Inspirasi lautan surya di kawasan gurun Abu Dhabi

id Masdar UEA,PLTS Al Dhafra,energi surya,PLTS Cirata Oleh Shofi Ayudiana

Inspirasi lautan surya di kawasan gurun Abu Dhabi

Arsip - Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Al Dhafra di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. ANTARA/HO-Masdar.

Abu Dhabi (ANTARA) - Dari kejauhan, kawasan gurun pasir Abu Dhabi tampak berkilau. Bukan oleh pasir atau fatamorgana, melainkan oleh hamparan panel surya yang membentang sejauh mata memandang.

Gurun pasir itu berubah menjadi “lautan surya” yang memantulkan cahaya di bawah matahari Timur Tengah.

Hamparan seluas sekitar 20 hingga 21 kilometer persegi ini dikenal sebagai pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) Al Dhafra, pembangkit listrik tenaga surya satu lokasi terbesar di dunia.

Al Dhafra terletak sekitar 35 kilometer dari pusat kota Abu Dhabi, berdiri di jantung kawasan yang selama puluhan tahun identik dengan minyak dan gas.

Pembangkit ini dibangun di atas hamparan gurun pasir yang telah direkayasa. Gurun yang tak lagi berbukit-bukit. Permukaannya diratakan, digantikan barisan panel surya yang tersusun rapi dan seragam.

Warna hitam kebiruan panel-panel tersebut kontras dengan pasir kekuningan di sekelilingnya, menciptakan lanskap baru yang tak lagi menyerupai gurun alami.

Di tengah keheningan, sesekali terdengar bunyi krekit-krekit yang halus.

Panel-panel itu bergerak perlahan, mengikuti arah matahari. Gerakannya nyaris tak terlihat, tapi cukup untuk menandai bahwa “lautan” ini hidup dan bekerja, menyesuaikan diri dengan lintasan cahaya sepanjang hari.

Matahari tetap menyengat, tetapi udara terasa lebih sejuk dari yang diperkirakan.

Musim dingin di Uni Emirat Arab membuat panas gurun tidak terlalu menekan, menghadirkan kontras yang unik: di tengah terik yang memantul dari kaca panel surya, hawa dingin justru menyertai langkah kaki.

Jika dilihat dari atas, hamparan panel surya ini benar-benar menyerupai lautan yang tenang-- bukan biru air, melainkan kilau kaca dan logam.

Cahaya matahari memantul serempak, menciptakan ilusi ombak yang tak pernah bergerak.

“Lautan” ini tersusun dari sekitar empat juta panel surya yang membentang di area seluas 20 hingga 21 kilometer persegi, dengan kapasitas 2,1 gigawatt (GW).

Hamparan panel surya di Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Al Dhafra di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, Senin (12/1/2026). (ANTARA/Shofi Ayudiana)

Al Dhafra mampu menghasilkan listrik yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sekitar 200 ribu rumah tangga di Uni Emirat Arab, sekaligus mengurangi emisi karbon hingga 2,4 juta ton per tahun.

Al Dhafra dikembangkan oleh perusahaan energi terbarukan UEA Masdar dan Abu Dhabi National Energy Company (TAQA) bersama mitra global lainnya.

Nama Masdar juga hadir di Indonesia melalui PLTS terapung di Waduk Cirata, Jawa Barat, proyek tenaga surya terbesar di Asia Tenggara saat ini dengan kapasitas 145 megawatt (MW).

PLTS terapung yang mulai beroperasi pada 2023 tersebut menghasilkan energi bersih yang cukup untuk memasok listrik bagi 50.000 rumah, sekaligus menurunkan emisi karbon hingga 214.000 ton per tahun. PLTS ini dibangun di atas area seluas 250 hektare di Waduk Cirata.

Pada April 2025, Masdar dan PLN kembali menandatangani perjanjian untuk memperluas kapasitas PLTS Terapung Cirata sebesar 500 MW.

Dibangun di atas permukaan air, Cirata menghadirkan pendekatan baru dalam pengembangan energi surya, tapi tetap berada dalam prinsip pengembangan energi surya yang sama.

