Lombok Tengah (ANTARA) - Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) menyatakan ratusan warga di lingkar Sentral Industri Hasil Tembakau (SIHT) mulai diberikan pelatihan untuk bagaimana mengelola atau membuat rokok.
Pelatihan ini untuk mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) untuk bekerja di Sentral Industri Hasil Tembakau yang ada di Desa Barebali Kecamatan Batukliang, kata Kepala Bidang (Kabid) Perindustrian pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Lombok Tengah Baiq Yuliana Sapriani di Lombok Tengah, Jumat.
Ia mengatakan untuk mempersiapkan SDM di SIHT ini, pemerintah daerah memberikan pelatihan sekitar 200 warga yang terdiri dari 70 persen masyarakat dari Desa Barabali dan sisanya dari masyarakat sekitar seperti Desa Mantang, Pagutan dan lainnya.
“Sudah tujuh angkatan yang kami latih dengan harapan ketika SIHT sudah beroperasi dengan datangnya mitra atau perusahaan untuk produksi rokok maka SDM kita sudah siap," katanya.
"Sehingga tidak ada alasan lagi nantinya perusahaan di SIHT ketika menyerap tenaga kerja untuk mengambil dari luar,” katanya.
Baca juga: Satpol PP Lombok Tengah optimalkan pencegahan peredaran rokok ilegal
Lebih jauh disampaikan bahwa perusahaan atau mitra yang bergabung di SIHT ini nantinya harus menggunakan brand atau merek rokok yang baru, sehingga perusahaan rokok yang sudah memiliki brand tidak bisa memasukkan dan harus membuat brand baru.
“Saat ini yang sudah mencoba menghubungi kita ada sekitar empat perusahaan. Ada perusahaan lokal dari Praya Timur, kemudian ada juga dari luar daerah seperti Sidoarjo Jawa Timur. Kami juga sudah melakukan kunjungan mencari investor ke Tulung Agung,” katanya.
Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah mengalokasikan anggaran Rp3 miliar untuk melanjutkan proyek pembangunan sentral industri hasil tembakau yang ada di Desa Barebali, Kecamatan Batukliang di 2025.
"Tahun ini disiapkan anggaran Rp3 miliar untuk menyelesaikan SIHT tersebut," katanya.
Baca juga: Satpol PP razia ratusan ribu rokok ilegal di Lombok Tengah
Ia mengatakan anggaran Rp3 miliar tersebut digunakan untuk penataan halaman atau pengerjaan aspal, pemasangan CCTV dan mebeler.
"Setelah itu selesai dikerjakan, baru bisa dioperasikan," katanya.
Proses pembangunan SIHT untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat itu menggunakan sistem multi year, sehingga anggaran yang dialokasikan itu dilakukan secara bertahap sejak 2022, 2023 dan 2024 serta 2025.
Pada 2022 alokasi anggaran sebesar Rp5 miliar untuk pembangunan gedung pelelangan. Kemudian pada 2023 alokasi anggaran Rp4,3 miliar untuk pembangunan gedung produksi dan kantor pengelola.
Sedangkan pada 2024 dialokasikan Rp5 miliar untuk pembangunan gedung bea cukai dan tembok keliling.
"Artinya pembangunan fisik nya itu telah rampung," katanya.
Baca juga: Rokok ilegal di Lombok Tengah menjamur, Satpol PP: Pabriknya belum ditemukan
Pewarta : Akhyar Rosidi
Editor:
Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026