Mataram (ANTARA) - Penanganan narkotika di Nusa Tenggara Barat (NTB) sepanjang 2025 memperlihatkan satu kenyataan penting, yakni persoalan ini belum menemukan ujung.
Data penindakan yang dirilis aparat penegak hukum menunjukkan angka pengungkapan yang tinggi, sekaligus menegaskan bahwa peredaran narkoba tetap hidup dan adaptif di tengah dinamika sosial masyarakat.
Sepanjang 1 Januari hingga 28 Desember 2025, aparat kepolisian mengungkap lebih dari seribu kasus narkotika dengan ribuan tersangka. Barang bukti yang disita pun mencakup beragam jenis, mulai dari sabu dalam jumlah belasan kilogram, puluhan kilogram ganja, ratusan butir ekstasi, hingga obat keras dan narkotika jenis baru.
Angka-angka ini bukan sekadar statistik kriminal, melainkan cermin dari jaringan peredaran yang lentur, menyebar, dan terus mencari celah.
Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, tren peredaran narkoba belum menunjukkan penurunan signifikan.
Pergeseran pola justru terlihat pada variasi modus, jalur distribusi, dan lokasi sasaran. Dari kawasan permukiman hingga wilayah wisata dan pintu-pintu transportasi, narkotika hadir tanpa mengenal batas ruang dan waktu.
Fakta ini memperkuat kesimpulan bahwa narkoba bukan lagi persoalan pinggiran, melainkan masalah struktural yang merasuk ke berbagai lapisan masyarakat.
Keberhasilan penindakan aparat patut diapresiasi. Operasi terpusat, penguatan patroli, hingga penempatan unit khusus di titik strategis menjelang momentum libur panjang menunjukkan respons adaptif terhadap situasi lapangan.
Namun, keberhasilan tersebut sekaligus mengajukan pertanyaan mendasar, yakni sejauh mana penindakan mampu memutus mata rantai distribusi secara menyeluruh?
Banyak kasus menunjukkan keterlibatan jaringan lintas provinsi dan lintas negara. Hal ini menandakan bahwa daerah bukan hanya berfungsi sebagai wilayah transit, tetapi juga pasar aktif.
Selama permintaan tetap tinggi, pasokan akan selalu menemukan jalannya. Dalam konteks ini, pendekatan represif semata tidak akan pernah cukup.
Persoalan narkoba berkelindan dengan faktor sosial, ekonomi, dan psikologis. Ketimpangan akses pendidikan, keterbatasan lapangan kerja, tekanan hidup, serta lemahnya daya tahan keluarga menjadi lahan subur bagi penyalahgunaan narkotika.
Penjara sering kali hanya menjadi ruang jeda, bukan solusi akhir. Fakta adanya residivis menegaskan bahwa hukuman pidana tanpa rehabilitasi dan pendampingan berkelanjutan belum menyentuh akar masalah.
Karena itu, kebijakan penanganan narkoba harus bergerak melampaui logika penindakan. Pencegahan berbasis komunitas, edukasi yang konsisten, penguatan keluarga, serta rehabilitasi medis dan psikososial perlu ditempatkan sebagai pilar utama.
Pendekatan restoratif bukan bentuk kelonggaran hukum, melainkan investasi jangka panjang untuk menyelamatkan sumber daya manusia.
Integrasi data lintas sektor juga menjadi kunci. Koordinasi antara kepolisian, Badan Narkotika Nasional, dinas kesehatan, pendidikan, dan lembaga sosial harus dirancang sebagai satu kesatuan kebijakan.
Tanpa peta masalah yang utuh, upaya yang dilakukan akan terus bersifat parsial dan reaktif.
Penanganan narkoba sepanjang 2025 menunjukkan kerja keras aparat di garis depan. Namun capaian itu seharusnya tidak membuat publik terlena. Justru sebaliknya, ia menjadi alarm kolektif bahwa perang melawan narkoba adalah perjuangan panjang yang menuntut keterlibatan semua pihak.
Narkoba bukan hanya musuh hukum, tetapi ancaman terhadap martabat sosial dan masa depan generasi.
Ketika penindakan, pencegahan, dan rehabilitasi berjalan beriringan, harapan untuk membangun masyarakat yang lebih sehat dan berdaya bukanlah sekadar wacana, melainkan tujuan yang dapat dicapai bersama.
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Menata arah NTB menuju 2026
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Cuaca tak berpola menguji NTB
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Rinjani dan Tambora butuh jeda
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Menakar siaga bencana NTB di musim libur
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Langit NTB tak lagi longgar
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Libur panjang, Pelayanan publik NTB dipertaruhkan
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Jejak liburan dan janji wisata NTB
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - NTB dan ujian upah layak
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Ujian meritokrasi dalam pemilihan Sekda NTB
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Menata agromaritim NTB