Mataram (ANTARA) - Dinas Kesehatan Nusa Tenggara Barat menargetkan sebanyak 2,6 juta lebih warga setempat mengikuti program cek kesehatan gratis (CKG) selama tahun 2026.
"Pada tahun ini kita menargetkan sebanyak 2,663 juta jiwa atau 46 persen dari total penduduk NTB mendapatkan layanan skrining cek kesehatan gratis," kata Kepala Dinas Kesehatan NTB, dr Lalu Hamzi Fikri di Mataram, Sabtu.
Ia menegaskan untuk mencapai target 2,663 juta warga itu pihaknya saat ini tengah menggenjot program CKG di seluruh pelosok NTB.
"Sasaran CKG sangat luas, mulai dari bayi hingga lansia," ujarnya.
Hamzi mengatakan masyarakat dapat mengakses layanan ini di Puskesmas, Pustu, Posyandu, hingga melalui layanan komunitas di berbagai acara atau kegiatan besar di NTB.
"CKG merupakan upaya skrining untuk mendeteksi faktor risiko penyakit sejak dini dan ini adalah hak setiap masyarakat untuk mendapatkan layanan kesehatan gratis di seluruh fasilitas kesehatan atau faskes," terang Hamzi Fikri.
Menurut dia, seluruh data pasien nantinya akan terekam secara digital melalui aplikasi Satusehat Indonesia.
Baca juga: Dinkes Lombok Timur catat 9 kasus HIV/AIDS di awal 2026
"Sebagai bagian dari program Hasil Tercepat Presiden Prabowo yang dimulai sejak Maret 2025," katanya.
Selain CKG, pihaknya juga tengah menggencarkan penanganan Tuberkulosis (TBC). Pada tahun 2025, penemuan kasus baru TBC mencapai 61 persen dari target 90 persen.
Meskipun layanan pengobatan di faskes sudah maksimal, kendala utama terletak pada pengawasan minum obat yang sering terputus.
Baca juga: Dinkes targetkan 11 puskesmas se-Mataram buka layanan fisioterapi
"Faktanya, anggota keluarga yang merasa sehat seringkali enggan minum obat pencegahan. Padahal itu wajib," tegas Hamzi.
Dinas Kesehatan NTB sendiri saat ini sedang memperkenalkan strategi "Terapi Pencegahan" yang wajib diikuti oleh anggota keluarga yang tinggal se-rumah dengan penderita TBC.
"Kami mendorong peran aktif masyarakat melalui 40 Desa Berdaya Siaga TBC sebagai program unggulan. Harapan kita, 40 desa ini bisa 100 persen bebas TBC ke depannya," ujarnya.
Ia menegaskan terdapat tiga pilar penanganan TBC di NTB. Pertama, penemuan kasus melalui peningkatan skrining aktif di masyarakat. Kedua, pengobatan di mana memastikan pelayanan maksimal begitu pasien terdiagnosa. Ketiga, terapi pencegahan
"Jadi, melindungi orang sehat yang berisiko tertular di keluarga dan lingkungan sekitar," katanya.