Mencari Si Nemo di Gili Rengit

id Gili Rengit

Ikan Nemo (Adi Lazuardi)

Mataram, 3/11 (Antara) - Paling tidak membutuhkan waktu sekitar 15 menit dengan menumpang perahu kayu bermotor menuju spot snorkling di ujung barat Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, dari titik pemberangkatan di Gili Gede, Sekotong, Kabupaten Lombok Barat.
      Tepatnya sekitar 75 meter dari pantai berpasir putih pulau tidak berpenghuni atau lebih dikenal dengan sebutan Gili Rengit, perahu yang membawa tamu berlabuh dengan menurunkan jangkarnya. Satu persatu penumpang kapal kayu itu diminta untuk bersiap-siap menggunakan pelampung dan kacamata menyelam serta pipa pengatur udara dari mulut. 
       Sebelumnya sepatu khusus menyelam juga telah digunakan saat hendak meninggalkan Gili Gede. “Ok, kita sekarang ke arah pantai sana. Ikuti saya ya,” kata tokoh pemuda di Gili Gede yang juga pemilik Thamarind Resor, Abubakar Abdullah yang saat itu menjadi “guide” untuk bersnorkling ria.
      Satu persatu penumpang kapal kayu, mulai menuruni tangga dan mencapai merapat ke cadik kapal kayu itu sebelum memulai perjalanan singkat menyaksikan keindahan alam di dasar laut perairan Kecamatan Sekotong yang masih bersahabat itu.
       Ketika pertama kali melihat bawah laut, pemandangan yang memikat terpampang dan ingin segera berenang sembari melihat suasana di bawah air itu. Dengan air yang bening, pengunjung dapat leluasa melihat lenggak lenggok ikan yang berenang secara individu maupun bergerombol.
       “Kalau mau merasakan seperti refleksi dari ikan-ikan kecil, pakai nasi saja,” sambung Abubakar yang akrab dipanggil Bang Abu itu.
       Rasa penasaran ingin membuktikan omongannya itu, membuat para tamu meminta kru kapal untuk memberikan nasi untuk makan siang.  Benar saja beberapa ikan kecil mulai mendekati, dan menempel ke tubuh para peserta snorkling di perairan Kecamatan Sekotong. Setelah asyik bercanda ria dengan ikan kecil itu.
       Saatnya mulai bergerak ke arah pantai berpasir putih. Bang Abu berteriak nanti bisa lihat juga ikan Nemo. “Ayo kita ke sana, ikuti saya ya. Lihat bawah laut dan atur nafas dari mulut,” katanya.
      Para pemula snorkling pun mulai bergerak, sembari pandangan mata terus melihat ke dasar laut yang dalamnya bervariasi antara 4 meter sampai 2 meter. Ikan berwarna warni sesekali melintas dari warna hijau, belang-belang hitam putih, hitam dan merah terlihat dari dekat. Memang luar biasa surga bawah air di daerah tersebut.
       Konsentrasi tetap harus diperhatikan melihat gerakan dari Bang Abu putra daerah yang sejak kecil sudah terbiasa melaut itu dan jadi satu-satunya bergelar sarjana di Gili Gede. Sebenarnya kalau tengah beruntung dapat melihat penyu berenang, namun ketidakberuntungan itu dapat terobati dengan melihat tumbuhan bawah laut yang indah dan masih terjaga dari kerusakan.
       Terus terang kegiatan snorkling itu ingin melihat ikan yang dikenal dengan Nemo. Si nemo itu terangkat namanya lewat film kartun “Finding Nemo” berwarna dasar merah dan di bagian badan ke atasnya melingkar strip warna merah dan putih. Namun sampai 15 menit snorkling belum ditemukan juga.
       Sebenarnya ikan nemo itu dikenal dengan nama ikan badut atau ikan giru yang tersebar di lautan Pasifik, Laut Merah, lautan India dan karang besar di Australia. Ikan lucu itu belum juga ditemukan, namun para snorkling masih menemui gerombolan ikan yang hilir mudik dari kanan kiri maupun dari depan ke belakang. 
      Menjelang ke pantai, terlihat karang yang cukup diduduki empat orang dan di bawahnya ada lubang. Teringat kalau ikan si nemo itu sering bersembunyi di lubang karang itu. Namun setelah dicoba melihat ke lubang di bawah karang, si nemo itu tidak terlihat juga.
      “Biasanya suka ada si nemo,” kata Nur, kru kapal yang mendampingi snorkling.
      Walhasil menikmati bawah laut selama 45 menit, tak jua bertemu dengan nemo. Akhirnya kegiatan snorkling itu berakhir di pantai. Dan si nemo ditemukan dari hasil tangkapan pemancing di tepi pantai Gili Rengit.
       Abubakar menjelaskan sebenarnya spot lainnya yang menarik ada di Gili Layar dan ada juga di Gili Gede. “Yang paling luas ada di Gili Layar,” katanya.
      “Paling bagus snorkling itu sekitar jam 9 pagi, gelombang laut benar-benar tenang dan nyaman untuk direnangi,” sambungnya.
      Selanjutnya para tamu harus melangkahkan kaki di atas pasir putih memelipir ke arah perahu kayu yang sudah dipindahkan. Rombongan pun segera pulang ke Gili Gede kembali sembari bekal nasi bertemanan sejenis ikan tongkol goreng sambal balado dan oseng sayur. Nikmatnya makan siang di atas perahu setelah menyelam hingga membuat perut keroncongan.
       
Minim promosi
       Keindahan bawah laut di perairan Sekotong sayangnya tidak diimbangi dengan kepedulian pemerintah daerah setempat atau Pemerintah Kabupaten Lombok Barat untuk mempromosikan objek wisata bahari tersebut. Hingga popularitas gili di Sekotong kalah jauh dibandingkan Gili Trawangan, Lombok Utara dan Senggigi, Lombok Barat.
      “Kalau soal keindahan alamnya, gili di Pantai Sekotong ini, lebih indah dibandingkan dengan Gili Trawangan,” kata salah seorang pengunjung.
      Hal itu dapat terlihat sepanjang perjalanan dari Mataram ke Sekotong, laju kendaraan berada di tepi pantai yang lautnya biru dan langit bersih. Bahkan ruas jalan provinsi terbilang mulus hingga membuat nyaman pengendara roda dua maupun roda empat.
      Bisa dikatakan para pecinta jalan-jalan di luar Lombok, masih asing dengan nama Gili Gede dan lain-lain. Justru lebih banyak yang mengetahui wisatawan dari mancanegara. “Kami butuh promosi dari pemerintah daerah,” kata Abubakar Abdullah.
      “Kami merasa objek wisata di Sekotong ini dipinggirkan,” sambungnya.
      Ia mencontohkan bisa saja pemerintah daerah disamping melakukan promosi membangun juga tempat penjualan makanan laut seperti ikan bakar, kemudian membangun tempat budaya untuk menampilkan atraksi kesenian daerah yang pada akhirnya akan mengundang para wisatawan baik mancanegara maupun nusantara.
       Secara tidak langsung, akan meningkatkan perekonomian rakyat. “Atau pemerintah daerah memberikan pelatihan kepada warga lokal dalam melayani turis, misalnya memberikan bea siswa kepada pemuda yang akan sekolah di bidang pariwisata. Setidaknya kalau mereka dilengkapi dengan ilmu pariwisata, maka mereka tidak akan menjadi tamu di tanah kelahirannya sendiri. Jangan sampai warga sini hanya menjadi penonton saja,” harapannya. ***4***
Pewarta :
Editor: Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar