"Upaya ini sejalan dengan program revitalisasi enam rumah pemotongan hewan (RPH) ruminansia, yang saat ini telah berstandar internasional dan mampu menghasilkan produk daging asuh (aman, sehat, utuh dan halal)," kata Gubernur NTB TGH M Zainul Majdi.
Mataram (Antara Mataram) - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menempuh kebijakan pengurangan pengeluaran sapi potong secara bertahap mulai 2014 hingga 2018, dan menggantinya dalam bentuk daging beku.

"Upaya ini sejalan dengan program revitalisasi enam rumah pemotongan hewan (RPH) ruminansia, yang saat ini telah berstandar internasional dan mampu menghasilkan produk daging asuh (aman, sehat, utuh dan halal)," kata Gubernur NTB TGH M Zainul Majdi, pada simposium nasional peternakan, yang digelar di kampus Universitas Mataram (Unram), di Mataram, Kamis.

Simposium peternakan itu digelar terkait Dies Natalis ke-47 Unram, dan Lustrum IX Fakultas Peternakan Unram.

Simposium dengan tema "populasi ternak dan kebutuhan daging: membedah peluang dan tantangan program swasembada daging 2014" itu, dihadiri Dirjen Peternakan dan Kesehatan Kementerian Pertanian Hewan Syukur Iwantoro.

Zainul mengatakan, saat ini NTB sudah memiliki sebanyak 57 unit RPH, yang terdiri dari 34 unit RPH ruminansia dan 23 unit tempat pemotongan hewan.

"Kita pahami bahwa sub sektor peternakan merupakan bagian dari sektor pertanian, yang pembangunannya diarahkan sebagai penopang ketahanan pangan. Di NTB, sektor peternakan telah menjadi salah satu sektor prioritas, tidak saja karena potensi besar yang kami miliki, namun juga karena masyarakat kami, telah menjalankan budaya beternak secara turun temurun," ujarnya.

Ia menyebut dalam kurun waktu 2009-2013, pembangunan peternakan masuk ke dalam program unggulan yang dikemas dengan nama pijar (sapi, jagung dan rumput laut).

Sapi ditetapkan sebagai komoditi utama, didorong karena pada kenyataannya NTB memiliki bibit sapi kualitas terbaik, dan telah berkontribusi signifikan terhadap pengembangan sapi dan kebutuhan daging nasional.

Seiring dengan ditetapkannya NTB sebagai salah satu dari 18 provinsi sumber sapi potong dan sapi bibit di Indonesia, maka populasi ternak sapi di NTB terus meningkat.

Dalam dua tahun terakhir, populasi ternak sapi meningkat dari 685.810 ekor di 2011, sebanyak 784.019 ekor di 2012, dan meningkat lagi menjadi 1.002.731 ekor di 2013.

Sepanjang 2013, pengeluaran sapi bibit dari NTB tercatat sebanyak 16.744 ekor, pengeluaran sapi potong sebanyak 25.706 ekor, dan pemotongan sapi sebanyak 45.073 ekor dengan total produksi daging sebesar 14.277 ton.

"Nantinya sapi potong yang dikirim ke daerah di Indonesia semakin berkurang, dan kami mengupayakan pengiriman daging beku agar ada nilai tambah bagi peternak dan komponen masyarakat lainnya," ujarnya.

Karena itu, tambah Zainul, NTB terus berupaya menjaga kualitas sapi, meningkatkan produksi daging dan meningkatkan jumlah bibit sapi, sebagai bentuk ikhtiar dalam mendukung program nasional swasembada daging sapi 2014.

"Kami pun terus berupaya agar kedepannya, kami mampu membangun pusat pengembangan industri peternakan yang mapan dan mandiri, yang mampu memanfaatkan segala aspek peternakan untuk memberikan kemanfaatan dan kesejahteraan optimal bagi para peternak dan masyarakat," ujarnya.

Hanya saja, untuk kesuksesan tersebut, pemerintah daerah di NTB membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk juga dari para pakar peternakan, para ilmuwan yang dimiliki oleh Fakultas Peternakan Unram.

Dukungan dari para ahli dan pakar dalam bidang peternakan sapi, merupakan salah satu dorongan bagi pemerintah daerah untuk terus mengikhtiarkan yang terbaik dalam mengatasi berbagai tantangan pembangunan sektor peternakan. (*)

Pewarta :
Editor: Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026