"Barusan Menlu telepon Pak Gubernur, dan meminta Pak Gubernur meyakinkan sanak keluarga ketiga TKI itu, karena mereka hendak memperkarakan otopsi," kata Kabag Humas dan Protokoler Setda Nusa Tenggara Barat (NTB) H Lalu Moh Faozal, di Mataram, Selasa.
Saat Menteri Luar Negeri (Menlu) Marty Natalegawa menelepon Gubernur NTB itu, Faozal sedang berjalan beriringan dengan gubernur, hendak menemui kaum buruh yang tengah berunjuk rasa di pintu masuk kompleks Kantor Gubernur NTB.
Unjuk rasa itu yang dilakukan lebih dari 300 orang buruh di wilayah NTB itu, terkait peringatan Hari Buruh Sedunia, 1 Mei 2012.
Marty menelepon Gubernur NTB setelah menerima perwakilan keluarga tiga TKI tewas ditembak di Malaysia itu, yang nekat mendatangi Kementerian Luar Negeri di Jakarta, guna menyampaikan ketidakpuasan atas tewasnya tiga orang TKI asal Lombok Timur, NTB itu.
Ketiga TKI korban tewas ditembak di Malaysia itu yakni Mad Noor (28), warga Desa Pengadangan, Kecamatan Pringgasela, dan Herman (34) serta Abdul Kadir Jaelani (25). Herman dan Jaelani merupakan paman dan keponakan, warga Dusun Pancor Kopong Desa Pringgasela Selatan, Kecamatan Pringgasela, Kabupaten Lotim.
Herman bekerja sebagai buruh bangunan di Mega Five Dev SSDN BGH, Jalan Tuanku Antan, Seremban, sementara Jaelani sebagai buruh bangunan di Ashami Enterprise, KG Baru, BT3 Mambau, Lorong Rajawali Seremban, Negeri Sembilan, Malaysia.
Sedangkan Mad Noor sebagai buruh di perkebunan kelapa sawit di Lot 4302 KG Seremban, Negeri Sembilan, Malaysia.
Sementara, perwakilan keluarga tiga TKI yang mendatangi Kementerian Luar Negeri itu masing-masing H Ma'sum, Nurmawi dan Tohri, yang merupakan ayah dan kakak dari ketiga TKI tersebut.
Ma'sum merupakan ayah dari Herman, dan Nurmawi kakak dari Mad Noor dan Tohri kakak dari Abdul Kadir Jaelani.
Ketiganya mendatangi Kementerian Luar Negeri, setelah menemui Komisi Nasional Hak Azasi Manusia (HAM), di Jakarta. Ketiga bertolak dari Lombok, NTB, Senin (30/4) sore, yang ditemani aktivis Koslata, LSM advokasi buruh migran yang memiliki jaringan dengan Migrant Care.
Ketiga perwakilan keluarga TKI itu mengaku baru merasa tenang jika telah bertemu Komnas HAM dan mengungkapkan berbagi hal yang mengganjal perasaan mereka.
"Kami belum tenang kalau pelaku penembakan belum dihukum. Kami akan datangi Komnas HAM, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, dan pihak lainnya seperti BNP2TKI dan Menteri Luar Negeri yang telah mengumumkan hasil otopsi," ujar Ma'sum, sebelum bertolak ke Jakarta.
Ma'sum tidak yakin anaknya ditembak mati karena hendak merampok, karena semasa hidupnya di kampung halamannya belum pernak sekalipun dilaporkan oleh tetangga kalau anaknya itu mencuri.
Hal serupa diungkapkan Nurmawi dan Tohri, sehingga ketiganya telah bertekad untuk meminta bantuan Komnas HAM, guna mendesak proses hukum terhadap oknum polisi Malaysia yang melakukan penembakan secara keji itu.
Versi Malaysia, ketiga TKI asal NTB itu ditembak secara brutal. Herman ditembak di kepalanya, sementara Jaelani dan Tohri ditembak di kepala dan dadanya secara berganda.
"Kami juga persoalkan, proses otopsi pertama di Rumah Sakit Port Dickson Malaysia, yang dilakukan tanpa meminta persetujuan keluarga," ujar Ma'sum, Nurmawi dan Tohri secara bergantian. (*)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026