Belajar antigolput dari warga Selagolong kaki Gunung Rinjani

id Warga Selagolong

Belajar antigolput dari warga Selagolong kaki Gunung Rinjani

Warga melintas di jembatan sepanjang 50 meter yang dibangun swadaya masyarakat menuju Kampung Selagolong, Desa Sajang, Kabupaten Lombok Timur, NTB, Jumat (22/03/2019). Kampung yang dikenal sebagai penghasil kopi arabika ini berada di daerah pedalaman hutan Kaki Gunung Rinjani, yang jaraknya 3 kilometer dari jalan pedesaan. (Foto/Dhimas Budi Pratama)

Mereka harus berjalan kaki selama 1 sampai 1,5 jam lewat hutan dan sungai setiap mencoblos ke tempat pemungutan suara (TPS)
Mataram (ANTARA) - Jangan jadi golput pada pemilihan umum pada 17 April 2019 mendatang, masa kalah dengan warga Selagolong. Mereka harus berjalan kaki selama 1 sampai 1,5 jam lewat hutan dan sungai setiap mencoblos ke tempat pemungutan suara (TPS), demikian Abdul Wahid, Plt Kepala Dusun (Kadus) Longken, Kecamatan Sanjang, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.

Kalimat itu menjadi sindiran yang lumrah bagi warga Dusun Longken baik saat pemilihan kepala desa (pilkades), pemilihan bupati (pilbup), pemilihan gubernur sampai pemilihan presiden (pilpres), kepada yang enggan datang ke TPS pada saat pencoblosan.

Memang bagi warga Kampung Selagolong, makna pemilu sama dengan peringatan hari raya agama Hindu yang dianut oleh mereka, jadi hukumnya wajib untuk dirayakan dan diikuti.

Sedikit gambaran, Kampung Selagolong yang berada di kaki Gunung Rinjani ini, dihuni oleh 31 kepala keluarga (KK) atau 112 jiwa yang seluruhnya berasal dari Bangli, Bali. Mereka datang ke Selogolong pada 1997 tidak lain untuk mencari mata pencaharian yang lebih baik dari bidang pertanian.

Mereka membeli tanah dari warga setempat yang berada sekitar 3 kilometer dari jalan kabupaten. Tepatnya di tengah hutan dan mereka membangun kehidupan baru di atas lahan miliknya yang berada di lereng perbukitan kaki Gunung Rinjani yakni berkebun kopi, vanili sampai durian.

Sehingga tidak mengherankan jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya bisa berjarak antara 100 meter sampai 150 meter. Setidaknya membutuhkan waktu antara 1 sampai 1,5 jam untuk mencapai jalan kabupaten dengan melewati hutan dan sungai di atas jalan setapak.

Ancaman tbanjir bandang, terus mengintai pada saat musim penghujan. Sungai itu memiliki lebar sekitar 50 meter. Bahkan beberapa tahun lalu, mereka selama dua minggu sempat terjebak tidak bisa ke luar kampung karena terjadinya banjir bandang.

Saat ini, mereka begitu antusiasnya untuk mengikuti hajat Bangsa Indonesia lima tahun sekali itu. Mereka juga tidak segan-segan mengimbau warga lainnya di luar Kampung Selagolong untuk tidak golput karena berkaitan dengan nasib Bangsa Indonesia ke depannya.

“Saya bersama teman-teman antusias mengikuti hajatan lima tahun sekali ini,” kata I Wayan Suasana saat ditemui Antara di Dusun Longken, Jumat (22/3).

Ia menegaskan meski akses jalan ke luar dari Kampung Selagolong terhitung masih sulit terutama pada musim penghujan, tidak akan menghentikan langkah dari warga untuk datang ke TPS yang berada di Kantor Desa Sajang.

“Meski kami harus berjuang untuk ke luar dari kampung dengan akses jalan belukar, kami akan tetap memilih dan tidak akan golput,” tandasnya.

Ia menilai kurang pas jika kita bersikap golput dalam Pemilu 2019 mendatang. “Nanti kita akan memilih mereka yang disukai dan calon kita akan naik. Ketimbang golput sama saja tidak memberikan kontribusi,” katanya.

Demikian pula dikatakan oleh warga Selagolong lainnya, I Made Astina, dirinya dipastikan akan mencoblos dan menjamin seluruh warga Selagolong akan ikut serta dalam pencoblosan tersebut.

Dikatakannya, mustahil jika ada ada warga Selagolong yang menjadi golput. “Itu sama saja dengan merugikan diri sendiri, artinya tidak memberikan aspirasi yang sudah menjadi haknya,” katanya.

Ia juga berharap pemilu tahun ini dapat berjalan aman, jujur dan adil. “Keamanan menjadi paling utama dalam melaksanakan pemilu,” katanya.

Kendati demikian, ia mengaku sampai sekarang belum pernah mendapatkan sosialisasi sistem Pemilu 2019 yang dijadikan satu yakni pilpres, pileg dan DPD. “Sampai sekarang kami masih bingung bagaimana mencoblosnya dan belum pernah ada sosialisasi,” katanya.

Uniknya warga Selagolong ini dapat menyalurkan aspirasinya tersebut, dilakukan sistem “shift”. Shift di sini dibagi berapa orang dulu yang mencoblos, sisanya menjaga rumahnya. Mengingat kekhawatiran ada orang iseng yang masuk ke rumah mereka, meski terbilang mustahil karena rumahnya yang berada di tengah hutan itu.

“Biasanya di TPS itu, warga Selagolong itu menjadi prioritas utama saat pencoblosan. Artinya mereka didahulukan mengingat rumahnya yang jauh,” kata Abdul Wahid.

Setelah warga Selagolong menyalurkan aspirasi, kemudian dilanjutkan dengan warga Longken yang notabene lokasinya dekat dengan jalan kabupaten.

“Yang jelas dari dulu warga Selagolong itu tidak pernah golput, mereka selalu hadir ke TPS kecuali kalau sedang sakit,” katanya.

Sehingga, jika ada warga Lengkon yang akan golput maka akan disindir dengan “jangan kalah dengan warga Kampung Selagolong”.

Dirinya mengaku selalu mengimbau kepada warga lainnya untuk mengikuti setiap pemilihan umum. “Kalau ditanya bagaimana dengan warga Selagolong, maka akan saya jawab dengan tegas, bahwa mereka merupakan warga negara yang baik dan selalu mengikuti hajat Bangsa Indonesia,” katanya.

Sementara itu, Kepala Desa Sajang, Lalu Kanahan mengakui jika tingkat partisipasi warga untuk mengikuti setiap pemilihan umum termasuk pemilihan kepada desa, terbilang cukup tinggi termasuk dengan warga Selagolong.

“Contohnya, pada pilkades selalu diikuti oleh 70 persen dari warga yang berhak memilih,” katanya.

Karena itu, kata dia, Insya Allah warga Selagolong dipastikan akan datang ke TPS meski jarak rumahnya hampir 3 kilometer dari jalan raya dengan melintasi jalan setapak dan melalui hutan sejumlah sungai.

“Mereka ini selalu menyalurkan hak pilihnya, apalagi kali ini pemilihan presiden,” katanya.

Ia juga menyataka setiap saat selalu mengingatkan warga untuk tidak menjadi golput. “Karena ini untuk menentukan nasib bangsa ini lima tahun ke depannya. Jangan abaikan,” katanya.*









 
Pewarta :
Editor: Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar