Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN mengatakan pernikahan di usia matang dapat mendukung masa depan keluarga yang lebih produktif, karena memberikan peluang investasi pada pendidikan dan pekerjaan lebih baik.
"Ketika individu menikah pada usia yang lebih matang, mereka biasanya memiliki pendidikan lebih tinggi dan pekerjaan yang lebih stabil. Rumah tangga seperti ini cenderung lebih produktif, mampu menabung dan berinvestasi," kata Sekretaris Kemendukbangga/BKKBN Budi Setiyono saat dihubungi di Jakarta, Rabu.
Ia menegaskan ketika pasangan menikah di usia matang dan memutuskan untuk membesarkan anak, generasi selanjutnya itu bisa mendapatkan kesempatan yang lebih baik dari segi pengasuhan dan pendidikan.
"Anak-anak mereka juga lebih berpotensi mendapatkan pengasuhan dan pendidikan yang baik. Dalam skala besar, hal ini meningkatkan kapasitas investasi, daya beli masyarakat, memperkuat basis pajak, dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," paparnya.
Budi mengemukakan penting untuk melihat isu tentang nikah muda dari sudut pandang demografi, karena pernikahan tidak bisa hanya dilihat sebagai peristiwa sosial, tetapi juga sebagai faktor yang dapat mempengaruhi struktur penduduk, kesehatan, pendidikan, dan ekonomi.
Baca juga: Pemerintah memperkuat kebijakan lansia sikapi "aging population"
"Nikah muda dapat berdampak langsung pada kualitas sumber daya manusia, karena sering terjadi pada usia ketika individu belum matang secara fisik, mental, dan sosial. Jika praktik ini meluas, dampaknya tidak hanya mempengaruhi individu, tetapi juga masyarakat dan negara, terutama dalam konteks pembangunan jangka panjang," tuturnya.
Menurutnya, bonus demografi dapat dicapai ketika jumlah penduduk usia produktif lebih besar dibandingkan usia nonproduktif. Kondisi ini hanya menguntungkan jika penduduk usia produktif tersebut sehat, terdidik, dan produktif.
Baca juga: Presiden Prabowo berikan bantuan motor penyuluh dukung distribusi MBG
"Nikah muda berpotensi mengurangi manfaat bonus demografi, karena remaja yang seharusnya fokus pada pendidikan dan peningkatan kompetensi justru terjebak dalam fase keterbatasan ekonomi dan sosial. Jika ini terjadi secara masif, bonus demografi bisa berubah menjadi beban demografi," ucap Budi.