolak bala.

Tragisnya, sumbu pendek dari bom waktu utang ini tampaknya telah dipicu oleh syahwat geopolitik yang tak terkendali, keputusan fatal menabuh genderang perang melawan Iran.
Membuka front pertempuran terbuka dengan Teheran bukan sekadar urusan adu otot militer di Selat Hormuz, melainkan suatu langkah bunuh diri ekonomi bagi Washington. Perang berskala besar di Timur Tengah ini secara instan akan membakar miliaran dolar per hari dari kas negara AS yang sebenarnya sudah keropos. Ketika pasokan minyak global tersumbat dan harga energi meroket ke angka yang tak masuk akal, biaya operasional militer dan domestik Amerika akan membengkak ke tingkat yang mengerikan.

Defisit anggaran yang sudah menganga lebar akan berubah menjadi jurang tanpa dasar. Dalam kondisi panik karena terjebak dalam perang mahal yang tak bisa dimenangkan dengan cepat, Washington tidak lagi memiliki kemewahan untuk meminjam secara normal. Satu-satunya jalan pintas yang tersisa adalah memaksa Federal Reserve memutar tuas mesin cetak dolar sekencang-kencangnya demi mendanai mesin perang mereka. Perang melawan Iran inilah yang akan menjadi pemicu utama, katalis sempurna yang mengubah kecemasan fiskal menjadi lonjakan krisis ekonomi yang nyata dan destruktif.

Jika Washington benar-benar melegitimasi "sekte" pencetakan uang ugal-ugalan ini, dampak ekonomi yang menunggu Amerika Serikat bukan sekadar inflasi biasa, melainkan sebuah krisis eksistensial. Posisinya sebagai pemegang takhta reserve currency global—mata uang suci yang disembah oleh seluruh bank sentral di dunia—akan runtuh. Begitu dunia menyadari bahwa dolar diproduksi semudah membalik telapak tangan tanpa jaminan aset yang nyata, "iman" global terhadap Greenback ini pasti akan goyah. Ini adalah bentuk murtad ekonomi masal, di mana negara-negara sekutu maupun rival akan berbondong-bondong mencampakkan dolar dan beralih ke komoditas riil seperti emas atau bahkan instrumen digital.

Kehilangan status sebagai mata uang global berarti Amerika tidak bisa lagi "mengekspor" inflasinya ke luar negeri. Selama puluhan tahun, AS beruntung karena setiap kali mereka mencetak dolar, dunia dengan senang hati menyerapnya. Jika kenyamanan kosmik ini hilang, seluruh likuiditas berlebih itu akan berbalik pulang layaknya kutukan yang kembali kepada penyihirnya. Pasar domestik Amerika akan dibanjiri oleh dolar-dolar yang tak diinginkan di luar negeri, memicu lonjakan harga barang pokok secara eksponensial. Biaya hidup di New York atau Los Angeles akan melesat ke langit, mengubah impian Amerika (American Dream) menjadi mimpi buruk kolektif yang sangat egaliter—dalam artian semua kelas sosial akan menderita bersama.

Hiperinflasi atau inflasi ekstrem di negara adidaya akan memicu keretakan sosial yang akut. Ketika daya beli runtuh, kontrak sosial antara penguasa dan rakyatnya batal demi hukum. Kita akan menyaksikan polarisasi masyarakat yang semakin anarkis, lingkaran elit politik yang terus melantunkan dogma bahwa "semua baik-baik saja" akan berhadapan dengan massa yang merasa dikhianati oleh sistem. Struktur kelas akan bergeser secara radikal, di mana kepemilikan aset riil seperti tanah dan pabrik menjadi satu-satunya pelindung, sementara para pekerja upahan yang memegang uang tunai akan tersingkir ke pinggiran peradaban ekonomi.

Menyaksikan drama ini dari kursi penonton yang netral sungguh memberikan hiburan. Sungguh jenaka melihat bagaimana sebuah peradaban yang mengklaim diri paling rasional, ilmiah, dan maju, pada akhirnya tunduk pada takhayul kuno, bahwa kemakmuran bisa diciptakan hanya dengan memperbanyak simbol visual kekayaan (uang kertas), bukan dengan memproduksi nilai nyata. Mereka yang dahulu menertawakan negara-negara dunia ketiga karena salah urus ekonomi, kini berpotensi mengantre di altar yang sama, memohon mukjizat dari mesin cetak yang mulai kepanasan.

Akhirul kalam, ekonomi selalu memiliki cara yang tegas untuk menegakkan hukum alamnya. Tidak peduli seberapa perkasa militer suatu negara atau seberapa agung narasi politik yang mereka gaungkan, manipulasi terhadap hakikat uang akan selalu berakhir dengan kepunahan daya beli. Jika Amerika Serikat benar-benar memilih jalan sesat dengan mencetak uang secara berlebihan, mereka hanya akan membuktikan satu hal kepada alam semesta, bahwa di hadapan keserakahan dan kepanikan ekonomi, semua negara—baik yang miskin di Afrika maupun yang adidaya di Amerika—memiliki kadar kekonyolan yang sama persis.

Baca juga: Gelar haji nusantara: dari memori intelejen kompeni hingga simbol kesalehan.
Baca juga: Sastra Indonesia di tengah tirani algoritma

 

* Penulis adalah Alumni Magister Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Mataram


 





COPYRIGHT © ANTARA 2026