Mataram (ANTARA) - Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Nusa Tenggara Barat menargetkan angka realisasi investasi tahun 2026 mencapai sebesar Rp68 triliun sebagaimana tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah.

Kepala DPMPTSP Provinsi  NTB Irnadi Kusuma mengatakan ada lompatan target realisasi investasi dari Rp61 triliun pada 2025 menjadi Rp68 triliun pada 2026.

"Realisasi target besar ini membutuhkan dukungan nyata dari para investor," ujar Irnadi Kusuma di Mataram, Jumat.

Lompatan realisasi investasi butuh perubahan pendekatan lantaran selama ini struktur penanaman modal masih didominasi sektor tambang yang bersifat ekstraktif dan memiliki keterbatasan dalam hal keberlanjutan.

Baca juga: Membangun fondasi baru investasi daerah

Irnadi menyampaikan komitmen Pemerintah Provinsi NTB dalam mendorong masuknya investasi berkualitas terkhusus sektor energi terbarukan.

"Kami terus berupaya keluar dari ketergantungan pada sektor pertambangan dan mulai mengembangkan sektor-sektor alternatif yang berkelanjutan, salah satunya energi terbarukan," ucap Irnadi.

Prospek besar energi terbarukan di NTB terbilang besar dengan potensi sumber daya alam yang melimpah mulai dari radiasi matahari, air, angin, gelombang laut, hingga bioenergi.

Irnadi menuturkan energi terbarukan tidak hanya sejalan dengan agenda transisi energi nasional dan juga emisi karbon nol bersih, tetapi juga berpotensi menghadirkan investasi yang lebih berkualitas, ramah lingkungan, serta berdampak jangka panjang.

Baca juga: Peluang investasi energi bersih di NTB ditawarkan ke Inggris

Ia menegaskan, pihaknya selalu membuka ruang bagi pelaku usaha yang ingin berinvestasi di NTB sepanjang memenuhi prosedur, ketentuan perizinan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

"Di NTB tidak ada proses yang sulit, selama mekanisme dan tahapan dilalui dengan benar," pungkas Irnadi.

Sepanjang Januari sampai September 2025, DPMPTS NTB mencatat angka realisasi investasi sebesar Rp48,98 triliun atau setara 80,18 persen dari target yang ditetapkan pemerintah pusat untuk Nusa Tenggara Barat sebanyak Rp61,09 triliun.

Realisasi investasi tertinggi berada di Kabupaten Sumbawa Barat sebesar Rp36,3 triliun, lalu Kabupaten Lombok Tengah Rp5,5 triliun, dan Kota Mataram sebanyak Rp1,6 triliun.

Baca juga: Anak muda, investasi, dan masa depan NTB

Sektor penyumbang utama realisasi investasi Nusa Tenggara Barat adalah lapangan energi dan sumber daya mineral, lapangan usaha industri, serta lapangan usaha pariwisata dan ekonomi kreatif.

Berdasarkan laporan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) NTB, total potensi energi terbarukan mencapai 13.563 megawatt (MW) yang terdiri dari bioenergi 298 MW, sampah kota 32 MW, angin 2.605 MW dan tenaga surya 10.628 MW.

PLN Unit Induk Wilayah Nusa Tenggara Barat (UIW NTB) mencatat hingga akhir 2025, kontribusi energi baru terbarukan yang masuk dalam sistem kelistrikan NTB baru sekitar 5 persen atau 22 megawatt dari total daya mampu sebesar 400 megawatt.

Sumber energi terbarukan paling besar berasal dari pembangkit listrik tenaga surya atau PLTS yang terletak di Sengkol, Sambelia, Pringgabaya dan Gili Trawangan.

 

 



Pewarta :
Editor: Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026