Mataram (ANTARA) - Perluasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Regional Kebon Kongok menegaskan satu fakta mendasar, yakni pengelolaan sampah di Nusa Tenggara Barat (NTB) masih berada dalam situasi rapuh dan reaktif.
Ketika ritasi pengangkutan dibatasi dan daya tampung menipis, dampaknya segera terasa di ruang publik. Tempat penampungan sementara meluap, pengangkutan tersendat, dan keresahan warga meningkat.
Dalam kondisi seperti itu, pemerintah daerah memilih opsi paling mungkin dilakukan, yakni memperluas landfill sebagai solusi jangka pendek.
Keputusan tersebut dapat dipahami dari sudut pandang pelayanan publik. Sampah adalah layanan dasar yang tidak boleh berhenti.
Tambahan lahan di Kebon Kongok memberi ruang bernapas sementara, mencegah krisis yang lebih luas di Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat.
Namun, di balik rasionalitas langkah darurat itu, tersimpan persoalan struktural yang tidak boleh diabaikan.
Landfill, betapapun diperluas, memiliki batas umur. Setiap penambahan lahan justru memulai hitungan mundur baru.
Sejarah Kebon Kongok menunjukkan pola berulang, yakni sampah terus datang setiap hari dalam jumlah ratusan ton, sementara inovasi dan perubahan sistem berjalan lebih lambat.
Sejak beroperasi pada awal 1990-an, persoalan utama tidak pernah benar-benar tuntas, hanya bergeser dari satu fase ke fase berikutnya.
Di sinilah tajuk ini menempatkan kritik secara proporsional. Perluasan TPA bukanlah kesalahan, tetapi ia tidak boleh menjadi jawaban tunggal.
Jika fokus pengelolaan tetap bertumpu di hilir, krisis serupa hanya tinggal menunggu waktu. Kota tampak bersih sementara, tetapi beban lingkungan terus menumpuk tanpa solusi mendasar.
Pengalaman banyak daerah di Indonesia memperlihatkan bahwa kolapsnya TPA regional jarang disebabkan ketiadaan teknologi semata. Penyebab utamanya adalah lemahnya pengelolaan di hulu.
Pemilahan sampah dari sumber berjalan lambat, pengurangan konsumsi plastik belum menjadi kebiasaan, dan edukasi publik sering kalah oleh budaya buang cepat dan praktis.
Rencana jangka panjang melalui pengolahan sampah menjadi energi menawarkan harapan, tetapi tidak boleh diposisikan sebagai obat mujarab.
Teknologi waste to energy menuntut prasyarat kuat, yakni kualitas pemilahan, kontinuitas pasokan, kepastian pembiayaan, serta penerimaan sosial. Tanpa itu, fasilitas mahal berisiko menjadi proyek gagal yang membebani anggaran.
Karena itu, pergeseran strategi ke hulu menjadi keniscayaan. Pemilahan dari rumah tangga bukan sekadar program teknis, melainkan perubahan budaya. Ketika sampah organik dan anorganik dipisahkan sejak awal, beban landfill dapat ditekan secara signifikan.
Penguatan tempat pengolahan sampah terpadu dan inisiatif insinerator skala terbatas di Mataram patut dilihat sebagai fondasi awal, meski kontribusinya masih terbatas.
Sebagai TPA regional, Kebon Kongok juga menuntut kolaborasi antarpemerintah daerah yang konsisten. Pembagian biaya dan tanggung jawab antara provinsi, kota, dan kabupaten harus berjalan berkelanjutan, bukan sekadar respons sesaat saat krisis muncul.
Perluasan Kebon Kongok hari ini adalah jembatan, bukan tujuan akhir. Masa depan pengelolaan sampah NTB ditentukan oleh pilihan kebijakan saat ini.
Apakah krisis ini kembali menjadi siklus berulang, atau justru titik balik menuju sistem pengelolaan sampah yang lebih bersih, adil, dan berkelanjutan. Sampah, pada akhirnya, adalah cermin keseriusan merawat ruang hidup bersama.
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Ketika bukit dikeruk, banjir menagih Sekotong
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Lobster NTB: Kaya benih, miskin nilai
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Hiu Paus: Titik uji konservasi NTB
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Amahami dan Gili Gede, Reklamasi dan krisis tata kelola
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Broken Strings dan sunyi perempuan di NTB
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Banjir NTB dan sungai yang menagih jawaban
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Tambang ilegal Sekotong dan ujian wibawa Negara
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - NTB di pusaran imigran ilegal
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Misri dan ujian keadilan di Gili Trawangan
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Menakar diplomasi NTB di panggung global
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Sukardi dan taruhan masa depan Unram
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Demosi dan ujian birokrasi NTB
COPYRIGHT © ANTARA 2026