Jakarta (ANTARA) - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyampaikan bauran energi baru dan terbarukan untuk sektor ketenagalistrikan telah mencapai 16,3 persen, melampaui target yang ditetapkan dalam Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) sebesar 15,9 persen.
“Kalau khusus di ketenagalistrikan, itu (bauran EBT) tercapai 16,3 persen. Itu di atas RUKN yang hanya menargetkan 15,9 persen,” ujar Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi ketika ditemui setelah Konferensi Pers Capaian Kinerja Sektor ESDM Tahun 2025 yang digelar di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis.
Akan tetapi, apabila dihitung bauran energi secara keseluruhan yang meliputi penerapan biodiesel dan lain-lain, bauran EBT-nya sebesar 15,75 persen. Angka tersebut naik 1,1 persen apabila dibandingkan dengan bauran EBT pada 2024 yang sebesar 14,65 persen.
Eniya meyakini pada 2026, pelaksanaan Commercial Operation Date (COD) pembangkit EBT yang meliputi PLTA Merangin, PLTA Batang Toru, dan lain-lainnya dapat mendongkrak bauran EBT Indonesia.
“Itu nanti pasti mendongkrak jadi 16 sekian, target di renstra itu 17 (persen),” ucap Eniya.
Baca juga: Pemerintah optimalkan PLTS guna mewujudkan target swasembada energi
Secara terpisah, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan penambahan bauran EBT sepanjang 2025 sebenarnya cukup besar. Capaian total kapasitas pembangkit terpasang EBT sampai dengan Desember 2025 tercatat sebesar 15.630 MW.
Tambahan kapasitas pembangkit EBT tersebut merupakan yang terbesar selama 5 tahun terakhir.
Baca juga: Menteri LH sebut pencampuran etanol bisa kurangi kandungan sulfur tinggi BBM
“Sebenarnya penambahan EBT ini cukup besar di tahun 2025, tetapi kalau dikonversi menjadi turun persentasenya karena ada penambahan (pembangkit) dari gas dan batu bara,” ucap Bahlil.
Bahlil dalam kesempatan tersebut memaparkan terdapat tambahan kapasitas terpasang pembangkit sebesar 7 GW sepanjang 2025, dari 100,65 GW menjadi 107,51 GW. Dari 7 GW yang terpasang, pembangkit yang menggunakan energi fosil seperti batu bara dan gas masih mendominasi.
“Tumbuh 6,8 persen dibandingkan dengan tahun 2024. Dalam analisa kami di tahun 2026, kita harus genjot karena seiring dengan peningkatan pertumbuhan ekonomi,” kata Bahlil.