Mataram (ANTARA) - Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), melakukan penanganan terhadap kayu pascabencana banjir di Sungai Jangkuk Mataram.

"Kayu-kayu yang kami tangani itu ada yang terbawa arus banjir dan ada juga pohon yang tumbang ke sungai," kata Kepala Dinas PUPR Kota Mataram Lale Widiahning di Mataram, Senin.

Ia mengatakan penanganan kayu pascabanjir tersebut dilakukan oleh petugas harian lepas wilayah sungai, dengan menggunakan berbagai peralatan dan alat berat untuk mengangkat kayu dari sungai.

Setelah petugas memotong kayu menjadi potongan yang lebih kecil, lanjutnya, kayu kemudian diangkat menggunakan kendaraan alat berat agar proses evakuasi lebih cepat.

Menurutnya, jika dibiarkan, kayu-kayu itu bisa menghambat aliran sungai dan berpotensi memicu banjir ketika terjadi hujan deras dengan intensitas lama.

"Karena itulah kayu-kayu itu harus segera kami evakuasi agar sungai bisa berfungsi maksimal," katanya.

Baca juga: Lumpur pascabanjir menumpuk, Damkar Mataram turun bersihkan jalan

Lale mengatakan,peningkatan debit air Sungai Jangkuk mencapai puncaknya yakni hingga 250 centimeter pada Kamis (22/1) malam, memicu terjadi luapan ke jalan dan permukiman warga pada beberapa titik di Daerah Aliran Sungai (DAS) Jangkuk.

Plt Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram Akhamd Muzaki sebelumnya mengatakan banjir yang melanda Kota Mataram pada 22 Januari 2026 murni dipicu karena intensitas hujan lebat dan merata dari hulu, sehingga menyebabkan Sungai Jangkuk meluap hingga permukiman penduduk.

"Warga yang terdampak banjir akibat luapan Sungai Jangkuk, kami prediksi mencapai ratusan. Untuk angka pasti, kami masih data dan tunggu laporan dari kelurahan," katanya.

Ketinggian banjir tersebut bervariasi di setiap lokasi, sekitar 30 hingga 50 centimeter di Kelurahan Dasan Agung dan Pejeruk Ampenan, serta  ada juga yang mencapai satu meter seperti di Lingkungan Kebon Lelang Ampenan dan Rungkang Jangkuk Sayang-Sayang.

Baca juga: Banjir rob terjang Ampenan, Pemprov NTB dan Pemkot Mataram siapkan relokasi warga

Bahkan informasi sementara untuk korban di Sayang-Sayang ada yang mengungsi dua Kepala Keluarga (KK), karena rumah mereka terendam banjir.

"Namun demikian sekitar 2 jam setelah terjadi luapan air sungai mulai surut secara berangsur hingga sekitar satu meter," katanya.

Muzaki tetap mengimbau masyarakat untuk terus waspada terhadap perubahan cuaca, karena potensi cuaca ekstrem berupa hujan deras disertai petir, angin kencang, dan gelombang pasang masih berpotensi.

"Kendati prediksi dari BMKG cuaca ekstrem akan terjadi sampai hari ini (26 Januari 2026), masyarakat harus terus waspada," katanya.

Baca juga: Banjir Mataram, Dinkes turunkan tim gerak cepat cek kesehatan warga
Baca juga: Luapan Sungai Jangkuk Mataram terjang permukiman, BPBD turun data rumah warga

Baca juga: Dinkes jemput bola layani warga Mataram terdampak cuaca ekstrem



Pewarta :
Editor: Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026