Tajuk ANTARA NTB - Menakar siaga bencana NTB di musim libur

id Tajuk ANTARA NTB,siaga bencana ,NTB,musim libur,tahun baru Oleh Abdul Hakim

Tajuk ANTARA NTB - Menakar siaga bencana NTB di musim libur

Tampak luapan banjir sekitar 60 sentimeter di dekat pemukiman warga Desa Kore, Kecamatan Sanggar, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, Senin (11/11/2025). ANTARA/BPBD Kabupaten Bima. (1)

Mataram (ANTARA) - Libur Natal dan Tahun Baru selalu membawa dua arus besar yang berjalan beriringan, yakni kegembiraan masyarakat yang merayakan waktu luang dan kewaspadaan negara yang bersiap menghadapi risiko.

Di Nusa Tenggara Barat (NTB), akhir tahun bukan sekadar soal pariwisata dan mobilitas, melainkan juga tentang bagaimana negara hadir ketika alam menunjukkan sisi paling tak terduganya.

Musim hujan 2025–2026 datang bersamaan dengan puncak liburan. Curah hujan meningkat, angin menguat, gelombang meninggi, dan potensi bencana hidrometeorologi membentang dari wilayah pegunungan hingga pesisir.

Dalam situasi ini, kesiapsiagaan bukan lagi slogan tahunan, tetapi kebutuhan nyata yang menyentuh keselamatan warga dan wisatawan.

Secara geografis, NTB berada di kawasan yang rentan. Pegunungan, daerah aliran sungai, kawasan pesisir, hingga zona pariwisata yang padat pengunjung menjadikan risiko bencana semakin kompleks.

Libur panjang memperbesar tantangan tersebut, karena kepadatan penduduk di titik-titik tertentu dapat melonjak drastis hanya dalam hitungan hari.

Tema kebencanaan paling aktual di NTB saat libur akhir tahun adalah meningkatnya risiko cuaca ekstrem dengan pola yang kian sulit diprediksi. Aktivitas fenomena atmosfer seperti Madden-Julian Oscillation, gelombang Kelvin, dan sirkulasi siklonik di selatan Indonesia berkontribusi pada hujan lebat dan angin kencang. Bencana tidak lagi hadir dengan pola lama.

Longsor mulai bergeser ke wilayah yang sebelumnya relatif aman akibat alih fungsi lahan, sementara banjir tidak hanya terjadi di hulu, tetapi juga di kawasan perkotaan dan pesisir.

Kondisi ini menandai pergeseran risiko dari bencana alam murni menuju bencana ekologis. Drainase yang tersumbat sampah, berkurangnya tutupan vegetasi, dan pembangunan yang mengabaikan daya dukung lingkungan memperbesar dampak cuaca ekstrem. Ketika hujan turun deras, air kehilangan ruang untuk meresap dan mencari jalan tercepat menuju permukiman.

Menghadapi situasi tersebut, kesiapsiagaan di NTB relatif menunjukkan pergerakan positif. Penetapan status siaga, pembentukan posko 24 jam, serta pengerahan personel lintas instansi menjadi fondasi penting respons cepat.

Namun, kesiapsiagaan modern tidak cukup berhenti pada apel dan kehadiran fisik aparat. Tantangan sesungguhnya terletak pada koordinasi lintas wilayah dan lintas sektor, karena bencana tidak mengenal batas administrasi.

Kesiapan destinasi wisata juga menjadi ujian tersendiri. Kawasan dengan konsentrasi pengunjung tinggi membutuhkan skenario evakuasi yang jelas, sistem peringatan dini yang berfungsi, serta infrastruktur darurat yang siap digunakan. Rencana kontingensi harus menjadi panduan operasional yang dipahami bersama, bukan sekadar dokumen administratif.

Di luar peran negara, masyarakat tetap menjadi garda terdepan mitigasi bencana. Pengalaman panjang NTB menghadapi bencana besar seharusnya menjadi modal sosial untuk membangun budaya siaga.

Edukasi kebencanaan, latihan berkala, serta perhatian pada kelompok rentan menjadi kunci agar kesiapsiagaan bersifat inklusif dan berkelanjutan.

Tajuk ini menegaskan bahwa antisipasi bencana di NTB saat libur akhir tahun telah bergerak ke arah yang lebih terstruktur, namun masih menyisakan pekerjaan besar.

Ke depan, kebijakan kebencanaan harus lebih berani bergeser dari sekadar respons menuju pencegahan. Penataan ruang yang konsisten, pengendalian alih fungsi lahan, dan penegakan aturan lingkungan adalah prasyarat mutlak.

Libur akhir tahun akan selalu datang. Pertanyaannya bukan lagi apakah bencana akan terjadi, melainkan seberapa siap kita mengurangi risikonya.

Di penghujung tahun, kesiapsiagaan menjadi cermin kedewasaan kolektif dan kualitas pelayanan publik. Apakah negara hadir sebelum risiko berubah menjadi petaka?.

Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Langit NTB tak lagi longgar
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Libur panjang, Pelayanan publik NTB dipertaruhkan
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Jejak liburan dan janji wisata NTB
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - NTB dan ujian upah layak
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Ujian meritokrasi dalam pemilihan Sekda NTB
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Menata agromaritim NTB
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Menata kemandirian listrik NTB
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Kampung nelayan NTB: Antara proyek dan keberpihakan
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Surfing NTB: Lebih dari sekadar event
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Ketika hutan Sumbawa tak lagi terjaga



COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.