Mataram (ANTARA) - Badan Riset dan Inovasi Daerah Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, melakukan kajian komprehensif terhadap pengembangan kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Jangkuk sebagai potensi wisata dan ekonomi.
Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Kota Mataram I Nyoman Swandiasa di Mataram, Senin, mengatakan, langkah itu dilakukan untuk mengubah wajah sungai yang selama ini identik dengan persoalan lingkungan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru.
"Kajian yang kami lakukan tidak hanya berfokus pada penanganan masalah klasik seperti banjir tahunan, luapan air laut (rob), dan kekumuhan di bantaran sungai, tetapi juga memetakan potensi besar yang belum tergarap," katanya.
Potensi DAS Jangkuk yang dimaksudkan antara lain bisa menjadi kawasan wisata dan pengembangan ekonomi melalui usaha mikro kecil menengah (UMKM).
Baca juga: Antisipasi banjir susulan, Kayu tumbang di Sungai Jangkuk Mataram diangkat
Berdasarkan hasil "teropong" kajian tersebut, DAS Jangkuk dinilai memiliki nilai jual tinggi untuk sektor pariwisata dan pemberdayaan masyarakat.
Beberapa poin pengembangan antara lain, destinasi wisata air melalui konsep wisata "river tubing" atau wisata susur sungai seperti yang telah sukses diterapkan di daerah lain.
Selain itu, pemberdayaan UMKM dengan menciptakan ruang bagi pelaku usaha lokal di sepanjang pinggiran sungai yang dapat mendukung peningkatan pendapatan asli daerah (PAD).
Di samping itu, DAS Jangkuk dapat dikembangkan menjadi ruang terbuka hijau (RTH) dengan pembangunan taman kota yang terintegrasi.
"Kondisi itu bisa berkaca pada kesuksesan penataan Sungai Brantas di Surabaya dan penataan sungai di Bali serta Yogyakarta," katanya.
Baca juga: Luapan Sungai Jangkuk Mataram terjang permukiman, BPBD turun data rumah warga
Karena itu, saat ini pihaknya telah melakukan pemetakan titik-titik strategis dari hulu hingga muara Jangkuk yang dinilai potensial untuk dikembangkan.
Salah satu contoh nyata yang sudah mulai berjalan penataan di daerah Sukaraja, Ampenan, dengan adanya Taman Bako (Bawak Koko atau bawah kali), dan ada juga yang sedang dirintis di Lingkungan Marong Karang Tatah.
Swandiasa mengatakan, hasil kajian itu sudah ada dan akan menjadi dokumen perencanaan yang komprehensif bagi organisasi perangkat daerah (OPD) terkait maupun pemerintah daerah dalam mengambil kebijakan ke depan.
"Kami berharap, konsep penataan itu dapat mengubah perilaku masyarakat dalam menjaga kebersihan sungai sekaligus memberikan dampak ekonomi langsung bagi warga di sekitar bantaran DAS Jangkuk," katanya.
Baca juga: Dinas PUPR NTB tuntas tangani longsor di pinggir Sungai Jangkuk
Baca juga: BWS dan PUPR pasang tanggul darurat tangani longsor Sungai Jangkuk
Pewarta : Nirkomala
Editor:
Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026