Mataram, 14/7 (ANTARA) - Aparat kepolisian tengah menyelidiki penyebab kebakaran di rumah pimpinan Pondok Pesantren Khilafiah Umar Bin Khatab di Desa Sanolo, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat.
  Rumah yang ditempati Ustadz Abrori yang terletak di dalam kompleks Pondok Pesantren (Ponpes) Umar Bin Khatab itu, terbakar pada Kamis pukul 05.00 Wita, atau beberapa jam setelah Satuan Tugas Khusus Gabungan (Satgasusgab) Polda Nusa Tenggara Barat (NTB) melakukan penggerebekan ponpes itu.
  Kepala Sub Bidang (Kasubid) Penerangan Masyarakat (Penmas) Bidang Humas Polda NTB AKP Lalu Wirajaya, mengatakan, masyarakat di sekitar ponpes itu ikut membantu memadamkan kobaran api di rumah pimpinan Ponpes Umar Bin Khatab itu.
  "Setelah api dipadamkan sekitar pukul 10.00 Wita, petugas Satgasusgab kembali menggeledah, olah TKP (Tempat Kejadian Perkara) dan penyisiran terhadap benda-benda dan tempat yang ada kaitannya dengan aktivitas ponpes," ujarnya.
  Wirajaya mengakui, adanya kecurigaan dibalik kebakaran rumah pimpinan Ponpes Umar Bin Khatab itu, karena penghuninya telah kabur meninggalkan rumah itu.
  "Apakah dibakar oleh penghuninya atau orang lain, atau memang terbakar karena apa, itu harus diselidiki agar jelas masalahnya," ujarnya.
  Untuk kepentingan penyelidikan lebih lanjut, kata Wirajaya, Polda NTB masih menempatkan satu kompi Brimob di Desa Sanolo, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima, atau di sekitar areal ponpes itu.
  Satu kompi Brimob lainnya ditempatkan di Polsek Bolo, guna mengantisipasi kemungkinan serangan balik pihak-pihak tertentu.
  "Ada juga satu kompi Brimob di Kantor Camat Bolo, dan semua itu dimaksudkan untuk mencegah berbagai hal yang tidak diinginkan," ujarnya.
  Pada Senin (11/7) sekitar pukul 15.30 Wita, terjadi ledakan yang diduga bom rakitan di salah  salah satu ruangan dalam Ponpes Khilafiah Umar bin Khatab, yang menewaskan seorang pengurus ponpes Firdaus.
  Namun, polisi belum bisa langsung mengolah TKP karena pengurus ponpes selalu menghalang-halangi petugas yang hendak masuk ke ponpes itu, dan adanya sejumlah informasi yang menyatakan dalam ponpes itu ada bahan peledak dan sejumlah senjata api.
  Pihak yang mengambil jenasah Firdaus di lokasi ledakan itu juga bukan aparat kepolisian, melainkan sanak keluarganya, karena tidak diizinkan oleh pengelola ponpes tersebut.
Jenasah Firdaus telah diotopsi dan pada Selasa (12/7) malam kemudian diserahkan kepada sanak keluarganya untuk dikuburkan.
  Pada Rabu (13/7) pukul 15.30 Wita, baru polisi melakukan penggerebekan di ponpes itu, dan menemukan sejumlah bahan peledak dan benda berbahaya lainnya.
  Dalam penggerebekan itu, petugas menemukan sembilan buah bom molotov yang dirakit menggunakan botol, 30 batang anak panah, dua unit perangkat utama komputer (CPU) dan satu unit printer, sepucuk senapan angin, sebilah pedang, sebilah golok, sebilah kapak, satu unit telepon genggam (HP), satu peti Al Quran, dan selembar kaos/rompi seragam laskar Jamaah Anshory Taudid (JAT).
  Petugas juga menemukan puluhan keping VCD jihad dan sejumlah bahan perakit bom seperti kabel, solder dan korek api.
  Berdasarkan cacatan Polda NTB, Ponpes Umar bin KHatab yang didirikan oleh Ustadz Abrori (anak dari Ustadz Ali) pada 2003 itu, memiliki 49 orang santri, termasuk Firdaus yang tewas akibat ledakan, dan Sa'ban Abdurrahman yang sedang menjalani pemeriksaan di Polda NTB dengan sangkaan membunuh anggota Polsek Bolo Brigadir Rokhmat, 30 Juni lalu.
  Yayasan Umar bin Khatab itu diketuai oleh Muhammad, SPd, dan Muhajidul Haq selaku sekretaris yayasan. (*) 

Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026