Mataram, 25/6 (ANTARA) - Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Nusa Tenggara Barat (NTB) berupaya meningkatkan sosialisasi tentang dampak pernikahan dini untuk mengurangi angka kematian ibu (AKI).
"Kami akan meningkatkan program yang mengarah kepada peningkatan kesadaran tentang dampak dari pernikahan dini yang menjadi salah satu faktor tingginya AKI di daerah ini," kata Kepala BPPKB NTB Hj. Ratningdiyah di Mataram, Kamis.
Ia mengatakan, penyebab tingginya AKI di NTB antara lain banyaknya perempuan yang menikah pada usia yang masih sangat muda. "Banyak sekali anak SMP dan SMA menikah padahal secara fisik dan mental mereka belum siap menjadi seorang ibu," ujarnya.
Faktor lain, kata Ratningdiyah, adalah terlalu dekatnya jarak kehamilan antara anak yang satu dengan yang lain karena tidak menjadi peserta program KB, sementara rahimnya secara medis belum siap untuk mengandung bayi lagi dan terlalu tua saat melahirkan.
Menurut ia, banyaknya perempuan yang menikah pada usia muda juga menjadi salah satu penyebab tingginya angka perceraian di NTB.
Angka perceraian di NTB pada 2007 sekitar 1.700 kasus dan meningkat menjadi 2.000 kasus pada 2008.
"Jumlah itu jauh lebih kecil dibandingkan dengan yang tidak terdata karena banyak perceraian di bawah tangan," ujarnya.
Ia mengatakan upaya untuk menekan AKI dan kasus perceraian yang terus meningkat akibat banyaknya perempuan yang menikah pada usia dini tidak bisa dilakukan oleh satu lembaga tetapi harus ada keterlibatan dari semua pihak seperti lembaga pendidikan dan tokoh agama.
"Hal itu karena rata-rata usia sekolah kaum perempuan di daerah ini sangat rendah. Oleh sebab itu perlu keterlibatan lembaga pendidikan untuk ikut menanggulanginya," ujarnya.
Sementara itu, tokoh agama perlu dilibatkan karena mereka diyakini mampu memberikan pencerahan dan pemahaman secara efektif melalui anjuran yang disampaikan lewat khotbah atau pengajian.
"Dengan melibatkan tokoh agama, kami berharap AKI dan kasus perceraian di daerah ini bisa ditekan," ujarnya.(*)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026