Mataram, 5/4 (ANTARA) - Pelayanan listrik harus optimal saat penghitungan suara pemilu legislatif 9 April ,karena tahapan inti pemilu itu tidak bisa ditunda meskipun waktunya molor hingga tengah malam karena berbagai penyebab.

   Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Fauzan Khalid, menegaskan hal itu di Mataram, Minggu, ketika wartawan mempertanyakan dukungan pelayanan listrik PLN guna menyukseskan pemilu legislatif itu.

   "PLN NTB dituntut bekerja keras mengoptimalkan potensi yang ada agar pelayanan listrik benar-benar optimal saat penghitungan suara karena tahapan itu tidak boleh ditunda, harus berlanjut hingga tuntas meskipun sampai tengah malam atau dinihari," ujarnya.

   Fauzan mengatakan, pihaknya terus menjalin koordinasi dengan manajemen PLN Wilayah NTB guna mengupayakan pelayanan listrik secara optimal pada tahapan inti pemilu legislatif itu.

   Pelayanan listrik 24 jam tanpa pemadaman juga harus diberlakukan saat proses rekapitulasi data hasil pemungutan suara di tingkat Panitia Pemungutan Suara (PPS), Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) hingga KPU kabupaten/kota dan KPU Provinsi.

   Namun, ketua penyelenggara pemilu di wilayah NTB itu mengaku masih mengkhawatirkan pelayanan listrik PLN yang kurang optimal saat tahapan inti pemilu legislatif itu karena PLN Wilayah NTB sedang  menghadapi defisit energi listrik.

   "Saya akan temui pimpinan PLN Wilayah NTB, Selasa (7/4) nanti guna mengkoordinasikan kesiapan pelayanan listrik PLN untuk kelancaran pemilu 9 April mendatang, agar kekhawatiran saya teratasi," ujar Fauzan.

   Sebelumnya, General Manajer PLN Wilayah NTB, Mohamad Sofyan, mengatakan, PLN Sektor Lombok sedang mengalami defisit listrik sebesar 10 Megawatt (MW) sehingga pemadaman bergilir tidak bisa dihindari.

   "Ini kondisi riil yang ada, beban puncak Sektor Lombok sudah mencapai 105 MW lebih sementara daya mampu hanya 96 MW, sehingga terjadi defisit pasokan listrik sekitar 10 MW," ujarnya.

   Pengelolaan pembangkit listrik di wilayah NTB itu dikelompokkan menjadi tiga sektor yakni sektor Lombok, Sumbawa dan Bima, namun yang dikhawatirkan hanya Sektor Lombok karena melayani mayoritas pelanggan listrik di wilayah NTB.

   Namun, Sofyan berjanji akan mengupayakan berbagai cara demi kesuksesan pemilu legislatif seperti mengoptimalkan seluruh pembangkit listrik dan diupayakan pemadaman bergilir yang biasanya diberlakukan karena defisit energi listrik itu tidak terjadi.

   Upaya nyata itu yakni aksi penghematan energi listrik di berbagai sektor pelayanan seperti kalangan industri dan perusahaan besar ketika memasuki beban puncak saat malam pukul 18.00 Wita hingga Pukul 22.00 Wita.

   Perusahaan besar itu diminta untuk menggunakan mesin genzet hanya pada saat beban puncak, agar defisit listrik semakin berkurang dan jika upaya itu terealisasi, maka diperkirakan akan terjadi penghematan sekitar 7-10 MW.

   Upaya lainnya yakni meminta pelanggan listrik lainnya untuk melakukan penghematan dengan hanya menggunakan dua bola lampu saat memasuki beban puncak, dan jika setiap pelanggan hanya menggunakan dua bola lampu atau hanya 40 watt maka penghematan energi yang mungkin diperoleh dari 300 ribu pelanggan dapat mencapai 1,5 MW.

   Pihaknya juga akan menyiagakan mesin genset di titik-titik tertentu agar listrik di TPS tetap terlayani, selain menyiagakan genset "mobile" berkapasitas 40-100 KVA yang dapat dengan mudah dibawa ke lokasi tertentu yang sangat membutuhkan penerangan listrik saat penghitungan suara.

   Di tingkat kecamatan pun juga akan disediakan genset kapasitas 4-6 KVA untuk TPS tertentu.    
"Kami juga menyiagakan trafo "mobile" guna mengatasi gangguan teknis jaringan listrik akibat kerusakan trafo, demi kesuksesan pemilu," tambah Sofyan.(*)


Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026