"Sokola Rimba" lahir dari perpaduan budaya dan pendidikan

id sokola rimba,butet manurung,melawan setan bermata runcing

"Sokola Rimba" lahir dari perpaduan budaya dan pendidikan

Pendiri Sokola Rimba (Sokola Institute) Butet Manurung (kedua kiri) bersama kawan-kawannya, dalam kegiatan tur bedah buku dan diskusi pendidikan "Melawan Setan Bermata Runcing" di Aula Museum Negeri NTB, Jumat petang (14/2/2020). (ANTARA/Dhimas B.P.)

Mataram (ANTARA) - Butet Manurung mengatakan "Sokola Rimba" yang dia gagas bersama kawan-kawan sampai akhirnya membuat sebuah karya dalam bentuk tulisan buku "Melawan Setan Bermata Runcing", lahir dari perpaduan budaya dengan pendidikan.

"Jadi kekuatan 'Sokola' itu adalah memasukkan budaya sebagai bagian dari pendidikan itu sendiri," kata Butet Manurung, pendiri Sokola Rimba (Sokola Institute) yang ditemui di sela kegiatan tur bedah buku dan diskusi pendidikan "Melawan Setan Bermata Runcing" di Aula Museum Negeri NTB di Mataram, Jumat petang.

Hal tersebut yang kemudian menjadi alasan Butet Manurung bersama kawan-kawan memilih Pulau Lombok sebagai rute perjalan terakhir dari tur bedah buku dan diskusi pendidikan "Melawan Setan Bermata Runcing".

"Jadi itu salah satu alasannya kenapa kami memilih Lombok, karena budayanya yang kuat," ujarnya.

Alasan memilih Pulau Lombok sebagai tujuan kegiatannya juga dilihat dari antusiasme para relawan pendidikan yang cukup tinggi. Hal tersebut dia lihat ketika menggelar simposium "volunter" pendidikan di Universitas Mataram pada November 2019.

"Jadi dari situ saya mengusulkan ke teman-teman, kalau kita buat tur bedah buku, kita harus libatkan Lombok. Karena Lombok fenomena komunitas relawan pendidikannya itu banyak, tapi kurang terorganisir," ucapnya.

Karenanya, dalam kegiatan ini, Butet Manurung bersama kawan-kawan ingin berbagi pengalaman ke masyarakat, khususnya kepada para relawan pendidikan yang ada di Pulau Lombok.

Butet Manurung bersama kawan-kawan tidak ingin sekolah menjadi alasan masyarakat mengorbankan budaya, adat istiadat maupun mata pencarian yang sudah hadir sebelum adanya pendidikan formal masuk ke lingkungannya.

"Jadi kami tidak mau gara-gara sekolah, kemudian orang mengorbankan adat istiadat, mata pencarian. Tapi bagaimana mata pencarian dan adat istiadat itu tidak hilang, justru itu semua dianggap seperti sekolah, pendidikan bagi si anak itu," kata Butet Manurung.

Seperti kondisi Pulau Lombok yang saat ini sedang mempersiapkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika di kawasan Pantai Kuta, Kabupaten Lombok Tengah, yang harapannya bisa menjadi peluang kesejahteraan masyarakat.

Namun, katanya, dengan gencarnya pola pembangunan yang didominasi oleh para penanam modal asing, tidak kemudian mengharuskan masyarakat melunturkan warisan budaya.

"Harapan banyak kepada masyarakat Lombok supaya bisa sedini mungkin mengantisipasi perubahan yang datang. Jangan sampai masyarakat Lombok hanya jadi penonton, tapi harus jadi orang yang bisa mengendarai perubahan waktu," ucapnya.
Pewarta :
Editor: Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar