Logo Header Antaranews Mataram

TGH Faisal dan Jejak NU struktural di NTB: Refleksi 100 Tahun Nahdlatul Ulama

Sabtu, 31 Januari 2026 20:13 WIB
Image Print
Ketua BAZNAS Provinsi NTB 2025 - 2030 Dr. Lalu Muhamad Iqbal Murad, MA (ANTARA/HO - Dok Lalu Muhamad Iqbal Murad)

Mataram (ANTARA) - Tanggal 31 Januari 2026 menandai satu abad perjalanan Nahdlatul Ulama (NU) dalam khidmah keagamaan, kebangsaan, dan kemanusiaan. Seratus tahun NU bukan sekadar hitungan usia organisasi, melainkan perjalanan panjang nilai, tradisi, dan perjuangan ulama dalam menjaga Islam Ahlussunnah wal Jama’ah di tengah dinamika zaman. Di Nusa Tenggara Barat (NTB), perjalanan NU tidak dapat dilepaskan dari peran ulama perintis yang meletakkan fondasi struktural dan kultural NU sejak masa-masa awal. Salah satu sosok sentral tersebut adalah Tuan Guru Haji (TGH) Faisal, muasis NU struktural di NTB.

Merintis NU sebagai Jam’iyah yang Terstruktur

Pada fase awal perkembangan NU di NTB, tantangan dakwah dan keorganisasian umat sangat kompleks. Kondisi geografis yang berjauhan, keterbatasan sarana komunikasi, serta kuatnya tradisi lokal menuntut pendekatan yang arif dan berakar. Dalam konteks inilah TGH Faisal tampil bukan hanya sebagai ulama pengajar, tetapi sebagai perintis NU dalam bentuk jam’iyah yang terstruktur dan berkelanjutan.

Beliau terlibat aktif dalam membangun dan menguatkan struktur NU, mempertemukan ulama dan umat dalam satu barisan Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyah, serta menanamkan kesadaran bahwa NU adalah wadah khidmah umat, bukan sekadar organisasi formal. Ketekunan, keikhlasan, dan konsistensi TGH Faisal menjadikan NU di NTB tumbuh secara alamiah, diterima oleh masyarakat, dan berakar kuat hingga hari ini.

Pesantren sebagai Jantung Kaderisasi NU

Salah satu kontribusi terbesar TGH Faisal bagi NU di NTB adalah kaderisasi melalui pesantren. Beliau memahami bahwa kekuatan NU tidak hanya terletak pada struktur organisasi, tetapi pada kesinambungan kader ulama dan pendidik umat. Atas dasar itulah, Pondok Pesantren Manhalul Ulum Praya dibangun dan dibina sebagai pusat pendidikan Islam sekaligus pusat kaderisasi NU.

Di pesantren ini, para santri tidak hanya diajarkan ilmu-ilmu keislaman klasik, tetapi juga nilai-nilai dasar NU: tawassuth, tawazun, tasamuh, dan i’tidal. Santri dibentuk menjadi pribadi yang berilmu, berakhlak, dan siap berkhidmah di tengah masyarakat. Pesantren Manhalul Ulum menjadi ruang hidup bagi tradisi keilmuan NU yang bersanad dan berorientasi pada pengabdian.

Alumni yang Menyebar, Jejak NU yang Menguat

Buah dari proses kaderisasi tersebut tampak nyata hingga hari ini. Alumni Pondok Pesantren Manhalul Ulum Praya telah menyebar di berbagai wilayah NTB, mendirikan pondok pesantren, madrasah, dan lembaga pendidikan Islam. Pesantren-pesantren yang mereka dirikan menjadi simpul dakwah, pendidikan, dan penguatan NU di tingkat lokal.

Dengan demikian, TGH Faisal sejatinya tidak hanya mendirikan satu pesantren, tetapi membangun mata rantai pesantren NU di NTB. Jejak perjuangannya terus hidup dalam sanad keilmuan para muridnya, dalam amaliyah NU yang tetap terjaga, serta dalam keberlanjutan dakwah Islam moderat yang ramah dan membumi.

Refleksi Pribadi dalam Satu Abad NU

Tulisan ini juga merupakan refleksi personal penulis sebagai cucu dari TGH Faisal. Ibu penulis adalah putri beliau, sementara ayah penulis merupakan tokoh Nahdlatul Wathan (NW) di Lombok Barat. Latar belakang keluarga ini mengajarkan sejak dini bahwa perbedaan organisasi bukanlah sekat, melainkan khazanah perjuangan umat. NU dan NW sama-sama lahir dari rahim pesantren dan berkhidmah untuk umat Islam di NTB.

Sebagai Pimpinan Pondok Pesantren Al Hamidiyah NW, penulis merasakan secara langsung bagaimana warisan nilai-nilai keulamaan, pesantren, dan pengabdian sosial yang ditanamkan oleh para pendahulu—termasuk TGH Faisal—masih sangat relevan hingga hari ini. Sanad perjuangan itu menuntut generasi penerus untuk terus menjaga ilmu, adab, dan khidmah lintas jam’iyah demi kemaslahatan umat.

Menjaga Warisan, Menyongsong Abad Kedua NU

Seratus tahun NU adalah momentum untuk meneguhkan kembali fondasi perjuangan para muasis. TGH Faisal telah mewariskan teladan bahwa NU dibangun dengan ilmu, kesabaran, dan keikhlasan, serta dirawat melalui kaderisasi pesantren yang berkesinambungan. Tantangan abad kedua NU tentu berbeda, namun nilai dasarnya tetap sama: menjaga tradisi, merawat moderasi, dan mengabdi untuk umat dan bangsa.

Semoga Allah SWT menerima seluruh amal perjuangan TGH Faisal, para muasis NU, dan seluruh ulama pendahulu. Dan semoga generasi NU di NTB mampu melanjutkan estafet khidmah ini dengan penuh tanggung jawab dan kebijaksanaan. Aamiin.

*) Penulis adalah Ketua BAZNAS Provinsi NTB 2025 - 2030



Oleh

COPYRIGHT © ANTARA 2026