Dinkes Mataram mengimbau warga waspada penyebaran COVID-19 varian baru

id wasapa COVID Mataram

Dinkes Mataram mengimbau warga waspada penyebaran COVID-19 varian baru

Aplikasi PeduliLindungi di areal Kantor Wali Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, diterapkan saat terjadi lonjakan kasus COVID-19 pada 28 Februari 2022.  (ANTARA/Nirkomala)

Mataram (ANTARA) - Dinas Kesehatan Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, mengimbau masyarakat waspada terhadap penyebaran varian baru COVID-19 dari Omicron, seperti EG.2 dan EG.5, dengan menerapkan protokol kesehatan serta pola hidup bersih dan sehat (PHBS).

"Masyarakat jangan panik, tapi harus tetap waspada karena varian baru COVID-19 ini penyebarannya lebih cepat namun dampaknya lebih ringan," kata Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Mataram dr Emirald Isfihan di Mataram, Jumat.

Dia mengatakan hal tersebut menyikapi terjadinya peningkatan kasus COVID-19 varian baru di DKI Jakarta mencapai 40 persen dalam sepekan terakhir, sedangkan di Mataram, kasus COVID-19 varian baru itu sejauh ini belum ditemukan.

Kendati demikian, ia mengajak masyarakat untuk melakukan langkah antisipasi dengan menerapkan protokol kesehatan, seperti menggunakan masker ketika berada di tempat umum atau pusat keramaian, dan ketika sedang sakit.

Selain itu, rajin mencuci tangan setelah beraktivitas sebagai salah satu langkah memutus rantai penyebaran COVID-19.

"Cuci tangan harus jadi budaya kita, sebab sumber penularan virus penyakit salah satunya dari tangan," katanya.

Emirald juga mengimbau masyarakat agar segera berobat ke fasilitas kesehatan (faskes) terdekat ketika mengalami gangguan kesehatan.

"Ketika masyarakat mengalami gejala demam, batuk, pilek, sesak napas, harus segera ke faskes terdekat dan 11 puskesmas di Mataram siap melayani secara gratis," katanya.

Menyinggung tentang penggunaan alat pelindung diri (APD) untuk tenaga kesehatan (nakes) di 11 puskesmas, ia mengatakan penggunaan APD tetap dilakukan sesuai standar dan level penanganan.

Kasus COVID-19 tahun lalu tinggi sehingga APD yang digunakan level 2-3 atau untuk situasi risiko sedang dan tinggi, sedangkan APD level 1 menggunakan untuk situasi dengan risiko rendah.

"Sampai sekarang nakes di puskesmas masih menerapkan APD namun sesuai dengan kelasnya dan tingkat risiko pasien yang ditangani," katanya.