Sementara Al Dhafra menghasilkan gigawatt, Cirata baru ratusan megawatt.

Meski kecil, proyek di Indonesia menunjukkan arah yang jelas: negara kepulauan tropis pun bisa mengembangkan energi surya dengan pendekatan inovatif.

Potensi Indonesia

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), kapasitas terpasang pembangkit listrik energi terbarukan Indonesia hingga 2025 mencapai 13,16 GW.

Kapasitas tersebut masih didominasi oleh Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) sebesar 7.487 MW, disusul bioenergi 3.148 MW, panas bumi 2.744 MW, serta tenaga angin 152 MW.

Di sisi lain, energi surya yang memiliki potensi terbesar—mencapai 3.300 GW—baru dimanfaatkan sebesar 1.494 MW hingga 2025.

Melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, pemerintah menargetkan penambahan kapasitas pembangkit listrik sebesar 69,5 GW, dengan sekitar 76 persen di antaranya berasal dari energi baru terbarukan (EBT).

Pengembangan EBT tersebut mencakup tenaga surya sebesar 17,1 GW, angin 7,2 GW, panas bumi 5,2 GW, hidro 11,7 GW, serta bioenergi 0,9 GW.

Indonesia juga sebenarnya memiliki potensi pengembangan PLTS terapung, yang dapat dibangun di atas danau dan bendungan di sekitar 325 lokasi di Indonesia.

Mengutip data jumlah bendungan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), PLTS terapung dapat dikembangkan di 259 lokasi bendungan dengan potensi kapasitas mencapai 14,7 GW.

Meski memiliki potensi tenaga surya yang besar, pengembangan PLTS di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan. Mulai dari keterbatasan lahan, persoalan pembiayaan, hingga kerangka regulasi dan kesiapan jaringan listrik.

Tantangan ini membuat pengembangan PLTS skala besar di Indonesia relatif berjalan lebih lambat dibandingkan potensi yang dimiliki.

Baca juga: Indonesia peringkat kedua potensi energi surya

Meski begitu, Indonesia tidak bisa menunda lagi untuk segera beralih ke energi bersih.

Biaya yang harus ditanggung jika kita terus bergantung pada energi fosil dan mengabaikan perubahan iklim akan jauh lebih besar daripada investasi untuk beralih ke energi bersih.

Untuk mewujudkan transisi energi, salah satu yang bisa dilakukan adalah pemerintahan harus dapat memastikan kelanjutan pembahasan Rancangan Undang-Undang Energi Baru dan Energi Terbarukan (EBET).

RUU EBET ini menjadi penting untuk mengisi kekosongan hukum terkait pengembangan EBT di Indonesia, penciptaan iklim investasi yang kondusif, pemanfaatan, pengembangan dan pengelolaan sumber EBT untuk pembangunan industri dan ekonomi nasional.

Harus diakui, transisi energi merupakan proses yang kompleks dan menuntut komitmen jangka panjang.

Baca juga: Investasi di NTB ditargetkan capai Rp68 triliun di 2026

Di satu sisi, pemerintah perlu memastikan akses energi yang terjangkau dan andal bagi seluruh masyarakat. Di sisi lain, upaya transisi energi harus terus digalakkan untuk mencapai target keberlanjutan lingkungan.

Jika gurun pasir Abu Dhabi bisa diubah menjadi lautan surya raksasa, Indonesia sejatinya memiliki peluang tak kalah besar.

Dengan sinar matahari sepanjang tahun dan wilayah yang masih luas untuk pengembangan, pertanyaannya bukan lagi apakah energi surya mungkin, melainkan seberapa cepat negeri ini bisa mengembangkan kapasitasnya?

Di Al Dhafra, gurun tidak lagi hanya menyimpan panas. Di kawasan yang selama puluhan tahun identik dengan minyak dan gas, Al Dhafra menawarkan narasi baru: bahwa gurun bukan hanya ruang kosong, melainkan sumber energi masa depan.

Dari sana, pantulan cahaya itu kini menular hingga ke Indonesia—masih lebih kecil, tapi bergerak ke arah yang sama, menandai langkah menuju masa depan energi bersih.



Editor: I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.