Mataram, 20/4 (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat mengagendakan pembahasan secara terpadu, kejanggalan yang ditemukan pada jasad tiga jenasah Tenaga Kerja Indonesia asal Lombok Timur, yang dilaporkan meregang nyawa setelah diberondong peluru di Negeri Sembilan, Malaysia, 24 Maret 2012.

  "Sudah dikoordinasikan, untuk digelar pembahasan terpadu yang melibatkan pihak-pihak terkait seperti kepolisian, imigrasi, dan perwakilan sanak keluarga korban tewas. Itu dijadwalkan Selasa (24/4)," kata Kepala Bidang Penempatan dan Perluasan Kerja Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Nusa Tenggara Barat (NTB) H Zaenal, di Mataram, Jumat.

  Ia mengatakan, pembahasan secara terpadu itu perlu dilakukan agar dicapai kesepakatan tentang langkah-langkah yang dapat ditempuh guna menyelesaikan permasalahan TKI asal NTB yang tewas di Malaysia itu.

  Ketiga TKI korban tewas itu yakni Matnur, warga Desa Pengadangan, Kecamatan Pringgasela, dan Abdul Kadir Jaelani serta Herman, warga Dusun Pancor Kopong Desa Pringgasela Selatan, Kecamatan Pringgasela, Kabupaten Lotim. Ketiga masih memiliki hubungan kekeluargaan, yakni paman dan keponakan.

  Pemerintah Provinsi NTB merasa terbebani dengan keluhan sanak keluarga tiga orang TKI yang tewas tertembak itu, karena terus mendesak kejelasan kronologi tewasnya ketiga buruh migran asal Lombok Timur itu.

  Sanak keluarga korban tewas itu, bukan hanya menuntut kejelasan kronologi, tetapi menghendaki dilakukan optopsi terhadap ketiga jasad tersebut, agar diperoleh kepastian penyebab kematian.

  "Makanya dibahas secara terpadu dulu, dan itu akan digelar Mapolda NTB. Kalau harus optopsi maka itu berkaitan dengan penyidikan polisi. Langkah-langkahnya seperti apa, itu yang mau dibicarakan," ujar Zaenal.

  Seperti diberitakan, ketiga jasad TKI asal Lombok Timur yang bekerja sebagai buruh bangunan di Negeri Sembilan, Malaysia itu, tiba di kampung halamannya, Kamis (12/4), lalu dikuburkan sanak keluarganya.

  Selanjutnya, mencuat beragam asumsi yang merujuk kepada penuturan Herman, salah seorang anggota keluarga yang melihat langsung kondisi jasad ketika TKI korban penembakan itu, sebelum dikafani dan dimasukkan kedalam kotak saat berada di Rumah Sakit Port Dickson Malaysia, kemudian diterbangkan ke Indonesia.  

  Herman merupakan utusan keluarga ketiga TKI itu untuk mengambil jasad korban tewas, di Malaysia.

  Ia kemudian menceritakan kejanggalan yang ditemuinya itu, kepada pejabat Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transimigrasi (STT) Lombok Timur, Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan TKI (BP3TKI) NTB, LSM Koslata NTB dan lembaga Advokasi Buruh Migran Indonesia (ADBMI).  

  Mencuat dugaan indikasi praktik jual-beli organ tubuh, karena adanya jahitan pada kedua mata, di dada dan perut korban. Mata dan organ dalam jasad itu diduga telah diambil.

  Kecurigaan itu makin meluas, hingga Pemerintah Provinsi NTB pun ikut curiga sehingga menyurati Kedutaan Besar RI (KBRI) di Malaysia, yang isinya mempertanyakan kronologi tewasnya tiga orang TKI asal Lombok Timur itu.

  Pemerintah Provinsi NTB mempertanyakan kronologi tewasnya tiga TKI itu karena sanak keluarganya merasa ada yang tidak beres di tubuh jenasah korban tewas akibat penembakan itu.

  Apalagi, surat pemberitahuan dari Kedutaan Besar RI (KBRI) Malaysia tidak menjelaskan kronologi tewasnya ketiga TKI asal Lombok Timur itu. Hanya, penjelasan bahwa tewas karena diberondong peluru di Malaysia.

  Dalam surat resmi KBRI Malaysia yang ditandatangani Sekretaris Dua Konsuler Heru Budiarso, menyebutkan KBRI tidak ikut bertanggungjawab dalam proses pemulangan jasad TKI itu karena kondisi tidak memungkinkan untuk pengecekan sebab-musabab kematian itu.

  KBRI Malaysia hanya diberi tahu oleh Polisi Balai Port Dickson, bahwa tiga jasad TKI asal Lombok Timur, NTB, tewas setelah terkena rentetan peluru atau "multiple gun shot wounds", dan hendak dipulangkan ke kampung halamannya. (*)



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026