Dompu (ANTARA) - Sejumlah guru SMP Negeri 8 Satu Atap (Satap) Woja di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, tetap melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kantin sekolah meski sebagian ruang kelas mengalami kerusakan berat dan tidak memiliki ruang kerja yang layak.

Kepala SMPN 8 Satap Woja, Khairuddin, di Dompu, Selasa, mengatakan dari enam ruang kelas yang tersedia, dua di antaranya mengalami kerusakan berat dan tidak layak digunakan.

"Untuk menutupi kekurangan ruang, kami terpaksa menyulap laboratorium dan perpustakaan menjadi ruang belajar. Ruang guru pun tidak ada, sementara ruang kepala sekolah digabung dengan ruang kepala perpustakaan," katanya.

Ia menjelaskan, kondisi terparah terjadi pada ruang kelas IX yang atap dan plafonnya rusak berat. "Kalau musim hujan, semua guru dan beberapa siswa berkumpul di ruangan saya karena bocor di mana-mana," ujarnya.

Baca juga: Rusak parah, Bangunan sekolah satu atap di Lombok Timur ambruk

Meski kondisi sarana terbatas, jumlah siswa di sekolah tersebut terus meningkat. "Sejak tahun 2022, jumlah siswa kami bertambah. Kelas VII kini mencapai 37 orang, kelas VIII sebanyak 31 orang, dan kelas IX berjumlah 20 orang," katanya.

Menurut dia, ada empat sekolah dasar di sekitar Desa Riwo yang menjadi penyokong utama SMPN 8 Satap Woja.

"Sebelum kami bertugas di sini, sekolah ini kurang diminati karena fasilitasnya sangat terbatas. Tapi perlahan kami ubah stigma itu dengan dukungan para guru dan warga sekitar," ujarnya menambahkan.

Selain kekurangan ruang belajar, sekolah tersebut juga belum memiliki fasilitas olahraga, jaringan internet, pagar yang layak, laboratorium lengkap, maupun toilet memadai. Meski demikian, para guru dan siswa tetap aktif mengikuti berbagai lomba di tingkat kabupaten seperti kepramukaan, gerak jalan, dan futsal.

Pihak sekolah, lanjut Khairuddin, sudah berulang kali melaporkan kondisi bangunan ke Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dikpora) Kabupaten Dompu, baik melalui sistem Dapodik maupun koordinasi langsung.

"Bahkan Kadis dan Kabid pernah melihat langsung kondisi sekolah kami yang atapnya hampir terbang karena angin. Mereka kaget melihat ruang kelas yang tidak layak," katanya.

Baca juga: Ruang kelas rusak, Proses belajar di SDN 4 Jurit Baru Lombok Timur terganggu

Ia menambahkan, pihak dinas berjanji akan membangun ruang kelas baru pada tahun 2026.

"Mudah-mudahan bukan sekadar janji, karena kebutuhan kami sudah sangat mendesak," ucapnya.

Sebagai bentuk dukungan terhadap keberlangsungan aktivitas sekolah, warga sekolah berinisiatif menggelar kegiatan jariyah seperti sedekah sumur, pembangunan pagar, lapangan olahraga, hingga penyediaan jaringan internet.

"Kami menyisihkan anggaran pribadi secara swadaya agar kegiatan belajar tetap berjalan dan sekolah nyaman," tutur Khairuddin.

Baca juga: Pemkab Lombok Timur siapkan dana Rp1 miliar untuk renovasi SDN Batuyang

Pantauan ANTARA di lokasi menunjukkan kondisi sekolah di Desa Riwo, salah satu wilayah terluar Kecamatan Woja, tampak memprihatinkan. Pagar depan hanya terbuat dari lembaran seng, sementara pagar belakang menggunakan kawat berduri yang sudah lapuk.

Dua ruang belajar tampak rusak berat dengan atap jebol, plafon runtuh, dan lantai terkelupas hingga menyentuh tanah urug. Dua ruang lainnya yang digunakan untuk kegiatan belajar juga tidak memiliki plafon serta bocor ketika hujan turun.

Sejumlah guru terlihat menyiapkan bahan ajar di emperan dan kantin sekolah. Tanpa sungkan, mereka tetap bersemangat menjalankan profesinya dengan memanfaatkan peralatan seadanya, mulai dari lantai, kardus bekas, hingga bangku yang sudah reyot untuk menyimpan alat kerja.

Baca juga: Sekolah di Lombok Timur rusak akibat cuaca ekstrem



Pewarta :
Editor: Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026