Relawan MDMC hadirkan layanan kesehatan dan psikososial di daerah terisolir Aceh Timur

id Relawan Muhammadiyah, MDMC, Korban Terdampak Banjir Aceh

Relawan MDMC hadirkan layanan kesehatan dan psikososial di daerah terisolir Aceh Timur

Tim Medis MDMC menangani warga sakit di hunian darurat wilayah terisolir Desa Alue Ie Mirah, Kecamatan Indra Makmu, Aceh Timur, sebagai wujud kepedulian kemanusiaan pascabencana banjir, Minggu (11/1/2026). ANTARA/HO-Dok. MDMC Kabupaten Bima

Bima (ANTARA) -

Relawan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) menghadirkan layanan kesehatan dan psikososial bagi masyarakat terdampak banjir di sejumlah wilayah terisolir Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh.

Melalui Tim Emergency Medical Team (EMT) dan Tim Psikososial, MDMC menjangkau desa-desa yang selama berbulan-bulan sulit diakses dan minim layanan kesehatan. Aksi kemanusiaan tersebut dimulai sejak Sabtu (9/1) dengan Desa Alue Ie Mirah, Kecamatan Indra Makmu, sebagai pos sentral relawan MDMC.

Dari posko tersebut, tim kesehatan dan psikososial memberikan pelayanan secara berkelanjutan, baik melalui pos layanan tetap maupun layanan kesehatan bergerak ke wilayah-wilayah terpencil.

"Tercatat lebih dari 700 warga menerima layanan kesehatan dan pendampingan psikososial," kata Ketua Tim Medis MDMC dr. M. Irfan Rizaldy dalam keterangan tertulis yang diterima ANTARA di Bima, Rabu.

Tim Medis MDMC yang bertugas di Aceh Timur berjumlah sembilan orang, terdiri atas tenaga kesehatan lintas keahlian guna memastikan layanan berjalan secara komprehensif.

"Tim ini didukung satu dokter spesialis kulit, dua dokter umum, empat perawat profesional, satu penata anestesi, serta dua apoteker. Seluruh personel berasal dari berbagai amal usaha dan institusi Muhammadiyah, seperti RS PKU Muhammadiyah Sleman, RS AMC, PKU Bantul, dan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, dengan masa tugas selama 15 hari," ujarnya.

Baca juga: Ratusan kayu banjir siap dipakai warga Aceh dan Sumut

Ia menjelaskan, tantangan berat dihadapi relawan MDMC saat menembus Dusun Peulalu, Desa Blang Seunong, Kecamatan Pante Bidari, yang hingga kini masih tergolong wilayah terisolir.

"Untuk mencapai Dusun Peulalu, tim harus menempuh perjalanan sekitar empat jam menggunakan kendaraan roda empat gardan ganda, dilanjutkan dengan motor trail, lalu berjalan kaki sekitar satu jam. Medannya berat, berlumpur, dan beberapa titik nyaris tidak bisa dilalui. Namun masyarakat di sana sangat membutuhkan layanan kesehatan," kata dr. Irfan yang juga berasal dari RS PKU Muhammadiyah Sleman.

Di dusun tersebut, sekitar 50 kepala keluarga masih bertahan di hunian darurat akibat rumah rusak parah pascabencana. Selama lebih dari satu bulan, warga belum mendapatkan layanan medis yang memadai.

"Kehadiran MDMC menjadi harapan baru. Sebanyak 63 warga berhasil dilayani, termasuk penanganan kasus dehidrasi berat menggunakan infus, serta seorang lansia berusia lebih dari 100 tahun yang hanya bisa terbaring lemah di tempat tidur," ujarnya.

Selain layanan kesehatan fisik, relawan MDMC juga memberikan layanan psikososial untuk membantu pemulihan mental dan emosional masyarakat terdampak bencana.

"Anak-anak, lansia, dan warga yang mengalami tekanan psikologis mendapat pendampingan agar kembali memiliki semangat dan ketahanan dalam menghadapi kondisi pascabencana," kata dr. Irfan.

Camat Indra Makmu, Irwansyah Panjaitan, menyampaikan apresiasi dan rasa haru atas kehadiran relawan MDMC di wilayahnya.

"Kami sangat bersyukur dan terharu. Kehadiran MDMC benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, khususnya di wilayah terisolir," ujarnya.

Baca juga: Menkeu Purbaya mendukung diskon tarif listrik untuk korban bencana di Sumatera

Sementara itu, Keuchik Desa Alue Ie Mirah, Romi Syahputra, menyampaikan terima kasih atas dedikasi MDMC yang telah menjadikan desanya sebagai pos sentral relawan.

"Atas nama pemerintah desa dan seluruh warga, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Relawan MDMC hadir sebagai penolong sekaligus saudara di tengah musibah," katanya.

Sebagai bentuk komitmen keberlanjutan layanan, MDMC merencanakan pergantian tim medis pada 19 Januari 2026 agar pelayanan kesehatan dan psikososial dapat terus berjalan optimal hingga kondisi masyarakat terdampak benar-benar pulih.

Aksi kemanusiaan relawan Muhammadiyah di Aceh Timur tersebut, menjadi bukti bahwa semangat kemanusiaan, keikhlasan, dan gotong royong terus hidup, menembus keterisolasian demi memastikan tidak ada warga yang tertinggal dari layanan dan harapan.

Baca juga: Ekonom menilai bantuan tunai penting dalam tanggap darurat bencana
Baca juga: Piutang bermasalah di wilayah bencana Sumatera dan Aceh naik 0,60 persen

Pewarta :
Editor: Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.