Mataram (Antaranews NTB) - Kepala Dinas Perdagangan Nusa Tenggara Barat Hj Putu Selly Andayani mengungkapkan selama ini provinsi itu selalu dirugikan akibat pengiriman cabai ke Batam.

"Ruginya itu, karena cabai asal NTB dikirim ke Batam, dari Batam kemudian dikirim ke Singapura dan Malaysia dengan mencantumkan surat keterangan asal (SKA) barang, yakni Batam. Jadi yang dapat manfaat itu Batam bukan NTB," ujarnya di Mataram, Jumat.

Ia menyatakan, semestinya asosiasi petani cabai mengirim cabai langsung dari NTB bukan melalui Batam, sehingga manfaatnya pun bisa dirasakan lebih besar oleh NTB sebagai daerah penghasil.

"Tapi ini kan tidak. Apalagi informasinya pemain cabai ini satu orang dan kami tidak pernah temukan, tapi cabainya ada di jual di Pasar Kramat Jati, Jakarta," terang mantan Kepala Dinas Koperasi dan UMKM NTB itu.

Menurut Selly, produksi cabai NTB pada tahun 2018 mencapai 200 ribu ton dengan harga cabai di pasaran berkisar Rp25-30 ribu per kilogram. Bahkan, tahun 2018 harga cabai sampai menembus angka Rp200 ribu per kilogram.

"Karena harga tinggi ini para petani kita lebih memilih menjual ke Batam, ditambah cabai kita diminati oleh Malaysia dan Singapura. Namun, berapa yang di eskpor ke Malaysia dan Singapura itu kita tidak tahu karena gak ada datanya," ucapnya.

Diakuinya, kelemahan NTB karena tidak memiliki pelabuhan ekspor seperti Batam, sehingga cabai asal NTB tidak bisa dikirim langsung melalui pelabuhan-pelabuhan di NTB. Padahal, jika ada pelabuhan tentu nilai tambah bagi daerah ini besar.

"Sebetulnya kita bisa menjual cabai ini dari NTB melalui E-Shop. Seperti kita menjual jagung asal NTB ke Filipina. Tapi kalau pedagang masih jual ke Batam kami juga tidak akan bantu, kalau lagi-lagi yang dapat manfaatnya daerah lain," tegas Selly.

Meski demikian, lanjutnya, akhir-akhir ini pengiriman cabai asal NTB ke Batam menjadi tersendat setelah kenaikan harga cargo pesawat yang diberlakukan maskapai.

"Dari informasi yang kita peroleh ada 11 ton yang belum bisa keluar," katanya.

Pewarta :
Editor: Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2026